Keluarga Alamanda

Icon

. cerita bunda . cerita keluarga mahayattika .

Namaku Lintang

Ketika aku memperkenalkan diri, biasanya ga jauh-jauh langsung ditimpali seperti ini..

“Siapa? Intan?”

Liin..taang…[“agak-agak” nih…]

“Lintang utara apa Lintang selatan?”

Saya Lintang barat.. [orang geografi ya..]

“Bujurnya mana?”

hssh.. ngomong jorok tuh!  [geografi lagi..ga kreatif ah]

“Lintang pukang ya?”

Hehe..[orang linguis..maksa deh]

“Arainya mana?”

Sedang mengejar mimpi! [pencinta Laskar Pelangi series nih..]

“Oh, orang jawa ya? Ada lagunya kan Mba..Yen ing tawang ono Lintang..cah ayu”

[Yaah..dia nyanyi.. ] Iya, “cah ayu” ya Mas?

“Lintang tongki..”

Hey!! Don’t call me like that!! [Ga sopan ni orang, ga ada panggilan yang lebih bagus apa?]

Emang nama Lintang aneh ya? Ga kok..aku suka nama Lintang. Nama yang transgender. Bisa dipake buat laki-laki, tapi manis juga dipakai buat perempuan.

Dari dulu mama pengen banget namain semua anaknya nama-nama benda langit, dan karena kami berdarah jawa (darahnya aja..sikap dan lain-lain mah enggak) maka dipakailah bahasa Jawa : Wulan(Bulan), Lintang (Bintang), Mega (Awan), Guruh (Petir)..Mama kreatif kan..

Ada lagi yang aneh dari salah satu temenku, sempet-sempetnya dia SMS gini :

mba..setelah saya analisis secara mendalam, saya piker orang tua mba dulunya adalah pendukung Masyumi lalu beralih pada PNI. Terbukti dari nama anak-anaknya : Wulan dan Lintang, dalam bahasa Jawa tu berarti Bulan dan Bintang (lambang Masyumi).. Lalu Mega dan Guruh, pasti terinspirasi dari Bung Karno yang menamai anak-anaknya demikian. Dan Soekarno adalah tokoh PNI…Hoho..hebatkan analisis saya, mb?!” -1 Okt’07, 08561870xxx

Halah..aya-aya wae..
Lintang tuh artinya bintang.. Bintang itu walau terlihat kecil, tapi dia memiliki cahaya sendiri, tidak bergantung pada matahari (karena matahari sendiri pun adalah sebuah bintang yang terdekat dengan bumi). Saking jauhnya, cahaya bintang yang tampak oleh kita, bisa jadi adalah pancaran cahaya beberapa tahun yang lalu. Bintang tampak di malam hari, menghias langit biru (kayak lagu anak-anak)..

Bisakah kita seperti bintang?

Walau bintang itu kecil, cahayanya tak seterang matahari, tapi tetap ikhlas berkontribusi dengan segenap potensi yang dimiliki..

Walau apa yang kita lakukan tidak dirasakan saat ini, tapi tidak putus asa dan terus ihsan bekerja, mungkin buah usaha kita baru akan terlihat jauh setelah kita tiada..

Dan walaupun berada di tempat yang gelap, tetap memancarkan cahaya penerang yang menjadi inspirasi bagi banyak orang…

“Dan sungguh, kami telah menciptakan gugusan bintang di langit dan menjadikannya terasa indah bagi orang yang memandang(nya)” QS.15:16Oia, ada satu lagi..bisakah kita seperti bintang yang Allah gambarkan dalam ayat ini :

“Dan sungguh telah Kami hiasi langit yang dekat dengan bintang-bintang dan Kami menjadikannya (bintang-bintang itu) sebagai alat-alat pelempar setan…” QS.67:5

Yaitu umm..sebagai..pembasmi kejahatan??

Filed under: Bunda, Coretan Iseng

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Aku dan dia

Kidzsmile Foundation

AIMI Jabar

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 7 other followers

Yang silaturahim

  • 66,921 hits
%d bloggers like this: