Keluarga Alamanda

Icon

. cerita bunda . cerita keluarga mahayattika .

Mendidik dengan Bercerita

Kini, banyak anak yang mengidolakan Doraemon, Dora, Kapten Tsubasa hingga Spongbob. Televisi mengambil alih peran orang tua dan menjadi pencerita utamanya. Tak cemburu kah Anda?

Di negeri Cina, ada sebuah provinsi yang masyarakatnya masih sarat dan kental memegang nilai-nilai Islam. Padahal, mereka adalah minoritas di negaranya. Bagaimana hal itu bisa terjadi? Ternyata diketahui salah satu penyebabnya karena kaum ibu ditempat tersebut seringkali menceritakan kisah atau bercerita pada anak-anaknya. Kisah?

Ya, kisah. Setiap kali anak-anak akan beranjak tidur, para ibu dengan rutin menceritakan kisah para pejuang, tokoh-tokoh muslim pada anak-anak mereka. Hal ’kecil’ itu ternyata mampu membuat nila-nilai rabbaniah mengakar pada relung masyarakat agar selalu memegang nilai-nilai tersebut.

Lantas, bagaimana dengan Indonesia? Cerita-cerita rakyat pada umumnya sangat kentara dengan nilai-nilai syirik” ujar Wuntat Wawan Sembodo, S.Ag. seorang pencerita asal Yogya yang kerap diundang ke berbagai tempat untuk bercerita di depan anak-anak.

Tuhan Saja Berkisah

”Goyaaaang dombleeeet… goyaaaang dombleeeet” suara farah yang cadel melantukan sebuah lagu dangdut tempo dulu. Bunda tentu kaget bukan kepalang. Apalagi menyaksikan tubuh Farah bergoyang-goyang, seakan mengikuti irama nyanyiannya sendiri.

Selama ini Bunda merasa tidak pernah mengajarkan nyanyian semacam itu pada Farah. Kalaupun ngajak bernyanyi, tentu hanya dari dari film-film animasi islami yang Farah miliki. Selidik punya selidik ternyata beberapa tetanggalah yang mengajari anak berusia 4 tahun itu.

Mau main larang langsung, tak mungkin. Bunda paham, Farah termasuk anak yang sangat sensitif. Bukannya berhenti, ia justeru semakin menjadi dan penasaran bila dilarang tegas. Tring… serasa ada bohlam berpijar di atas kepala. Alhamdulillah…sini yuk. Bunda punya cerita. Mau dengar?”

***

Rupanya, sebagai seorang ibu, Bunda Farah sangat paham bahwa sangat mudah menerapkan nilai pada sang anak jika menggunakan metode bercerita. Berdasar pengalaman interaksi dengan anak, Wuntat menyimpulkan bahwa cerita biasanya akan lebih berkesan bagi anak dibanding lewat nasehat murni. Selain itu, lewat cerita, anak dapat mengambil hikmah tanpa kesan digurui.

Sebagian kita mungkin menganggap, metode berkisah hanya cocok bagi anak-anak. Padahal, kalau mo jujur, orang dewasa pun biasanya akan lebih tersentuh bila seorang da’i menyisipkan sebuah kisah dalam cermahnya.
dikutip dari : “Bercerita, sudahkah anda membiasakannya? “http://www.cybermq.com/index.php?auladi/detail/1/20/auladi-20.html
——
Wah.. kalo gitu harus punya banyak referensi cerita ya.. Benar, anak tuh jangan langsung dilarang, tapi dialihkan. Dan dalam mendidik anak, benar-benar harus hati-hati terhadap ucapan dan teladan kita. Alih-alih mau mengajarkan sesuatu, malah membuat anak tidak PD, introvet, dll. Karena anak ibarat spons, yang menyerap dengan cepat dan akan membekas menjadi nilai-nilai dasar dalam dirinya.

Filed under: Parenthink

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Aku dan dia

Kidzsmile Foundation

AIMI Jabar

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 7 other followers

Yang silaturahim

  • 66,921 hits
%d bloggers like this: