Keluarga Alamanda

Icon

. cerita bunda . cerita keluarga mahayattika .

Teropong Dimensi Waktu untuk Dakwah Sekolah di Kota Bandung

Akademis

Aku melihat dengan teropong dimensi waktu, sebuah SMU di Bandung yang telah dibina oleh LP2i dalam beberapa tahun terakhir ini. Memasuki gerbang SMU tersebut, aku melihat siswa-siswi yang baru saja keluar kelas di jam istirahat. Sebagian dari mereka berkelompok, membahas ulangan yang telah mereka lalui. Mereka membuka kembali catatan dan textbook nya, mencocokkan dengan jawaban mereka. Walaupun tadi mereka tidak diawasi dengan ketat oleh gurunya, tapi tidak ada satupun yang berbuat curang dengan membuat contekan, melihat pekerjaan teman. Karena mereka telah mengerti tentang pentingnya ulangan bagi diri mereka sendiri, dan mereka pun tidak lagi berani berbuat curang, karena mereka takut pada Allah yang Maha Melihat. Sebagian yang lain berlarian ke mesjid, mengambil wudhu dan menunaikan sholat dhuha.

 

Tidak ada lagi siswa yang tinggal kelas, karena guru selalu mendorong para siswa untuk saling membantu dalam belajar. Yang lebih pintar mengajari teman-temannya. Yang tidak masuk, pengurus kelas berinisiatif memberikan fotocopyan catatannya. Sehingga angka ketidaklulusan juga menurun drastis, hampir nol. Bahkan beberapa siswa mampu meraih prestasi di lomba akademik antar sekolah.

Guru

Guru-guru tidak ada yang merokok. Dan semua guru wanita telah menutup auratnya, menggunakan rok dan senantiasa tersenyum ramah. Mereka semua rajin menghadiri taklim guru yang diadakan tiap bulan. Bahkan telah terbentuk juga beberapa kelompok halaqah guru. Guru selalu memulai dan mengakhiri pelajarannya dengan doa.

 

Ekskul

Rohis tidak lagi menjadi ekskul seperti beberapa tahun lalu. Karena setiap yang muslim, otomatis menjadi anggota Rohis, yang mendapat pembinaan dan bimbingan dari Rohis. Setiap tahunnya dipilih pengurus Rohis sekolah yang akan dibina dan ditempa menjadi orang-orang terbaik dari setiap angkatan, baik secara ruhiyahnya, managerial skill dan leadershipnya dan yang pasti juga akademisnya. Di setiap kelas juga terdapat Rohis kelas, yang mengkordinir tadarus tiap jumat pagi di kelas masing-masing. Juga pembacaanalma’tsurat setiap pagi. Rohis kelas juga mengelola mading Rohis kelas yang kontinyu memberikan pengetahuan tentang syariah Islam dengan bahasa yang mudah diterima, juga menyajikan berita-berita aktual seputar dunia Islam.

OSIS sekolah selalu mengadakan acara yang berkualitas, yang mampu meningkatkan potensi siswa-siswi di sekolah. Karena acara yang isinya hanya hura-hura dan berpotensi merusak akhlaq tidak akan disetujui oleh pembina. Begitu juga dengan ekskul-ekskul lain. Basket dan voli mewajibkan setiap pesertanya untuk menggunakan celana panjang sebagai seragam latihan.

Dan untuk peserta putri juga harus menggunakan kaos lengan panjang. Saat latihan, lapangan putra dan putri terpisah dengan pelatih masing-masing. Hal serupa juga pada ekskul lain. Saat pelantikan, tidak ada lagi penggojlokan peserta muda. Kebalikannya, mereka dibekali dengan pengetahuan dasar mengenai ekskulnya masing-masing. Saat puncak pelantikannya, seluruh ekskul berkordinasi, mengadakan kemah besar. Di sana mereka menunjukkan kebolehan masing-masing ekskulnya. Malam api unggun yang biasanya diisi dengan nyanyi-nyanyi, sekarang berganti dengan training motivasi oleh alumni, yang ditutup dengan muhasabah bersama. Besoknya mereka mengadakan bakti sosial untuk warga sekitar yang dananya dikumpulkan dari hasil latihan berjualan mereka selama sebulan terakhir di masa pembinaan pra-pelantikan. Tidak ada lagi perselisihan antar ekskul, semua saling mendukung dan berkordinasi.

Seluruh ekskul telah membuktikan hasil jerih payahnya, dengan mengukir prestasi. Mereka aktif mengikuti lomba-lomba antar sekolah. Menjadi rujukan ekskul dari sekolah lain. Tidak ada lagi siswa yang ikut geng motor, tawuran atau nongkrong-nongkrong ga jelas di Circle K atau warnet depan sekolah. Karena mereka merasa lebih nyaman dan bisa beraktualisasi dengan bergabung di ekskul sekolah. Seluruh ketua ekskul dan OSIS masih aktif dalam halaqah. Merekalah yang mencetuskan adanya taklim rutin di masing-masing ekskulnya. Bahkan beberapa diantara ekskul tersebut telah memiliki kelompok halaqah sendiri. Dan mereka semua juga tak sungkan berkonsultasi dengan alumni Rohis yang memang cukup bijak dan paham betul kondisi almamaternya, juga dikenal dan memiliki hubugan baik dengan guru-guru. Kerapkali alumni tersebut menjadi jembatan antara siswa dan guru, ataupun ekskul dengan ekskul.

Mesjid

 

Mesjid sekolah itu terlihat asri. Pepohonan tumbuh rindang di sebelahnya, dihiasi dengan taman bunga yang indah, menyejukkan mata. Siapapun yangmasuk akan merasakan keteduhannya. Mesjid tertata rapih dan bersih. Mukena selalu terlipat rapih dan wangi. Mushaf berjejer di rak. Buku-buku di perpustakaan selalu jadi rebutan siswa yang haus akan ilmu tentang agamanya.

Sesaat sebelum adzan dzuhur terdengar, bel istirahat kedua berbunyi. Seluruh siswa dan guru berduyun-duyun menuju mesjid untuk menunaikan sholat berjamaah. Salah seorang guru menjadi imamnya. Dan salah seorang siswa yang kebagian piket memberikan kultum.

Saat istirahat dan jam pulang sekolah, mesjid tidak pernah sepi. Terlihat kelompok-kelompok kecil di pojokan mushola. Mereka saling menguji untuk bersiap menghadapi ulangan yang berikutnya, sesekali bercanda dan tertawa. Ada salah seorang yang membawa bekal, dan mereka nikmati bersama. Betapa akrab dan damainya suasana di sana. Kelompok lain membentuk lingkaran, memegang mushafnya masing-masing. Dan mereka tilawah bergantian. Ketika 1 orang membaca, yang lain menyimak, sambil membetulkan tajwid yang salah. Sedangkan di tempat akhwat, ada beberapa kelompok halaqah kelas 1 yang sedang serius mendengarkan pemaparan dari seseorang yang berjilbab rapi, seorang akhwat kelas 3. Hanya beberapa dari mereka yang telah benar-benar berjilbab, sedangkan sebagian besar masih menggunakan rok pendek dan menutup kepalanya dengan kerudung. Meskipun begitu, terlihat sekali antusiasnya untuk tahu banyak tentang agamanya.

Kantin

Kantin pun tidak luput dari suasana yang islami. Kantin selalu bersih, dan hanya menyediakan makanan-makanan sehat. Sejak ramai kampanye pemboikotan produk Yahudi, kantin pun memilih untuk mencari produk-produk alternatif. Karena penjualan produk-produk Yahudi tersebut menurun drastis. Di dinding-dinding kantin bertempelan poster beraneka warna yang menarik, berisikan imbauan untuk makan dengan tangan kanan, tidak makan sambil berdiri, dan selalu mengawali makan dengan basmallah. Begitu juga dengan seluruh pojok sekolah yang dipenuhi dengan poster-poster yang mendorong setiap warganya untuk mengikuti sunnah Rasul.

 

 

Mudah-mudahan bisa memberikan kontribusi untuk mewujudkan mimpi-mimpi tentang dakwah sekolah yang mumpuni..

 

Filed under: Uncategorized, , , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Aku dan dia

Kidzsmile Foundation

AIMI Jabar

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 7 other followers

Yang silaturahim

  • 66,921 hits
%d bloggers like this: