Keluarga Alamanda

Icon

. cerita bunda . cerita keluarga mahayattika .

Book Review : Antara Aisyah dan Maisyah

Pengarang : Ahmad Ghozali

Penerbit GIP, 150 hal

Pada awalnya, aku pikir buku yang berisi tentang “persiapan financial menuju pelaminan” ini didedikasikan khusus untuk para ikhwan, yang nyatanya banyak yang ga PD dengan “kantongnya” untuk meminang seorang akhwat. [Deu..emamg meminang akhwat butuh duit berapa sih?]. Ternyata, buku ini seharusnya juga dibaca oleh para akhwat lho!

Buku ini meluruskan standar kesiapan seorang ikhwan untuk menikah, dan besar materi yang harus disiapkan. Ternyata, memang tidak muluk-muluk. Intinya, sebesar apa kemampuan seorang ikhwan untuk dapat menafkahi keluarganya nanti. Dan itu tidak sama dengan harus bekerja tetap (jadi pegawai kantoran) ataupun memiliki tabungan yang jumlahnya sekian. Prinsipnya, tetap berpenghasilan, dan bukan bekerja tetap.

Yang menarik adalah, (karena saya seorang wanita) ternyata mempersiapkan masalah keuangan itu tidak hanya menjadi PR para ikhwan. Karena akhwat pun harus menyiapkan dirinya.

Bagaimana?

Apakah akhwat juga harus punya penghasilan sendiri untuk membantu kehidupan rumah tangga mereka nanti?
Atau sang akhwat harus punya minimal sekian rupiah tabungan?

Bukan..ternyata bukan itu..karena syari’atnya pun mengajarkan, bahwa mencukupi kebutuhan sandang-pangan-papan seorang istri menjadi tanggung jawab penuh sang suami.

Lalu apa?

Ada 2 hal yang harus disiapkan para akhwat berkaitan dengan persiapan financial, pertama, adalah persiapan untuk mengelola keuangannya sendiri. Istri adalah manager of finance, yang akan mengatur pengeluaran-pengeluaran rumah tangganya. Bukan sekadar masalah berapa besarnya uang belanja, tapi juga bagaimana kita menyikapinya. Kalo penghasilan pas-pasan, tapi kita bisa mengalokasikannya secara tepat, gaya hidup bersahaja, maka tidak akan masalah. Percuma saja, jika uang belanja besar, tapi kita tidak cermat mengelolanya, dan gaya hidup konsumtif, maka sebesar apapun uang belanja dari sang suami, tidak akan pernah merasa cukup. Trus berantem deh.. “Papa sih, ngasihnya dikit bener..”; “Mama sih yang boros..” :p

Kedua, adalah kesiapan untuk menghadapi perubahan gaya hidup. Ya, tidak semua akhwat akan menikah dengan ikhwan yang memiliki “standar hidup” yang sama dengan keluarganya dulu. Kalau ikhwan tersebut memiliki “standar hidup” yang lebih tinggi, tentunya akan lebih mudah bagi akhwat untuk menyesuaikan. Yang kerap jadi masalah adalah, ketika akhwat menikah dengan ikhwan yang memiliki “standar hidup” yang lebih rendah, artinya akhwat harus siap dengan perubahan gaya hidupnya. Kalau dulu sebelum menikah ia terbiasa dengan segala fasilitas, makanan enak bergizi, rumah hangat dan nyaman, ga ada tanggung jawab untuk membersihkan rumah, pulsa HP auto-reload, mobil-motor tinggal pakai (ehm..). Ketika menikah nanti harus serba seadanya atau bahkan ga ada apa-apanya.. Siap ga?
Siap ga ya?🙂

Satu kutipan yang aku suka, yang intinya, saat berkeluarga nanti, bila kenyataan tak sesuai dengan impian, maka sang Suami hendaklah semakin giat untuk ikhtiar menjemput rizki, dan sang Istri pun harus qana’ah (merasa cukup dan bersyukur) dengan berapapun ‘uang belanja’ yang diberikan suami.

Jadi, apakah benar sudah siap menikah?

Hmm..Aisyah dan Maisyah, lalu bagaimana dengan Ijasah?? ^_^

Filed under: Keuangan, Reviews, , , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Aku dan dia

Kidzsmile Foundation

AIMI Jabar

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 7 other followers

Yang silaturahim

  • 66,921 hits
%d bloggers like this: