Keluarga Alamanda

Icon

. cerita bunda . cerita keluarga mahayattika .

Hukum Shaum bagi Ibu Hamil dan Menyusui

Alhamdulillah.. Akhirnya Ramadhan datang juga. Udah rindu dengan suasana-suasana khas Ramadhan, bangun pagi dan makan saur bareng keluarga, acara-acara buka puasa sekaligus reunian bareng temen-temen, ramenya anak-anak berlarian saat tarawih, stasiun TV yang berlomba-lomba bikin acara islami,  ramenya masjid di 10 hari terakhir.. indahnya..🙂

Dan Ramadhanku kali ini, tentunya akan sangat berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya (yang 7 tahun belakangan kuhabiskan di “perantauan”), karena ini Ramadhan pertamaku setelah nikah :)  berarti sekarang ada seorang suami yang harus disiapin makan saur dan buka..

Dan ini juga menjadi Ramadhan pertamaku dengan kondisi berbadan-dua ^.^ ..Insya’Allah, kali ini aku juga berkesempatan untuk bisa puasa dan ibadah tanpa bolong! Tapi akhirnya, malah jadi ragu sendiri.. karena beberapa teman kantor men-judge ku sebagai ibu yang “jahat”, “egois” karena masih puasa di usia kandungan 8 bulan, saat janin butuh banyak nutrisi untuk persiapan kelahirannya ke bumi..😥 jadi merasa bersalah.. Sebenernya gimana hukumnya puasa buat ibu hamil ya?

Sesungguhnya Allah ‘azza wa jalla menghilangkan pada musafir separuh shalat. Allah pun menghilangkan puasa pada musafir, wanita hamil dan wanita menyusui.” (HR. Ahmad. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa hadits ini hasan)

Jadi, sudah jelas, Bumil dan Busui boleh berbuka puasa. Tapi, apakah kemudian dia wajib mengqodho’ atau bisa fidyah saja? atau harus kedua-duanya? Berikut beberapa pendapat berkaitan tentang itu.

Tulisan ini di sarikan dari sini.

Pendapat pertama: wajib mengqodho’ puasa dan memberi makan kepada orang miskin bagi setiap hari yang ditinggalkan. Inilah pendapat Imam Syafi’i, Imam Malik dan Imam Ahmad. Namun menurut Syafi’iyah dan Hanabilah, jika wanita hamil dan menyusui takut sesuatu membahayakan dirinya (bukan anaknya), maka wajib baginya mengqodho’ puasa saja karena keduanya disamakan seperti orang sakit.

Pendapat kedua: cukup mengqodho’ saja. Inilah pendapat Al Auza’i, Ats Tsauriy, Abu Hanifah dan murid-muridnya, Abu Tsaur dan Abu ‘Ubaid.

Pendapat ketiga: cukup memberi makan kepada orang miskin tanpa mengqodho’. Inilah pendapat Ibnu Abbas, Ibnu ‘Umar, Ishaq, dan Syaikh Al Albani.

Pendapat keempat: mengqodho’ bagi yang hamil sedangkan bagi wanita menyusui adalah dengan mengqodho’ dan memberi makan kepada orang miskin bagi setiap hari yang ditinggalkan. Inilah pendapat Imam Malik dan ulama Syafi’iyah.

Pendapat kelima: tidak mengqodho’ dan tidak pula memberi makan kepada orang miskin. Inilah pendapat Ibnu Hazm.

Dari Ibnu ‘Abbas, beliau berkata,

“Keringanan dalam hal ini adalah bagi orang yang tua renta dan wanita tua renta dan mereka mampu berpuasa. Mereka berdua berbuka jika mereka mau dan memberi makan kepada orang miskin setiap hari yang ditinggalkan, pada saat ini tidak ada qodho’ bagi mereka. Kemudian hal ini dihapus dengan ayat (yang artinya): “Karena itu, barang siapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu”. Namun hukum fidyah ini masih tetap ada bagi orang yang tua renta dan wanita tua renta jika mereka tidak mampu berpuasa. Kemudian bagi wanita hamil dan menyusui jika khawatir mendapat bahaya, maka dia boleh berbuka (tidak berpuasa) dan memberi makan orang miskin bagi setiap hari yang ditinggalkan.”  (Dikeluarkan oleh Ibnul Jarud dalam Al Muntaqho dan Al Baihaqi. Lihat Irwa’ul Gholil 4/18)

Dalam perkataan lainnya, Ibnu ‘Abbas menyamakan wanita hamil dan menyusui dengan tua renta yaitu sama dalam membayar fidyah. Dari Ibnu ‘Abbas, beliau dulu pernah menyuruh wanita hamil untuk tidak berpuasa di bulan Ramadhan. Beliau mengatakan

“Engkau seperti orang tua yang tidak mampu berpuasa, maka berbukalah dan berilah makan kepada orang miskin setengah sho’ gandum untuk setiap hari yang ditinggalkan.” (Diriwayatkan oleh ‘Abdur Razaq dengan sanad yang shahih)

Begitu pula hal yang sama dilakukan oleh Ibnu ‘Umar. Dari Nafi’, dia berkata,

“Putri Ibnu Umar yang menikah dengan orang Quraisy sedang hamil. Ketika berpuasa di bulan Ramadhan, dia merasa  kehausan. Kemudian Ibnu ‘Umar memerintahkan putrinya tersebut untuk berbuka dan memberi makan orang miskin bagi setiap hari yang ditinggalkan.” (Lihat Irwa’ul Gholil, 4/20. Sanadnya shahih)

Tidak diketahui ada sahabat lain yang menyelisihi pendapat Ibnu ‘Abbas dan Ibnu ‘Umar ini. Juga dapat kita katakan bahwa hadits Ibnu ‘Abbas yang membicarakan surat Al Baqarah ayat 185 dihukumi marfu’ (sebagai sabda Nabi shallallallahu ‘alaihi wa sallam). Alasannya, karena ini adalah perkataan sahabat tentang tafsir yang berkaitan dengan sababun nuzul (sebab turunnya surat Al Baqarah ayat 185). Maka hadits ini dihukumi sebagai sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana sudah dikenal dalam ilmu mustholah.

Sedangkan menurut Yusuf Al Qardhawi, wanita hamil/menyusui boleh berbuka dan membayar fidyah saja (tidak perlu mengqodho’) jika wanita tersebut frekuensi hamilnya berdekatan, sehingga tidak memungkinkan baginya untuk mengqodho’. Ini sebagai bukti kasih sayang Allah kepada kami para bumil dan busui. Tetapi bagi wanita yang jarak kelahiran nya berjauhan (4-5 tahun misalnya), maka tetep wajib mengqodho’ puasanya di lain waktu
sesuai dengan hari yang ditinggalkan seperti dari madzhab imam malik dan syafii.

Hmm.. sepertinya pendapat Yusuf Al Qardhawi ini lebih jelas kondisinya, dan lebih “fair” menurutku.  Tapi aku tetep akan minta pendapat dr.Wid dan Bidan Juju dulu. Supaya lebih adil untuk ku dan untuk Gaza..

Wallahu a’lam..

Filed under: Reviews, , , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Aku dan dia

Kidzsmile Foundation

AIMI Jabar

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 7 other followers

Yang silaturahim

  • 66,921 hits
%d bloggers like this: