Keluarga Alamanda

Icon

. cerita bunda . cerita keluarga mahayattika .

Over the Due Time

Pekan-40 + 4 Hari

Kelahiran Gaza yang awalnya diprediksi Bidan akan lebih cepat, ternyata sampai H+4 dari HPLnya belum ada tanda-tanda mo keluar. Setelah kontrol mingguan di Bidan Juju, beliau kaget juga dan nyaranin untuk USG lagi melihat kondisi air ketubannya.

HPL+5

Hari ini, Jum’at 16 Oktober 2009, supaya Gaza cepet keluar, aku ngajakin Aa jalan-jalan lebih giat. Kali ini, “nyari kupat sayur” ke depan komplek. Lumayan, bolak-balik 1 KM-an, bikin kupat sayur yang tadi terbakar habis jadi energi, dan laper lagi😀.

Sorenya, kami cek lagi ke Dr. Garini di RS. Hermina. Melihat kondisi air ketuban yang indeksnya sudah menurun jadi 8,8 (normalnya 10), dan sudah ada tanda-tanda pengapuran, Dr. Garini menyarankan untuk segera induksi, dengan syarat CTG (monitor jantung) Gaza baik. Awalnya ragu juga untuk induksi yang kabarnya 2x lipet sakitnya dari mules biasa. Pengennya nunggu mules alami aja. Tapi mengingat kondisi air ketuban yang akan semakin buruk dari waktu ke waktu, yang artinya suplai oksigen dan nutrisi untuk Gaza tidak sesempurna sebelumnya, aku pun menyetujui untuk di-induksi.

Observasi CTG

observasiPk. 19.00-an mulai CTG pertama. Setelah dikonsultasikan lagi di Dr. Garini, hasilnya ga terlalu bagus. Artinya, ada kemungkinan harus operasi. Whatt??! Operasi?? dengernya aja aku ngeri.. Cukup deh kata-kata “operasi”. Jujur aja, aku ga siap untuk operasi. Apalagi, aku ke RS niat awalnya kan cuma buat USG, bukan buat melahirkan. Operasi pula! Masih berharap bisa normal. Pliss…

Alhamdulillahnya Dr. G ga langsung vonis harus operasi, masih mau observasi ulang. Ya, mungkin kondisiku saat di CTG ga terlalu bagus. Akhirnya, setelah makan malam (masih di kamar tindakan/observasi) dan di-oksigen selama 2 jam, aku kembali di CTG. Hasilnya lumayan lebih baik. Gaza cukup mampu untuk di induksi. Aku langsung menginap di RS, ditemani Aa, juga Mama Yani dan Papah yang juga sudah datang. Mama Ani pulang untuk istirahat.

Induksi kateter

Pk. 09.30 mulai dilakukan induksi kateter, atau induksi balon. Ya.. mudah-mudahan kalo dikasih balon, Gaza mau keluar :p Sebuah selang panjang diselipkan ke bawah kepala Gaza, dan diisi air. Ini untuk “memaksa” terjadinya pembukaan. Rasanya? jangan ditanya.. Luar Binasa!! Masya Allah.. dan sejak itulah, aku mulai merasakan yang namanya MULES tiap 3 menit sekali! Allahu Akbar.. Aku coba untuk berjalan-jalan seperti tadi pagi, untuk membantu percepat pembukaan, tapi baru melangkah sedikit, mules terasa lagi.. ga sanggup! akhirnya aku pasrah aja di tempat tidur..

Pk. 14.00-an suster memeriksa dalam.. alhamdulillah.. sudah ada bukaan, walau baru bukaan 1.

Pk. 16.00 kembali cek dalam, dan alhamdulillah, bukaan 3-4. Aku langsung dibawa ke kamar tindakan.

Induksi Infus

Setelah melepaskan balon, suster menggantinya dengan infus. Ini untuk merangsang percepatan pembukaan. Dan rasanya lebih hebat dari sebelumnya.. kayaknya ga berdaya banget. Ga bisa ngapa-ngapain, karena menahan rasa mules yang datang dan pergi begitu cepat! hanya menyisakan 2 menit bagiku untuk bisa bernafas rilex, sebelum mules itu datang lagi. Sepanjang proses induksi, aku biarkan lantunan al-ma’tsurat berputar berulang-ulang dari HPku. Berharap bisa mengalihkan rasa sakit ketika aku mengikuti hafalannya..

Alhamdulillah, ada Aa, Mama Ani dan Mama Yani yang selalu nemenin aku, gosokkin punggungku, membuatku sedikit lebih rilex, nyaman, dan kuat untuk menghadapi ini.

Bukaan 4, 5 berjalan lambat. Bahkan untuk masuk bukaan 6, terasa begitu lamaaa. Dan kata suster yang memeriksaku, kepala Gaza tidak juga turun mendekat ke jalan lahir.. Ya Allah..

Pk. 20.00-an Mang Uus beserta pasukan dateng jengukin. Tante Ria yang udah pengalaman 3x induksi ngasih tips berharga. Katanya, kalo mules, jangan ditahan. Tapi “diikutin”, supaya kepala bayinya bisa turun. Kuikuti lah sarannya, dan emang sih, lebih sakiiit.. tapi kalo mbayangin, saat sakit itu, kepala Gaza turun sedikit-sedikit, rasa sakitnya jadi berkurang.

Kira-kira satu setengah jam kemudian, bukaan ku dah hampir lengkap. Rasa mules semakin hebat! Suster meriksa bukaan, sudah bukaan 9 dan kepalanya sudah mulai turun. Alhamdulillah.. Aku merasa ada air yang tumpah di bawah. Ketuban pecah (atau dipecahkan??). Suster segera menghubungi dr. Garini yang saat itu masih di rumah.. Well it’s the time.. Semoga dokter Garini ga terlambat..

Ntah jam berapa, aku merasa ga bisa lagi nahan untuk ga ngeden. Ngeden dengan sendirinya. Dan kayaknya, aku ga sengaja BAB deh.. maap ya suster🙂 Berkali-kali aku coba nahan ‘edenan’nya. Kayaknya bukaan udah lengkap deh! ini mah nungguin dokternya.. “Dokternya mana sih??”.

Partus

Setelah dr. G datang, proses langsung dimulai. Mama-mama diminta tunggu di luar, hanya 1 orang yang boleh ikut di dalam. Aa yang niyat awalnya mo mendokumentasikan prosesnya batal karena harus bantuin megang kepalaku. Nyesel juga ga ikutan senam hamil. Jadi ga tau gimana ngeden yang bener.

Trial ngeden pertamaku : kata suster, tarik nafas yang kuat

Trial ngeden keduaku : kata suster, jangan ke mulut!

Trial ngeden ketigaku : kata suster, jangan ke leher!

Trial ngeden keempatku : kata suster, jangan keliatan gigi!

Trial ngeden kelimaku : kata suster nafasnya jangan dibuang..

waaah.. aku sudah kehabisan tenaga. Narik nafas panjang susah banget. Sementara itu, pikiran-pikiran mulai berkelibat, mana Gaza? kenapa dia ga mau keluar? harus sekuat apa lagi??

Akhirnya.. dr. Garini mengambil keputusan untuk membantuku dengan vakum..

Sekali ngeden.. dua kali.. keputus, sambung lagi.. dan… Gaza keluar! :’)

Aku dengar tangisnya.. legaaa…

Kemudian aku melihat ari-ari Gaza dilahirkan. Sebuah gumpalan merah sebesar lambung dikeluarkan. Perutku terasa ringan sekali. Sementara itu, dr. G tetap bekerja menjahit.. eh meng-obras bekas jalan lahirnya. Saking banyaknya sobekan🙂

Gaza terlihat kebiruan.. Setelah suster membersihkan lubang hidung dan mulutnya, mereka menaruhnya di dadaku. Inisiasi Menyusu Dini, Skin-to-skin contact. Ayahnya segera membacakan adzan dan iqamat di telinganya. Mengharukan.. :’)

Kemudian Gaza di”kenalkan” dengan supply makanannya. Sayang, kami ga bisa IMD terlalu lama seperti yang kuinginkan, karena Gaza harus segera diobservasi pasca vakum.

Alhamdulillah ya Allah.. kau berikan keajaiban padaku.. pada Aa..

Seorang anak laki-laki yang insyaAllah menjadi Qurata a’yun bagi kami🙂

Filed under: Journal,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Aku dan dia

Kidzsmile Foundation

AIMI Jabar

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 7 other followers

Yang silaturahim

  • 66,921 hits
%d bloggers like this: