Keluarga Alamanda

Icon

. cerita bunda . cerita keluarga mahayattika .

Peran Peradaban

Setelah beberapa kali ikutan kelasnya Pak Harry Sentosa, lalu Talent Mappingnya Abah Rama, aku yakin, setiap diri ini sudah punya “peran peradaban”nya masing-masing. Terkait dengan potensi karakter dan bakat yang khas darinya, yang Allah ciptakan untuk menunjang peran tersebut.

Lalu aku berfikir, sebenernya apa peran peradabanku?

Sesuatu yang membuatku berarti, bermakna, dan bermanfaat bukan hanya untuk diriku sendiri, tapi untuk orang lain.

Kalau melihat latar belakang pendidikan formalku, Teknik Elektro, lalu perjalananku sampai akhirnya jadi ditakdirkan mencicipi profesi sebagai peneliti bidang Komputer. Tentunya gak ada yang salah dengan itu. Meskipun akhirnya dengan berani dan mantap aku tinggalkan jabatan itu karena memang hati ini gak bisa dibohongin, aku tidak suka elektro, aku tidak suka programming. Tapi pasti ada sesuatu yang membuat Allah menuliskan aku harus mampir dulu disitu.

Perjalananku menemukan teman sejati, ayahnya anak-anak. Lalu perkenalanku dengan dunia parenting dan pendidikan, sampai akhirnya mendalami dunia laktasi, ini adalah jalan berliku (banget) untuk sampai ke track-ku, bila memang benar ini jalannya.

Dan sampai saat ini, aku pun masih belum 100% mantap. DUNIA LAKTASI, inikah jalan dakwahku?

Kalau kompetensi ini diukur dengan diakuinya diriku sebagai konsultan internasional IBCLC, tentu aku tidak akan sampai. Apalah aku, dengan background teknik yang jauh dari dunia kesehatan. Persyaratan dasarnya saja tidak terpenuhi.

Kalau kebermanfaatan ini diukur dengan jumlah ibu yang terbantu. Waduuh.. ini lebih jauh lagi. Dengan kendalaku yang tidak bisa terlalu mobile, karena terikat jam kerja dan anak-anak yang masih kecil, jam terbang konselingku masih sangat minim untuk dikatakan sudah memberi manfaat.

Kalau pengakuan ini diukur dari jumlah karya yang dibuat, buku yang diterbitkan, artikel yang dibuat.. heuh.. maluu.. aku belum berbuat apa-apa. Banyak sekali diluaran sana yang dengan produktif menulis, mengedukASI, dan menginspirASI banyak orang. Sedangkan aku, karya yang kutulis baru sebatas saran untuk ibu yang konsultasi via Whatsapp atau FB messengger. Artikel yang ada barulah artikel pendahuluan untuk kelas online di whatsapp.

Tapi aku menikmatinya.

Aku antusias untuk belajar lebih dalam lagi tentang dunia laktasi. Menemukan fakta-fakta luar biasa tentang kehebatan ASI dan menyusui yang terus berkembang. Mengetahui bahwa proses natural ibu yang menyusui anaknya ini bukan hanya proses transfer nutrisi. Tapi juga membentuk ketahanan tubuh, optimalisasi kecerdasan kognitif dan emosional. Tak heran bila menyusui adalah anjuran yang tertulis dalam Al Qur’an karena memang ternyata sangat amazing. Menyusui adalah proses alami yang menjadi dasar kuat bagi seorang insan manusia untuk bisa tumbuh paripurna dalam seluruh aspeknya. Sayangnya, banyak dari kita belum mengetahuinya. Atau tahu, tapi pada prakteknya menemukan tantangan dan akhirnya gagal.

Yup. Dunia laktasi.

Inilah (salah satu) jurusan yang ingin kutekuni dalam universitas kehidupan ini.
Aku ingin membantu sesama ibu, mengedukASI mereka tentang pentingnya memberikan ASI pada buah hatinya.  MengedukASI bahwa tiap tetes ASInya adalah miracle yang harus diperjuangkan. Karena ASI adalah hak bayi untuk tumbuh optimal dan menyempurnakan susuan adalah perintah Allah. Karena bayi-bayi muslim yang sehat, pintar dan cerdas secara emosi adalah calon pemimpin kita nantinya.

Maka memang aku harus terus belajar, meningkatkan kapasitas diri, mengupdate selalu dengan penelitian dan ilmu terbaru, bertemu sebanyak ibu sebisa yang aku lakukan, memperbanyak jam terbang konseling dan menemui banyak kasus. Dan aku harus mulai mengikat ilmu ini dengan menulis. Ya, menulis menstrukturkan pemikiran, mengendapkan ilmu dan me-recall pengetahuan, yang jelas dengan menulis, aku bisa menyebarkan informASI dan mengedukASI lebih banyak orang. Inilah jejakku yang mungkin akan tetap ada bahkan ketika aku tidak ada.

Tak perlulah saat ini aku menghitung-hitung apa yang belum aku lakukan. Tapi mulai menghargai apa hal kecil yang sudah aku mulai. Menghargai setiap effortku. Bukan, bukan untuk ujub, tapi untuk meyakinkan diri, aku sudah berjalan sejauh ini dan aku berada di jalur yang tepat. Dan suatu saat, bila aku memang layak, kompetensiku mumpuni, aku akan lantang berkata “Ya, dunia laktasi ini memang jalanku. Dan aku terlahir untuk membantu ibu memberikan ASI pada anak-anaknya”.konseling-di-bansel

Tulisan ini dibuat untuk memenuhi tugas Matrikulasi Institut Ibu Profesional – NHW#1

Filed under: Bunda, , , , , , ,

3 Responses

  1. Assalamualaikum Mbak Lintang, salam kenal yah🙂, suka dengan kalimatnya yg ini “Tapi pasti ada sesuatu yang membuat Allah menuliskan aku harus mampir dulu disitu” karena mengingatkan saya kembali yang saat ini sedang berjuang “recovery” hati agar ikhlas seutuhnya bahwa anak saya sejatinya bukan milik saya sehingga wajar bila saat ini Allah “minta” kembali. Selaras dgn nada tulisan mbak tentu yang saat ini sedang coba saya tabahi pasti ada sesuatu kenapa Allah perkenankan saya alami ini.

    Well, Mudah2an apa yang Allah amanahkan untuk kita mampu kita garap dalam kesyukuran, Aamiin Yaa Fattah🙂

    • Lintang DF says:

      Halo mba erlina.. turut berduka atas kehilangan anaknya. Pasti berat ya mba. Sayapun pernah ngerasain, meskipun masih di kandungan.

      ada 1 magic word yang senantiasa membuat saya lebih kuat menjalani qadar Allah : “Ketetapan Allah itu pasti baik.. apakah akan membuat kita jadi bersyukur, ataupun bersabar” tinggal kitanya yang berusaha menggali hikmahnya.

      Semangat mba🙂

  2. […] lagi NHW#1, ketika ditanya apa jurusan yang ingin diambil di universitas kehidupan, dan saya jawab saya ingin […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Aku dan dia

Kidzsmile Foundation

AIMI Jabar

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 7 other followers

Yang silaturahim

  • 66,921 hits
%d bloggers like this: