Keluarga Alamanda

Icon

. cerita bunda . cerita keluarga mahayattika .

Dilema Pertama

Hari ini Rapat perdana awal tahun di Bidang..

Agenda rapatnya, sangat berat dan menyangkut sesuatu yang sebenarnya sangat sensitif : anggaran (meliputi belanja dan honor). Bagaimana membagi dana dari sekian penelitian kepada sekian peneliti dengan azas proporsional dan daya serap yang sebesar-besarnya.

Aneh memang, honor yang akan kita terima, dibicarakan bersama dalam sebuah forum. Saling terbuka. Ada tawar-menawar, tukar-menukar proyek penelitian, titip-titip nama, hitung-hitungan jam meneliti (yang akan dikonversi dengan sejumlah rate honor tertentu berdasarkan posisi).

Jadi masing-masing peneliti pada awalnya akan ditetapkan akan ikut ke dalam penelitian yang mana dan sebagai apa posisinya di sana. Kemudian ditetapkan jumlah ‘jam’ yang dia gunakan setiap pekannya untuk meneliti. Jumlah jam tersebut akan dikonversi menjadi sejumlah uang. Kemudian disimulasikan berapa pendapatan perbulannya. Ternyata ada orang yang memperoleh honor yang tinggi, dan ada yang sangat rendah. Dan akhirnya di’akali’ bagaimana agar honor yang diterima bisa ‘proporsional’. Ada yang akhirnya dipindahkan proyek penelitiannya agar bisa mendapat ‘jam’ lebih besar, ada yang ditambahkan namanya di penelitian lain agar ada penghasilan tambahan (padahal belum tentu sesuai dengan bidangnya), dan banyak yang akhirnya diperbesar ‘jam’ penelitiannya sehingga mencapai jumlah jam maksimal yang diperbolehkan. Setelah semua optimal, dan masih tersisa ‘jam’ (artinya ada dana yang belum dialokasikan) maka ‘jam’ penelitian tersebut ditambahkan kepada orang-yang pada kenyataannya tidak bisa berkontribusi sebanyak jam yang disebutkan- untuk sekadar “numpang lewat”. Yang nantinya, dia akan menandatangani bukti penerimaan honor, tapi kemudian honor tersebut diberikan kepada Kas Bidang sebagai dana simpanan yang akan digunakan bila suatu saat perlu untuk membeli barang/alat. Karena dana yang tidak diambil/dikeluarkan, akan dikembalikan kepada negara (dari sini, lebih tidak jelas lagi kemana dana tersebut akan berakhir. Maka lebih baik dana tersebut dikeluarkan untuk kepentingan bersama).

Ada nilai yang bagus dari praktek seperti ini (mungkin). Adanya keterbukaan, ada mufakat, ada kebersamaan dan ada pelibatan. Sehingga semua merasa puas dengan hasil yang akan diterimanya. Karena tahu bagaimana perbandingan honor setiap orang. Dan masing-masing orang pun akhirnya memiliki frame “sama rata sama rasa”. Karena block grant yang diterimanya sebagai peneliti utama (penanggung jawab proyek) berkewajiban untuk mendistribusikan dana tersebut secara adil merata ke semua pihak. Termasuk orang-orang yang belum tentu terlibat langsung dengan penelitiannya. Sangat menyentuh, ketika PU tersebut ikut berjuang untuk memperbesar jumlah ‘jam’ seorang peneliti yang mungkin tidak akan banyak membantu di penelitiannya. Atau ketika dia dengan legowo menerima ‘titipan’ belanja bidang masuk ke dalam anggaran penelitiannya, sehingga dana Bidang bisa dihemat dan kemudian dapat dirasakan lebih merata dan membahagiakan semua peneliti dalam bentuk honor.

Semua ‘rekayasa’ tersebut terlihat dan terdengar lumrah-lumrah saja dibicarakan. Rasional dan terkesan legal. Bagaimana ‘mengakali’ anggaran agar bisa terserap sempurna sehingga dampaknya terasa oleh semua orang (dalam bentuk honor) sepertinya memang sudah menjadi visi yang sama dalam benak masing-masing.

Apakah ini suatu yang benar?

Toh dana tersebut tidak digunakan untuk pribadi, tapi untuk kepentingan bersama. Dan dana tersebut juga sudah disetujui oleh negara dan sudah menjadi hak institusi untuk mengelolanya. Singkatnya, itu memang dana kami. Perkara bagaimana kami menghemat pengeluaran di suatu tempat dan mengoptimalkannya untuk alokasi lain adalah urusan kami. Yang penting, ketika pertanggungjawaban nanti, kami dapat menjelaskan kemana dana-dana tersebut pergi. Ini lebih baik dari pada kami membiarkan dana tersebut ‘hilang’ dan dikembalikan kepada negara karena tidak dimanfaatkan (untuk alokasi lain) dengan baik. Dengan resiko, di tahun berikutnya kami tidak mendapatkan dana yang sama besarnya, karena tidak dapat menyerap anggaran dengan baik.

Benarkah pemikiran seperti ini?

Apakah ini yang dikatakan ‘korupsi jama’i’? mark-up dan manipulasi anggaran..

Tapi, apa yang bisa kulakukan??

Ya Allah..

Biarkanlah hati ini tetap hidup dalam merasakan yang haq dan yang bathil

Kuatkan imanku

Jangan biarkan diriku terbawa dalam kelenaan dunia

 

 

“Bila diantara kalian melihat suatu kemungkaran, maka hendaklah ia merubah dengan tangannya. Bila tidak mampu, maka (ubahlah) dengan lisannya. Bila tidak mampu, maka (ubahlah) dengan hatinya.Yang demikian itu adalah selemah-lemah iman.. “

HR. Muslim

Filed under: Journal

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Aku dan dia

Kidzsmile Foundation

AIMI Jabar

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 7 other followers

Yang silaturahim

  • 66,921 hits
%d bloggers like this: