Keluarga Alamanda

Icon

. cerita bunda . cerita keluarga mahayattika .

Bicara dengan hati

“Bicara dari hati, akan sampai di hati”

Aku belajar banyak saat mengisi di sebuah talkshow tentang Jilbab kemarin. Dimana aku dipanelkan dengan narasumber lain yang “kelasnya” jauuuh di atasku. Pengalaman dan jam terbangnya tidak diragukan lagi. Kalau bicara tentang beliau, orang akan bilang “siapa yang ga tau dia?”, sedangkan aku “siapa dia??” Beda-beda tipis sih😀 Alhamdulillahnya, aku baru ngeh kalo sparing partnerku itu adalah public figure yang cukup di-segani, beberapa saat sebelum sesi talkshow dimulai. Coba kalau tau dari awal, wadaww pasti aku langsung menolak karena minder, ga PD. Secara aku ini kan dulunya pemalu..hihiy..

Allah sang pembuat skenario telah mengatur ini semua. Ya, tidak ada yang kebetulan di dunia ini. Semunya adalah by design. Aku sebenarnya adalah narasumber pengganti, karena yang sedianya sudah konfirm untuk mengisi acara, tiba-tiba (atas kehendak Allah) sakit. Panitia, sudah bingung cari penggantinya karena sudah H-15 jam, dan akhirnya nembak kesediaanku (inipun tentunya karena Allah yang menggerakkan jari panitia untuk menekan no HPku). Ya, awalnya ragu sih, karena belum nyiapin apa-apa. Tapi ku-iya-kan saja. Pikirku, inilah saatnya belajar. Ya tho?

Malamnya aku bekerja keras menyusun materi, membuat slide show yang sekiranya menarik, sistemik dan mudah dipahami Juga latihan supaya flow-nya runtun. Edit-edit lagi, dirombak lagi. Dan Bismillah..sudah siap, Insya’Allah!

Singkat cerita, talkshow berjalan lancar. Aku diberi kesempatan untuk memaparkan bagianku terlebih dahulu. Juga saat sesi tanya jawab. Alhamdulillah, karena bila aku belakangan, aku pasti merasa terbeban jika sudah mendengar pemaparan dari yang lebih “senior”. Asli ga PD…

Beliau tampil begitu bersahaja. Tanpa slide warna-warni dan penuh gambar menarik, tanpa harus berjalan kesana-kemari. Tapi aku bisa merasakan “pesona”nya. Dalam kata-kata yang terangkai rapi, teratur, tidak terburu-buru, tapi penuh makna, aplikatif dan mengena! Kalau diperhatikan, apa yang kami sampaikan (secara content) tidak jauh berbeda. Malahan beliau seringkali (dengan rendah hatinya) menguatkan dan menyatakan setuju dengan apa yang aku sampaikan. Dan jujur saja, ketika beliau yang menyampaikan, terasa lebih kena di hati. Aku pun melihat audience begitu fokus saat beliau berbicara, manggut-manggut, kadang senyum-senyum karena merasa tersindir.

Di pinggir panggung, setelah sesi selesai, aku pun menyatakan kekaguman atas performanya. Dan beliau dengan rendah hati bilang, “ini hanya masalah jam terbang, suatu saat Lintang juga akan terbiasa”. Dan satu pesan beliau, untuk lebih menggunakan hati, tidak sekadar akal. Zlepph.. betul.. Kata-katanya bisa begitu mengena karena beliau berbicara dengan hati. Dari hati akan sampai ke hati. Tidak letterlek terpaku pada TOR atau slide. Pemaparannya begitu dinamis, menyesuaikan kondisi audience saat itu.

Terkadang kita begitu bersemangat menumpahkan segala pengetahuan yang kita tahu. Tapi kita lupa memilah-milah apa yang sebenarnya dibutuhkan oleh pendengar. Karena percuma saja bila hanya “membebani” mereka seubrek-ubrek informasi tentang sesuatu, jika sebenarnya mereka tidak siap/tidak mau menerimanya. Kadang kita juga terlalu terpaku pada teori ini-itu. Padahal kondisinya bisa saja berbeda dan tidak sesuai.

Menyampaikan sesuatu tentang agama Allah, tentunya harus disertai dengan kedekatan padaNya. Agar Ia memudahkan lisan kita, sehingga kita diperkenankan menjadi perantara hidayanya. Melindungi dari kata-kata yang tidak sesuai, dari kesombongan, dan dari hal-hal yang hanya bisa kita sampaikan tanpa kita sendiri amalkan. Agar Ia juga membukakan hati para pendengar/objek dakwah kita. Karena Ialah yang memiliki hati manusia..

wallahu’alam bishshawwab..

"kenang-kenangan" bersama beliau yang menginspirasiku hari itu

Filed under: Bunda

2 Responses

  1. dulu aku juga pernah tang sepanggung ama Bu Neno Warisman.kalo inget itu jadi maluu pisan..bu Neno yang ngomongnya sistematis dan tepat sasaran sedangkan diriku ngomongnya ngalor ngidur dan jatohnya malah curhat hehehe..tapi berhubung ceritanya setulus hati seputih salju semurni intan,mudah2an audience ngerti maksudku walaupun ceritanya amburadul🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Aku dan dia

Kidzsmile Foundation

AIMI Jabar

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 7 other followers

Yang silaturahim

  • 66,921 hits
%d bloggers like this: