Keluarga Alamanda

Icon

. cerita bunda . cerita keluarga mahayattika .

Third Dilemma

First of all, allow me to express my dilemma in Bahasa. I need to express it freely ..

Beberapa pekan lalu, di rapat bidang Komputer, akhirnya diputuskan bahwa aku dan salah satu rekan CPNS juga, diamanahkan menjadi Koordinator penelitian untuk anggaran 2009. Whuih..ga pernah terbayang, sebagai anak baru yang belum juga resmi sebagai Peneliti, harus mengkoordinir peneliti lain. Karena memang Ka.Puslit menghendaki demikian, supaya yang baru bisa belajar. Idealnya, Kord.Peneleliti (aka. KaTU) adalah orang yang memiliki ide penelitian tersebut. Tapi berhubung, kami yang baru ini belum ngeh, dan tetap “dipaksa” untuk jadi kordinator, maka jadilah kami berdua meng-akuisisi ide penelitian peneliti senior.

Topik penelitian yang akhirnya diamanahkan padaku :

Rancang Bangun dan Rekayasa Prosesor untuk Komputasi Nano Berbasis “Open Core Field Programmable Gate Arrays(FPGA)

Ups..! apa itu??!

Aku coba mengartikan sendiri dengan terjemahan bebas :

Rancang bangun dan Rekayasa = membuat model

Prosesor untuk komputasi nano = prosesor dengan komputasi yang sangat kecil dan rumit (nano)

Open core FPGA = FPGA yang main programnya bisa didapatkan secara bebas

Haha..ngawur maneh.. Yah..intinya, aku tidak punya pengetahuan mendalam tentang tema itu, dan diminta untuk mengkordinir penelitiannya??

Dan sebagai tugas pertamanya, aku diminta untuk membuat ICP (Idea Concept Proposal), semacam Proposal Penelitian, yang akan diajukan ke kedeputian Teknik. Nanti ICP ini akan diseleksi, apakah sesuai dengan Renstra LIPI, apakah feasible, apakah ada kebermanfaatan yang strategis, dst. Dan dari awal memang topikku ini sudah dijagokan akan lolos seleksi. Karena bidang nano teknologi memang sedang menjadi fokus penelitian LIPI.

Lalu dimana dilemanya??

Ya, pertama, soal mengurus sesuatu yang bukan keahliannya. Masih blank banget. Di baca teorinya juga ga nyampe nalarnya. Sedangkan akulah nanti yang akan bertanggung jawab terhadap pencapaian hasilnya.. Huhuhu.. khawatir banget ga bisa memenuhi.. Dan hanya menghambur-hamburkan uang negara..tapi memang inilah momentnya. Moment aku untuk dipaksa belajar dan mendalami sesuatu. Cuma, kekhawatiran itu begitu besarnya..

Kedua, soal jobdesc KaTU, yang memang akan lebih banyak secara administrasi. Membuat proposal, mempresentasikan, mempertanggungjawabkan di hadapan tim PME (pengawas, monitoring dan evaluasi), dan yang paling “bermasalah” adalah KaTU bertanggungjawab terhadap dana penelitian yang jumlahnya bisa 9 digit! Ini masalah! kenapa? karena sudah bisa dipastikan, bahwa dana penelitian nanti akan memiliki 2 pembukuan, pembukuan keluar yang akan dilaporkan ke negara, dan pembukuan di Puslit. Kenapa bisa begitu? Karena memang tidak semua dana penelitian digunakan untuk penelitian. Melainkan juga digunakan untuk operasional Puslit, seperti Listrik, perbaikan, kegiatan-kegiatan, dll. Sudah menjadi “kesepakatan bersama” bahwa operasional Puslit memang didanai dari dana penelitian. Yaa, mau bagaimana lagi?? Negara tidak memberikan dana khusus untuk pengelolaan puslit. Lalu dana operasional didapat dari mana? Mau tidak mau, ya dari dana penelitian, karena memang itulah yang Puslit bisa “jual”..

Aku ngeri mendengar bahwa kedepannya, aku akan di”paksa” untuk menandatangani kuitansi-kuitansi fiktif, perjalanan-perjalanan yang sama sekali tidak kulakukan, pembelian alat penelitian yang nilainya bisa 10x lebih besar dari nilai sebenarnya, dll. Dan itu semua memang “dilegalkan” sebagai jalan yang bisa dilakukan untuk menghidupi Puslit kami. Memang tidak digunakan untuk keperluan pribadi, memang tetap ada transparansinya dan pembukuan yang “benar” di tingkat Puslit. Dan itu semua memang terpaksa Puslit lakukan. Tapi benarkah itu???

Apa tidak ada cara lain?

Benarkah ini??

Ya Allah, tunjukkan yang haq itu haq, dan beri ku kekuatan untuk melaksanakannya..

Tunjukkan yang bathil itu bathil dan beri ku kekuatan untuk menjauhinya..

Filed under: Uncategorized, ,

3 Responses

  1. re_here says:

    emang bener2 ga ada sumber dana lain selain itu ya kak? emang ga ada usaha penggalian dana? ngejual produk2 penelitian ke mana kek… dipromosiin, ditawarin. btw, hasil2 penelitiannya dipublish juga ga? trus dari situ responnya gimana? apa minim juga? ga ada yang tertarik gitu ma penelitiannya LIPI?

    Lintang : ya upaya2 pendanaan tetep ada, seperti penjualan hasil penelitian. Tapi memang belum maksimal. Dan mmg lebih mudah untuk menghidupi via dana penelitian. Tugas peneliti sebenarnya mmg tidak sampai ke situ (memasarkan produk penelitian), ada bagian lain yang diamanahi untuk itu.

    Hasil penelitian di publish di jurnal-jurnal ilmiah. Atau bisa didapat di http://www.lipi.go.id. Atau prototypenya bisa dilihat langsung di LIPI puslit Informatika Gd.20 Lt.3

    Yaa.. semoga segera ada jalan keluarnya..

    duh, kebanyakan nanya yah?

    yaaa… kak Lintang kan sering bilang kl keberadaan kita di suatu tempat semestinya bisa memberikan perubahan yang lebih baik dari sebelumnya. nah, sekarang saatnya untuk unjuk gigi kak… SEMANGAT!

    Lintang : bismillah, semoga ya, ada yang bisa saya kontribusikan untuk perubahan ini..

    tiada kata jera dalam perjuangan, tiada kata bosan untuk belajar😀

  2. menujucintanya says:

    Here is, the English version of my writing above :
    (written by : telefa..@y..)

    Couple weeks ago, in a computer division meeting room, it was finally decided that me and my CPNS colleague were given the responsibility to be the research coordinator for the 2009 budget. Whuih, never crossed my mind as a newbie researcher, to supervise other researchers. It was arranged so by the Puslit supervisor, in order to make the new scienstists learn new things. Ideally, research coordinator (aka KaTU) is a person who has the original idea. But, because me and my friend were new and “forced” to be the coordinator, we had no choice but to acquire other senior research idea.

    Research topic finally assigned to me: the open core field programmable gate arrays (FPGA)-based nano computing processor engineering ..

    Ups..! What’s that??!

    Let me try to translate them in my term:

    engineering = to make model

    nano computing processor = processor with delicate and complex calculation (nano-scale)

    open core FPGA = FPGA with the easy-to-get main program

    Haha..ngawur maneh..Yup, the point is, i don’t have extensive knowledge about the topic and asked to supervise the research??

    As for the first task, i was asked to make ICP (Idea Concept Proposal), a kind of research proposal, which will be proposed to Engineering Deputy. Later, the ICP will be selected, is it in accordance with Renstra LIPI, is it feasible, is there any social benefit in it, etc. And my topic from the very beginning was considered of having a great chance of winning by many. Because nano technology is sure becoming a focus in research in LIPI.

    So what are the dillemas??

    Yup, first, about taking care of something we don’t have expertise at. Still blank. Even reading the theory can’t help me understand. While i’m the one who will be responsible of the result. Huhuhu…I’m worried to death i can’t fulfill that… And just to spend away the state budget…but sure this is the moment. The moment i have no choice but to learn and to advance something. But, the doubt is so huge…

    Second, about the KaTU jobdesc, which are more administrative. To make proposals, to present them, to justify them in front of PME (supervise, monitor, and evaluate) team, and the most troublesome is, KaTU is responsible of research budget which can reach 9 digits! This is a problem! Why? Because as been predicted, the research funds will later have 2 accounts; outgoing account will be reported to the state, and the other one will be in Puslit. Why so? Because sure not all the research funds will be spent on research. But also will be spent on Puslit operational, like electricity, maintenance, events, etc. It has been a common when Puslit operational is funded by the research funds. How else?? The state don’t fund the Puslit operational. So how the operational is funded? Want it or not, is by the research funds, because only that the Puslit can ‘sell’….

    I’m thrilled to hear that in the near future, i’m going to be “the one” who sign the false invoices, travels i never do, procurement of new research equipments which cost 10 times higher, etc. And all of that are surely ‘justified’ as the only way to live our Puslit. Sure it is not used for the individual interest, and still there is transparacy and accounted ‘accordingly’ in Puslit level. And all are had to be done by Puslit.

    But is it right???

    Are there no other ways?

    Is it true??

  3. abdullah says:

    Assalamualaikum… sungguh saya merasa miris membaca kisah ukhti… alasan yg dikemukakan ukhti sepertinya bisa sekaligus dijadikan kedok buat oknum2 yg tidak bertanggung jawab…

    Saran saya apabila ukhti masih terpaksa melakukan hal2 tersebut di atas, ialah agar ukhti selalu mendokumentasikannya secara pribadi, demi kebaikan ukhti di masa mendatang…

    Terus berdoa, karena doa adalah senjata muslimin/muslimat yg paling ampuh..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Aku dan dia

Kidzsmile Foundation

AIMI Jabar

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 7 other followers

Yang silaturahim

  • 66,921 hits
%d bloggers like this: