Keluarga Alamanda

Icon

. cerita bunda . cerita keluarga mahayattika .

Ketika Akhwat Packing

Hmm.. Riweuh pastinya kalau membayangkan bagaimana akhwat-dengan segombreng atributnya-packing. Emang iya sih. Aku sendiri menjadikan kegiatan packing itu sebagai ‘tantangan’ yang mengasyikkan. Pengennya semua barang yang sekiranya dibutuhkan –bahkan juga worst case– saat perjalanan nanti udah siap di backpack kita. Tapi kan ga mungkin juga dibawa semua. Nah, disinilah seninya packing. Bagaimana kita bisa memenuhi prinsip “Minimum weight, minimum space, maximum utility”.

 

Jangan husnudzan dulu, Aku sendiri bukanlah orang yang mahir packing. Di ekspedisi ke Semeru kemarin bawaanku paling banyak dari akhwat lain. “Mo kemana neng…?”. Padahal itu juga udah dibongkar-muat 3 kali. Dikurang-kurangin yang terlalu “mewah”, dibuang-buangin kemasannya, diinjek-injek biar padat..Akhirnya harus dibantu packing lagi biar ringkes.

 

Memang aku bawa apa aja sih? Ini list bawaanku untuk ekspedisi alam bebas, ditambah dengan browsing sana-sini, dan sharing-sharing dengan yang udah pengalaman.

 

  1. Pakaian lapangan. Pakaian yang khusus dipakai saat ekspedisi (termasuk bergo, kaos kaki dan manset). Tidak perlu ganti baju lapangan setiap hari. Cukup ganti pakaian kering dan bersih saat hendak tidur, untuk menghindari hipotermia.
  2. Bergo ganti. Walaupun aku sendiri menghindari memakai bergo keluar rumah, tapi saat ekspedisi, lupakan pakai jilbab persegi! Pakai yang praktis aja. Yang warna gelap ya, biar ga keliatan dekil.
  3. Matras dan sleeping bag. Kalau mau ringkes daripada mengeliminir matras, katanya lebih baik mengeluarkan sleeping bag (tapi khusus untuk tempat yang tidak temperaturnya tidak rendah-rendah amat). Karena matras bisa jadi isolator yang baik antara tubuh dengan bumi, sehingga panas tubuh tidak ‘diserap’ bumi. Sedangkan sleeping bag masih bisa digantikan dengan ‘sarung bag’, plus trash bag untuk antisipasi hujan.
  4. Selain sepatu tracking/sandal gunung yang nyaman, bawa juga sandal jepit. Untuk merilekskan kaki saat tidak berjalan.
  5. Raincoat atau ponco. Raincoat lebih nyaman, ga ribet kayak ponco, tapi otomatis mesti bawa bag cover juga. Kalau ga ada bag cover, bisa pake trash bag juga kok.
  6. Mukena dan sajadah kecil. Atau bawa saja kaos kaki dan manset khusus untuk sholat. Sajadah itu penting, untuk kenyamanan saat sujud di alam bebas.
  7. Alat-alat mandi. Bawa alat-alat mandi dan handuk dengan kemasan yang kecil. Pindahkan sabun cair ke tempat yang lebih kecil. Lumayan juga untuk bawa mouthwash sachet. Hati-hati terkadang ada lokasi dimana segala hal yang menghasilkan sabun tidak diperkenankan untuk dibawa (terutama untuk wilayah cagar alam), dan harus ‘dititipkan’ di pos jaga.
  8. Tisu basah, tisu gulung. Untuk buang air dan bersih-bersih. Juga untuk mengelap alat makan setelah dipakai.
  9. Sarung. Bisa multifungsi. Untuk sholat, jelas.. Untuk kemulan kalau dingin, dan bisa juga untuk WC portable.
  10. Head lamp untuk perjalanan malam sangat membantu, kalau tidak ada, pakai senter kecil juga tidak masalah. Enaknya jadi akhawat, senter bisa diselipkan di jilbab dan berfungsi sebagai ‘ear lamp’ hehe. Jangan lupa spare baterai. Kalau ada, bawa senter ‘genjot’ untuk cadangan bila baterai habis.
  11. Tas kecil untuk membawa barang-barang emergency yang diperlukan saat perjalanan. Masukkan juga madu/permen, senter, camera digital, pisau lipat, pulpen, slayer dan tisu ke dalamnya.
  12. Obat-obatan standar. Misalnya minyak kayu putih, norit, hand sanitizer, sunblock, band-aid.
  13. Pisau lipat
  14. Nasting, gelas, dan sendok
  15. Sediakan selalu kantong plastik yang agak besar (untuk baju basah)

 

Susun barang-barang tersebut di carrier dengan memanfaatkan semua space yang ada

  • Semua item sebaiknya dikemas lagi masing-masing dengan kantong plastik. Selain untuk berjaga-jaga dari hujan, juga memudahkan penyusunan kembali saat packing ulang, barang-barang tidak berantakan.
  • Masukkan terlebih dahulu matras, melapisi carrier dan membentuknya seperti tong sehingga bawaan dapat disusun lebih rapih.
  • Kemudian masukkan sleeping bag, baju bersih, logistik dan lain-lain
  • Pastikan bawa plastik-plastik kecil (baiknya yang transparan) untuk tempat barang-barang elektronik seperti HP, camera digital, jam tangan, dll.
  • Packing yang baik adalah carrier dapat ‘berdiri’ tanpa sandaran. Artinya carrier sudah seimbang. Kalau belum, ayo..packing lagi..
  • Berat carrier maksimal adalah 1/3 dari berat badan kita.
  • Saat membawa carrier, bagian bawah carrier ada di atas pinggang kita. Sehingga beban berpusat pada punggung. Kancingkan tali pinggang carrier kita untuk membuat carrier mantap di posisi saat perjalan, sehingga tidak membuat punggung cepat lelah.

 

 

Referensi :

 

 

Filed under: Journey

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Aku dan dia

Kidzsmile Foundation

AIMI Jabar

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 7 other followers

Yang silaturahim

  • 66,921 hits
%d bloggers like this: