Keluarga Alamanda

Icon

. cerita bunda . cerita keluarga mahayattika .

Pejuang ASI

ASI is the BEST gift for baby..

If we can give the BEST, GOOD is not enough!”

Sometimes, we can get the best by free : breast milk”

Berbekal ikutan milis yang pro ASI, browsing-browsing tentang ASI dan breastfeeding, sampe join kelas edukasinya AIMI (Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia), semakin membulatkan tekad bunda untuk memberikan yang terbaik untuk Gaza : ASI. Tapi ternyata ga semudah yang bunda bayangkan sebelumnya! Bunda pikir, karena menyusui adalah fitrah wanita, pasti semua akan berjalan secara otomatis. Mudah. Seperti fitrah manusia untuk bernafas, makan, dll. Bagi bunda, menyusui benar-benar sebuah perjuangan total. Allahu Akbar! Kalo ada istilah “dengan keringat, darah dan air mata” maka begitulah perjuangan bunda menyusui. Bukan. Bukan cuma konotasi hiperbola, tapi keringat, darah, dan air mata sungguhan!

Bermula dari IMD

Setelah berkali-kali berpesan ke Ayah untuk membantu bunda memastikan Gaza diberikan IMD langsung setelah lahir, (karena takutnya bunda terlalu lemah/ga sadar pasca melahirkan untuk meminta IMD ke dokternya) akhirnya jadi juga Gaza IMD. Setelah pergulatan 12 jam yang terasa ga ada abisnya saat induksi sampai melahirkan, Gaza yang masih kebiruan itu diletakkan di dada bunda. Tanpa dimandikan dulu. Ayahnya langsung membacakan adzan dan iqamat di telinga Gaza :’) pengennya, Gaza lebih lama lagi skin-to-skin contact bersama bunda. Dan membiarkan dia dengan instingnya merangkak di dada bunda dan mencari sendiri sumber makanannya. Tapi karena Gaza diinduksi, harus segera diobservasi. Jadilah si suster dengan “sigapnya” menjejalkan mulut Gaza ke aerola bunda. 1..2..3..hup. Suster mengambil Gaza. “jangan suster..jangan dulu”😦

Flat Nipple

Ternyata nipple bunda tetap flat! Bunda pikir, setelah Gaza lahir, otomatis nipple bunda akan keluar sendiri. Olala.. gimana caranya nyusuin dengan nipple yang flat? Berkali-kali bunda coba menyusui Gaza, tapi dia ga bisa-bisa. Lepas lagi, lepas lagi. Bunda coba inget-inget materi tentang Lacth-on yang benar, bunda coba praktekkan, tapi tetap, ga bisa-bisa. Sedih..Kenapa ga ada yang ngasih tau kalo flat nipple harus dikeluarkan sebelum melahirkan?? Jadi kesel tiap kali ada yang komentar/tanya : emangnya ga dicoba keluarin waktu hamil?. Kalo tau juga udah dilakuin! Kenapa baru komentar sekarang??! Ga solutif banget sih? bunda ga butuh saran-saran basi! Yang bunda butuhkan, apa yang harus bunda lakukan sekarang dengan kondisi ini?

Nipple Shield

Hari-hari berikutnya adalah perjuangan bunda mengeluarkan nipple. Berbagai cara bunda lakukan. Mulai pijat-pijat, perah dengan breastpump, sampai disedot pakai spuit yang sakitnya minta ampun. Sementara itu, bunda menggunakan nipple shield dari P*g**n, yang dibelikan t’ Fitri saat tau kondisi nipple bunda. Alhamdulillah dengan itu Gaza bisa latch-on. Senangnya melihat Gaza dengan lahapnya menyusu (mungkin karena dilapis karet, jadi nyedotnya lebih berat). Alhamdulillah, sedikit-sedikit nippple bunda mulai keluar. Perih juga. Karena awalnya di dalem, kemudian ketika keluar, tanpa dilapis kulit.

Ketika akikah, dengan bantuan Bule Nunuk, kami memaksa Gaza untuk berlatih menyusu langsung, tanpa karet itu. Hampir setengah jam Gaza mencoba latch-on, ga bisa-bisa. Lepas lagi-lepas lagi. bunda mulai tegang. Keringat bercucuran. Karena ga juga berhasil, Gaza mulai marah-marah. Makin panik lah bunda. Tapi bule Nunuk bersikeras, harus dipaksa! Walaupun sebenernya ga tega liat Gaza yang marah gitu, bunda setuju dengan bule Nunuk. Akhirnya, Gaza bisa! Gaza pinter! (bundanya juga..) Senangnya! bunda terharu..😥 bunda jadi semakin yakin. Suatu saat Gaza akan bisa menyusu langsung tanpa bantuan karet🙂 Berikutnya bunda selalu mencoba untuk tidak menggunakan nipple shield. Tapi karena Gaza belum bisa, dan marah karena keburu laper, seringkali bunda ga tega, dan kembali menggunakan nipple shield.

Keringat, darah dan air mata

Alhamdulillah, Gaza totally lepas nipple shield sejak usianya 1 bulan-an. Tapi masalah lain datang. Nipple bunda semakin lecet. Rusak. Seringkali berdarah. Dan setiap kali menyusu, bunda harus mengumpulkan keberanian dulu. Setiap awal Gaza latch-on, wadauu.. sakitnya luar biasa! Sampai menjerit, meringis, kaku semua badan, keringat bercucuran. Kalo udah ga tahan banget, bunda palingkan wajah dari Gaza dan menangis. Kadang bunda putus asa. Kapan bisa sembuh? Kapan bisa merasakan nikmatnya menyusui? Tapi, bunda harus kuat. bunda harus tahan. Apalagi melihat betapa nikmatnya Gaza menyusu langsung dari bunda, berangsur-angsur, rasa sakit itu mereda.

Beberapa kali, kalo bunda sudah benar-benar ga kuat. bunda meminta Gaza minum pake sendok. Dengan dalih, biar Gaza belajar mimik dari sendok..Maaf ya sayang, Bunda lemah..

Perlengkapan ‘perang’

Bagi bunda, saat menyusui adalah saatnya perjuangan. bunda suka iri kalo lihat ibu lain dengan mudahnya menyusui anaknya dimanapun, kapanpun. Ketika anaknya minta, dia tinggal buka pabrik, kasih ke anaknya, dan slurp..Sedangkan bunda, di minggu-minggu awal untuk menyusui bunda butuh perlengkapan-perlengkapan ini :

  • nipple shield

  • tissue/lap untuk bersihin ASI yang belepotan

  • Kapas basah untuk membersihkan nipple, beserta termos air anget buat basahin kapasnya

  • bantal untuk senderan, bantal untuk menyangga badan Gaza, dan bantal untuk kepala Gaza

  • perlak kecil untuk alas Gaza

  • minyak leutik untuk dioles ke nipple bunda

Haaah..repoooot pisan.. bunda ga kebayang, gimana kalo setiap menyusui harus seperti ini?? Masa kemana-mana harus bawa segitu banyak perlengkapan??

Satu bulan bunda jalani menyusui dengan kondisi seperti itu. Repot emang. Dan kalo ga mau terus-terusan repot, bunda harus memaksa diri bunda mengurangi sedikit demi sedikit alat bantunya. Mulai dari mengurangi nipple shield setelah bulan pertama, kemudian bantal kepala Gaza, kapas basah, etc. Dan di usia 2 bulan, bunda sudah bisa menyusui Gaza di taman Ganesha🙂

Menabung ASI

Karena bunda harus kembali bekerja, supaya Gaza tetap bisa ASIX, maka bunda harus punya persediaan ASI. Mulailah belajar memerah. Awalnya bunda memerah dengan perahan pencet, yang bentuknya kaya terompet. Tapi lama-lama itu membuat PD bunda nyeri, dan belakangan bunda baru tau kalo alat perah seperti itu sudah tidak dianjurkan lagi karena tidak bisa disterilkan. Mulailah bunda memerah dengan tangan. Ternyata memerah dengan tangan lebih mudah, praktis dan nyaman. Apalagi setelah ikut KLASI AIMI, bunda jadi tahu bagaimana pijat PD untuk merangsang LDR (Let Down Reflecs), sehingga ASI lebih mudah keluar. Bunda pun menampung ASI dari LDR PD yang tidak disusui. Ternyata lumayan, sekali menyusui, bisa dapet 50cc! Pantesan, kalo lagi menyusui yang kanan, yang kiri bisa banjir. Wong yang keluar banyak banget! Sampai sekarang, bunda masih mempraktekan menampung LDR dari PD yang tidak disusui. Bahkan, hampir sebagian besar tabungan ASI bunda adalah hasil tampungan, bukan perahan. ASIT istilahnya, ASI tampung😀 bunda hanya memerah satu-dua kali di kantor.

Karena harus menyimpan ASIP dan ASIT, bunda “terpaksa” beli kulkas. Yihii.. Isi kulkas kita, selain bahan-bahan masakan (bunda jadi rajin masak sejak punya kulkas lho..) ya ASIP. Di bawah chiller adalah ASIP fresh from the factory dan ASIP siap minum. Sedangkan di freezer ada lebih dari 15 botol ASIP beku. Seringkali bunda terpaksa membuang ASIP karena tidak ada lagi wadah untuk menampung ASIT yang fresh. Ya, sekalian “meremajakan” stok ASIT. Rasanya sayang banget buang-buang ASIT, apalagi kalo inget banyak saudara bunda yang ga bisa menyusui anaknya karena ASInya ga keluar/dikit. Pengen rasanya mendonorkan ASI bunda. Mudah-mudahan bunda ga “kualat” karena buang-buang ASIT.

Alhamdulillah, bunda diberikan Allah rizki berupa ASI yang melimpah. Brestpad sehari bisa ganti 3 kali karena penuh terus. Waktu masih tinggal di bogor dan Jakarta, bunda senantiasa diberikan makanan-makanan yang dipercaya bisa menambah ataupun mengentalkan ASI. Segala macem deh, dari mulai sayur katuk, sayur bayem, kacang merah, bubur dan jus kacang hijau, jus kacang kedele, kacang tanah goreng, susu ibu menyusui, sampe daun pepaya. Kalo mama bawa makanan, pasti bunda yang diprioritaskan untuk makan. “Lintang tuh, kan harus nyusuin. Biar ASInya banyak”. Enak juga😀 Alhamdulillah, saat bunda pulang ke Bandung, tanpa digenjot segitu banyak makanan (komposisi makan bunda biasa aja, tapi tetep gizi seimbang dong), ASI bunda tetap melimpah. Mungkin faktor lain yang berperan disini : dukungan penuh dari ayah, the truly Breastfeeding Father dan keyakinan bunda akan banyaknya ASI bunda.

Mimik ASIP

Ayah dan Bunda sengaja tidak mengenalkan Gaza dengan dot. Supaya nanti mudah menyapihnya dan Gaza ga bingung putting. Karena kan beda mengisap dot dengan menyusu langsung. Menurut salah seorang DSA yang sangat pro ASI, ketika menyusu otot yang bekerja adalah otot rahang atas, rahang bawah dan lidah. Sedangkan saat nge-dot, yang dipakai cuma otot lidah, sehingga kedua otot yang harusnya bergerak tadi, tidak terlatih. Karena itu, Gaza harus belajar mimik pake sendok. Wah, awal-awal nyuapin Gaza dengan sendok, bikin ga tega. Gaza nya ngamuk-ngamuk, tangannya bergerak-gerak, susu tumpah kemana-mana. Gazanya nangis makin kejer. Rasanya pengen kasih dot aja biar Gaza ga trauma. Atas rekomendasi t’Fitri, Ayah Bunda melatih Gaza minum pake cup feeder. Alhamdulillah, Gaza mau! Malah cepet banget minumnya. Yang penting harus inget kuncinya : jangan tunggu Gaza laper banget, khawatir keburu marah; jangan disuapin sama Bunda, nanti Gaza minta nenen langsung dan harus sabar.

ASI is the BEST gift for baby..

If we can give the BEST, GOOD is not enough!”

Sometimes, we can get the best by free : breast milk”

Berbekal ikutan milis yang pro ASI, browsing-browsing tentang ASI dan breastfeeding, sampe join kelas edukasinya AIMI (Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia), semakin membulatkan tekad bunda untuk memberikan yang terbaik untuk Gaza : ASI. Tapi ternyata ga semudah yang bunda bayangkan sebelumnya! Bunda pikir, karena menyusui adalah fitrah wanita, pasti semua akan berjalan secara otomatis. Mudah. Seperti fitrah manusia untuk bernafas, makan, dll. Bagi bunda, menyusui benar-benar sebuah perjuangan total. Allahu Akbar! Kalo ada istilah “dengan keringat, darah dan air mata” maka begitulah perjuangan bunda menyusui. Bukan. Bukan cuma konotasi hiperbola, tapi keringat, darah, dan air mata sungguhan!

Bermula dari IMD

Setelah berkali-kali berpesan ke Ayah untuk membantu bunda memastikan Gaza diberikan IMD langsung setelah lahir, (karena takutnya bunda terlalu lemah/ga sadar pasca melahirkan untuk meminta IMD ke dokternya) akhirnya jadi juga Gaza IMD. Setelah pergulatan 12 jam yang terasa ga ada abisnya saat induksi sampai melahirkan, Gaza yang masih kebiruan itu diletakkan di dada bunda. Tanpa dimandikan dulu. Ayahnya langsung membacakan adzan dan iqamat di telinga Gaza :’) pengennya, Gaza lebih lama lagi skin-to-skin contact bersama bunda. Dan membiarkan dia dengan instingnya merangkak di dada bunda dan mencari sendiri sumber makanannya. Tapi karena Gaza diinduksi, harus segera diobservasi. Jadilah si suster dengan “sigapnya” menjejalkan mulut Gaza ke aerola bunda. 1..2..3..hup. Suster mengambil Gaza. “jangan suster..jangan dulu”😦

Flat Nipple

Ternyata nipple bunda tetap flat! Bunda pikir, setelah Gaza lahir, otomatis nipple bunda akan keluar sendiri. Olala.. gimana caranya nyusuin dengan nipple yang flat? Berkali-kali bunda coba menyusui Gaza, tapi dia ga bisa-bisa. Lepas lagi, lepas lagi. Bunda coba inget-inget materi tentang Lacth-on yang benar, bunda coba praktekkan, tapi tetap, ga bisa-bisa. Sedih..Kenapa ga ada yang ngasih tau kalo flat nipple harus dikeluarkan sebelum melahirkan?? Jadi kesel tiap kali ada yang komentar/tanya : emangnya ga dicoba keluarin waktu hamil?. Kalo tau juga udah dilakuin! Kenapa baru komentar sekarang??! Ga solutif banget sih? bunda ga butuh saran-saran basi! Yang bunda butuhkan, apa yang harus bunda lakukan sekarang dengan kondisi ini?

Nipple Shield

Hari-hari berikutnya adalah perjuangan bunda mengeluarkan nipple. Berbagai cara bunda lakukan. Mulai pijat-pijat, perah dengan breastpump, sampai disedot pakai spuit yang sakitnya minta ampun. Sementara itu, bunda menggunakan nipple shield dari P*g**n, yang dibelikan t’ Fitri saat tau kondisi nipple bunda. Alhamdulillah dengan itu Gaza bisa latch-on. Senangnya melihat Gaza dengan lahapnya menyusu (mungkin karena dilapis karet, jadi nyedotnya lebih berat). Alhamdulillah, sedikit-sedikit nippple bunda mulai keluar. Perih juga. Karena awalnya di dalem, kemudian ketika keluar, tanpa dilapis kulit.

Ketika akikah, dengan bantuan Bule Nunuk, kami memaksa Gaza untuk berlatih menyusu langsung, tanpa karet itu. Hampir setengah jam Gaza mencoba latch-on, ga bisa-bisa. Lepas lagi-lepas lagi. bunda mulai tegang. Keringat bercucuran. Karena ga juga berhasil, Gaza mulai marah-marah. Makin panik lah bunda. Tapi bule Nunuk bersikeras, harus dipaksa! Walaupun sebenernya ga tega liat Gaza yang marah gitu, bunda setuju dengan bule Nunuk. Akhirnya, Gaza bisa! Gaza pinter! (bundanya juga..) Senangnya! bunda terharu..😥 bunda jadi semakin yakin. Suatu saat Gaza akan bisa menyusu langsung tanpa bantuan karet🙂 Berikutnya bunda selalu mencoba untuk tidak menggunakan nipple shield. Tapi karena Gaza belum bisa, dan marah karena keburu laper, seringkali bunda ga tega, dan kembali menggunakan nipple shield.

Keringat, darah dan air mata

Alhamdulillah, Gaza totally lepas nipple shield sejak usianya 1 bulan-an. Tapi masalah lain datang. Nipple bunda semakin lecet. Rusak. Seringkali berdarah. Dan setiap kali menyusu, bunda harus mengumpulkan keberanian dulu. Setiap awal Gaza latch-on, wadauu.. sakitnya luar biasa! Sampai menjerit, meringis, kaku semua badan, keringat bercucuran. Kalo udah ga tahan banget, bunda palingkan wajah dari Gaza dan menangis. Kadang bunda putus asa. Kapan bisa sembuh? Kapan bisa merasakan nikmatnya menyusui? Tapi, bunda harus kuat. bunda harus tahan. Apalagi melihat betapa nikmatnya Gaza menyusu langsung dari bunda, berangsur-angsur, rasa sakit itu mereda.

Beberapa kali, kalo bunda sudah benar-benar ga kuat. bunda meminta Gaza minum pake sendok. Dengan dalih, biar Gaza belajar mimik dari sendok..Maaf ya sayang, Bunda lemah..

Perlengkapan ‘perang’

Bagi bunda, saat menyusui adalah saatnya perjuangan. bunda suka iri kalo lihat ibu lain dengan mudahnya menyusui anaknya dimanapun, kapanpun. Ketika anaknya minta, dia tinggal buka pabrik, kasih ke anaknya, dan slurp..Sedangkan bunda, di minggu-minggu awal untuk menyusui bunda butuh perlengkapan-perlengkapan ini :

  • nipple shield

  • tissue/lap untuk bersihin ASI yang belepotan

  • Kapas basah untuk membersihkan nipple, beserta termos air anget buat basahin kapasnya

  • bantal untuk senderan, bantal untuk menyangga badan Gaza, dan bantal untuk kepala Gaza

  • perlak kecil untuk alas Gaza

  • minyak leutik untuk dioles ke nipple bunda

Haaah..repoooot pisan.. bunda ga kebayang, gimana kalo setiap menyusui harus seperti ini?? Masa kemana-mana harus bawa segitu banyak perlengkapan??

Satu bulan bunda jalani menyusui dengan kondisi seperti itu. Repot emang. Dan kalo ga mau terus-terusan repot, bunda harus memaksa diri bunda mengurangi sedikit demi sedikit alat bantunya. Mulai dari mengurangi nipple shield setelah bulan pertama, kemudian bantal kepala Gaza, kapas basah, etc. Dan di usia 2 bulan, bunda sudah bisa menyusui Gaza di taman Ganesha🙂

Menabung ASI

Karena bunda harus kembali bekerja, supaya Gaza tetap bisa ASIX, maka bunda harus punya persediaan ASI. Mulailah belajar memerah. Awalnya bunda memerah dengan perahan pencet, yang bentuknya kaya terompet. Tapi lama-lama itu membuat PD bunda nyeri, dan belakangan bunda baru tau kalo alat perah seperti itu sudah tidak dianjurkan lagi karena tidak bisa disterilkan. Mulailah bunda memerah dengan tangan. Ternyata memerah dengan tangan lebih mudah, praktis dan nyaman. Apalagi setelah ikut KLASI AIMI, bunda jadi tahu bagaimana pijat PD untuk merangsang LDR (Let Down Reflecs), sehingga ASI lebih mudah keluar. Bunda pun menampung ASI dari LDR PD yang tidak disusui. Ternyata lumayan, sekali menyusui, bisa dapet 50cc! Pantesan, kalo lagi menyusui yang kanan, yang kiri bisa banjir. Wong yang keluar banyak banget! Sampai sekarang, bunda masih mempraktekan menampung LDR dari PD yang tidak disusui. Bahkan, hampir sebagian besar tabungan ASI bunda adalah hasil tampungan, bukan perahan. ASIT istilahnya, ASI tampung😀 bunda hanya memerah satu-dua kali di kantor.

Karena harus menyimpan ASIP dan ASIT, bunda “terpaksa” beli kulkas. Yihii.. Isi kulkas kita, selain bahan-bahan masakan (bunda jadi rajin masak sejak punya kulkas lho..) ya ASIP. Di bawah chiller adalah ASIP fresh from the factory dan ASIP siap minum. Sedangkan di freezer ada lebih dari 15 botol ASIP beku. Seringkali bunda terpaksa membuang ASIP karena tidak ada lagi wadah untuk menampung ASIT yang fresh. Ya, sekalian “meremajakan” stok ASIT. Rasanya sayang banget buang-buang ASIT, apalagi kalo inget banyak saudara bunda yang ga bisa menyusui anaknya karena ASInya ga keluar/dikit. Pengen rasanya mendonorkan ASI bunda. Mudah-mudahan bunda ga “kualat” karena buang-buang ASIT.

Alhamdulillah, bunda diberikan Allah rizki berupa ASI yang melimpah. Brestpad sehari bisa ganti 3 kali karena penuh terus. Waktu masih tinggal di bogor dan Jakarta, bunda senantiasa diberikan makanan-makanan yang dipercaya bisa menambah ataupun mengentalkan ASI. Segala macem deh, dari mulai sayur katuk, sayur bayem, kacang merah, bubur dan jus kacang hijau, jus kacang kedele, kacang tanah goreng, susu ibu menyusui, sampe daun pepaya. Kalo mama bawa makanan, pasti bunda yang diprioritaskan untuk makan. “Lintang tuh, kan harus nyusuin. Biar ASInya banyak”. Enak juga😀 Alhamdulillah, saat bunda pulang ke Bandung, tanpa digenjot segitu banyak makanan (komposisi makan bunda biasa aja, tapi tetep gizi seimbang dong), ASI bunda tetap melimpah. Mungkin faktor lain yang berperan disini : dukungan penuh dari ayah, the truly Breastfeeding Father dan keyakinan bunda akan banyaknya ASI bunda.

Mimik ASIP

Ayah dan Bunda sengaja tidak mengenalkan Gaza dengan dot. Supaya nanti mudah menyapihnya dan Gaza ga bingung putting. Karena kan beda mengisap dot dengan menyusu langsung. Menurut salah seorang DSA yang sangat pro ASI, ketika menyusu otot yang bekerja adalah otot rahang atas, rahang bawah dan lidah. Sedangkan saat nge-dot, yang dipakai cuma otot lidah, sehingga kedua otot yang harusnya bergerak tadi, tidak terlatih. Karena itu, Gaza harus belajar mimik pake sendok. Wah, awal-awal nyuapin Gaza dengan sendok, bikin ga tega. Gaza nya ngamuk-ngamuk, tangannya bergerak-gerak, susu tumpah kemana-mana. Gazanya nangis makin kejer. Rasanya pengen kasih dot aja biar Gaza ga trauma. Atas rekomendasi t’Fitri, Ayah Bunda melatih Gaza minum pake cup feeder. Alhamdulillah, Gaza mau! Malah cepet banget minumnya. Yang penting harus inget kuncinya : jangan tunggu Gaza laper banget, khawatir keburu marah; jangan disuapin sama Bunda, nanti Gaza minta nenen langsung dan harus sabar.

Filed under: Gaza,

2 Responses

  1. re_here says:

    subhanalloh,begitu beratnya perjuanganmu kak..(ngebayangin,ntar aq gmn y?). alhamdulillah kl sekarang dah g mslh. dah lama bgt g ktemu kak lintang.mudah2an sdg dlm keadaan yg baik y

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Aku dan dia

Kidzsmile Foundation

AIMI Jabar

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 7 other followers

Yang silaturahim

  • 66,921 hits
%d bloggers like this: