Keluarga Alamanda

Icon

. cerita bunda . cerita keluarga mahayattika .

Membangun Peradaban dari Dalam Rumah

#NHW3 ini yang bikin saya stuck karena sulit menuliskannya. Dan berujung dengan telat mengumpulkan dan merembet ke NHW berikut-berikutnya. Ya karena diminta untuk jatuh cinta kembali ke suami. Bukan karena tak cinta, atau karena tak ada respon. Tapi karena saya sulit menuliskannya dalam kata-kata. Padahal tugas surat cintanya sudah dibuat, sudah diberikan, tapi penulisan NHW nya yang mandeg.

Dan karena saya sudah nunggak 3 buah NHW, baiklah.. Allahummapaksakeun. Bismillah..

a. Jatuh cinta kembali

Jadi begini ceritanya.

Dari awal saya kepo-in Multiply laki-laki yang sekarang jadi bapaknya anak-anak, saya udah yakin , “He’s the one”. Entah kenapa, rasa “klik” itu muncul ketika membaca idenya via tulisannya di blog. Saya tidak kenal dengannya sebelumnya. Saya baru pindah dari ibukota, ke kota kembang karena diterima bekerja di LIPI. Saat itu saya yang terbiasa punya aktifitas, sedang mencari kegiatan lain di luar kerjaan. Dan Allah mempertemukan kami di dunia maya. Berlanjut dengan tawaran dia untuk ikut bergabung dalam lembaga dakwah sekolah, sebutlah LP2I, dan bantu-bantu alumni rohis sebuah SMA di Dago. Kebetulan sebelumnya saya memang terjun di dakwah sekolah, jadi tawaran itu saya terima dengan semangat.

Beberapa bulan setelah itu, Lelaki ini menyatakan ingin mengkhitbah, menemui orang tua saya. Singkat cerita, kami akhirnya menikah. Ternyata firasat saya memang benar sejak 9 bulan sebelumnya kami “bertemu” pertama kali di multiply. Ternyata memang kami berjodoh :p Saya memang pernah membuat proposal pernikahan, yang di dalamnya ada kriteria-kriteria calon pendamping yang saya harapkan. Proposal itu dibuat jauh sebelum bertemu dengan si calon suami. Tapi ketika lelaki ini menyatakan niatnya, saya tidak terlalu kenal dia, dan sayapun tidak membaca lagi kriteria tersebut. Rasa itu saja yang membimbing saya mantap menerima pinangannya.

lelakiku

Dan alhamdulillah.. ternyata memang yang namanya jodoh itu saling melengkapi. Saya merasakan sekali bagaimana lelaki ini bisa menambal kekurangan saya. Saya yang terlalu riweuh bin paciweh untuk membuat keputusan kecil sekalipun, selalu bisa mengandalkan dirinya yang tegas dan berani mengambil resiko. Saya yang ternyata kuper banget, sangat terbantu dengan dirinya yang tau segala hal dari mulai pendidikan anak sampai kegiatan intelijen. Saya yang suka disorientasi arah, sangat terbantu dengan dirinya yang emang tukang jalan. Yang hafal jalan-jalan tikus, peristiwa yang pernah dialami di daerah situ, sampai sejarah dan kisahnya.

Dia yang tidak pernah protes, meskipun skill masak saya begitu-begini aja. Gak pernah komplen saat rumah berantakan luar biasa, karen saya yang “asalnya” rada perfeksionis ini udah stress dan merasa ga enak banget dengan kondisi berantakan, kebayang kalo ditambah tuntutan suami yang ingin rumah rapi dan bersih selalu.

Dia yang menjalankan peran “kepala sekolah”nya dengan baik, memberi arahan pendidikan anak-anak dan mengejewantahkan visi keluarga pada mereka. Tidak sungkan untuk berbagi peran mengasuh dan mendidik anak, dari mulai menceboki anak, sampai bersusah payah demi anak-anak dapat pengalaman baru dalam hidupnya. Yang sangat terlibat dan peduli dengan tumbuhkembang anak-anak, bahkan sejak mereka masih dalam kandungan, masa-masa perjuangan ASI dan MPASI, hingga saat ini. Bahkan dia juga ikut mengajak ayah dan suami-suami lain untuk ikut terlibat dalam pengasuhan anak dengan AyahASI dan #ayahMain -nya. Makin terlihat “sexi” dia di mata saya😀

Dia yang selalu mendukung semua rencanaku untuk mengembangkan diri. Mau jualan baju anak online, dia nyariin softloan untuk modal, nganterin kulakan baju, promosiin toko, ngirim paket, dll dan ternyata mangkrak gitu aja karena aku akhirnya sadar kalo jualan baju itu ga cocok buatku :p selalu mensupportku sepenuh hati, untuk belajar hal baru. Mau jadi babysitter anak-anak saat saya ikutan pelatihan atau ngajar kelas. Dan hal-hal lain yang membuat saya merasa sangat didukung untuk mengembangkan diri.

Ya, mengingat moment-moment pertemuan saya dan suami, mengingat hal-hal “kecil” yang ternyata sangat berarti buat saya, juga betapa kami saaangat saling melengkapi, membuat getar-getar cinta ini kembali bersemi. Dialah memang orang yang Allah ciptakan untuk mendampingi saya. Orang yang menjadi teman perjuangan untuk menjalani peran peradaban saya.

Dan meskipun “surat cinta”, yang ditulis dengan susah payah menata hati karena pada saat itu saya lagi pundung berat sama suami, tidak dibalas dengan sesuatu yang romantis dalam kaca mata telenovela, tapi senyuman dan sorot matanya begitu romantis bagi saya. Cuitcuitt…

b. Berlian dalam diri mereka

Sejak tercerahkan dengan konsep Fitrah-Based Education, saya meyakini bahwa setiap anak itu bukan kertas kosong. Mereka adalah berlian yang menanti untuk digali keluar, digosok, ditempa. Mereka adalah tokoh peradaban dengan perannya masing-masing, yang perlu dikenali, ditemukan, diasah, difasilitasi untuk dikembangkan. Tugas kitalah para orang tua, untuk membantu anak menemukan berlian-nya.

Ketiga anak kami, masing-masing unik dan spesial dengan karakter, minat dan bakatnya. Masih menjadi PR kami untuk menemukembangkan potensi unik mereka itu dan memfasilitasi mereka agar potensinya itu dapat menjadi kekuatannya.

Muhammad Argaza Mahayattika

img_20140208_150043

Gaza (7 th) adalah anak kinestetis. Dia kuat di motorik kasar, seperti lari, lompat, ataupun melakukan aktifitas fisik lainnya. Terutama aktifitas fisik yang menantang, seperti panjat tebing, motorcross, skateboarding, dll. Matanya akan berbinar-binar bila diberi kesempatan untuk mencoba dan membuktikan betapa dia bisa menguasai aktifitas tersebut.

Gaza juga sangat suka tantangan dan kompetisi. Dia bisa mengerahkan seluruh kekuatan dan kemampuannya agar bisa jadi yang no.1. Ya, nomor SATU, bukan nomor dua apalagi lainnya. Saat ini, sifat kompetitif ini yang masih menjadi PR kami agar bisa berimbang dan fair. Bahwa juara 1 bukan segalanya. Kami mempersiapkan Gaza untuk melakukan yang terbaik tapi juga siap menerima kekalahan dan tidak down saat dia tidak menjadi yang terbaik.

Gaza juga kuat dalam mengingat. Apa yang pernah disampaikan, atau dia dengar, dia lihat, meskipun sekilas, terekam jelas dalam ingatannya. Gaza cerdas, dia mampu menghubungkan suatu peristiwa, dengan peristiwa lain yang menurutnya memiliki persamaan. Gaza juga bagus dalam kemampuan linguistiknya. Bila kita tidak pintar, dia bisa ‘memelintir’ ucapan kita untuk ‘menyerang’ kita :p. Atau dia gunakan bahasa negosiasi untuk mendapatkan apa yang dia mau. Saat ini kami sedang membiasakannya sholat 5 waktu, karena usianya sudah masuk tahap pendidikan itu. Dan alhamdulillah, setiap adzan terdengar, dia spontan meninggalkan aktifitasnya dan bergegas ke mesjid. Semoga fitrah ini terus dapat kami pupuk dan tumbuhkan, diiringi dengan pemahamannya akan makna ibadah itu sendiri. Gaza cukup perasa. Tapi dia tidak mengungkapkannya.

Cita-cita Gaza saat ini adalah ingin menjadi Arkeolog, setelah akhirnya dia menyadari bahwa The Flash hanyalah tokoh rekaan, dan tidak bisa bercita-cita menjadi seorang The Flash. Bisa dipahami, Arkeolog. Profesi yang cukup menantang. Mencari fosil dan peninggalan purba, meneliti dan ‘membaca’ situasi pada jaman hidupnya.

Maheswari Filandriani Mahayattika

 

berbentoFilan (5) adalah anak yang tekun. Dia menyukai pekerjaan-pekerjaan detil yang membutuhkan ketelitian, kerapihan dan konsistensi. Hampir setiap hari Filan bangun kemudian langsung menuju tempat belajarnya lalu mengerjakan worksheet, mewarnai, bermain puzzle, dll, dan tidur dengan pensil warna (bahkan gunting) masih dalam genggamannya, di meja belajarnya.

Filan suka merapihkan, mengkategorikan (seperti saya). Saat kakak dan adiknya asyik bikin bangunan dari balok, Filan asyik mensorting sesuai warna, bentuk, merapikan di kotaknya kembali.

Filan memiliki hati yang lapang. Padahal sampai umur ke-4 dia masih suka tantrum ketika kenyataan tidak PERSIS sesuai dengan keinginannya. Padahal dia juga tidak bisa mengungkapkan apa keingingan PERSISnya. Hanya bilang ‘begitu.. begini’, dan hanya dia yang bisa menerjemahkannya😀 Tapi sekarang, Filan-lah yang pertama mengalah, saat adiknya bersikeras mau topi Pinguin pilihan Filan, Filan akan memberikannya. Lalu ketika adiknya berganti pilihan ingin topi kelinci, pilihan Filan yang baru, Filan dengan senang hati mau menukarnya lagi. Dan ketika kakaknya mau topi Kelinci, Filan pun tidak keberatan menukarnya lagi dan menerima topi yang tersisa, topi Gajah.

Filan juga prefeksionis. Meskipun tidak se-sempurna ketika ia masih lebih muda dari ini. Filan akan bicara ketika ada sesuatu yang tidak sesuai dengan aturan yang ada. Pada lingkungan yang sudah dia kenali, dia akan mengatur, menasehati, dan menunjukkan apa yang seharusnya dilakukan.

Filan sangat menyukai crafting, atau dalam bahasanya : “bikin-bikin”. Dia bisa sangat asyik dan serius mengerjakan craftingnya. Juga memasak. Dia bahkan bercita-cita untuk memiliki toko kue sendiri. Saya sempat membuatkan video tentang minat dan cita-citanya ini untuk memotivasi Filan🙂

Filan akan menerima aturan ketika tau apa maksud aturan itu. Ketika diceritakan tentang manfaat sayuran bagi tubuh, dia akan semangat sekali makan sayuran, agar bisa sehat seperti yang diceritakan.

Arjuna Bagaskara Mayattika

bagas-sepeda

Bagas (3 th) adalah anak ekspresif, sanguinis, yang selalu ceria, ramah, dan someah. WOO nya tinggi, seperti ayahnya. Dia senang tampil dan menjadi bahan perhatian orang.

Seperti kakaknya, Gaza. Bagas juga menonjol dalam linguistiknya. Bagas sangat pintar bercerita. Dia bisa bercerita dengan beberapa tokoh, dengan suara yang berbeda, lengkap dengan ekspresi dan mimik wajahnya. Ketika berbicara dengan Bagas, dia akan memberi tanggapan pada setiap perkataan kita. Bahkan sekadar “ooh”, atau “oh iya”. Sangat menyenangkan berbincang-bincang dengan Bagas.

Bagas pun, sangat menyukai aktifitas motorik kasar. Aktifitas yang menantang. Dia termasuk anak yang berani, tidak ragu-ragu saat melakukan aktifitas fisik yang untuk anak seumurannya cukup menantang. Entah karena memang dia belum mengerti resikonya, atau memang nekat😀

Bagas senang sekali bila bisa “sama” dengan Gaza, gurunya. Bagas juga konkrit, cepat bertindak, gak banyak mikir. Saat Gaza masih bingung memilih donat atau kue, Bagas mengambil keduanya dan tidak menyisakan untuk kakaknya itu. Bagas termasuk anak yang penyuka segala makanan, seperti bundanya. Tidak pilih-pilih makan dan hobi makan.

c. Potensi Diri

Berdasarkan hasil dari Talent Mapping ST30 yang saya lakukan tahun 2015 lalu, saya memiliki potensi kekuatan sebagai Arranger, Educator, Explorer, Mediator, Server dan Treasurer. Dan memang seperti itulah saya. Arranger, saya kurang tahu seperti apa aplikasi potensi ini pada kehidupan saya secara pastinya. Tapi saya  Educator, saya senang mengajar, menjelaskan tentang suatu hal pada orang lain sehingga dia mengerti, berubah perilaku. Saya senang melihat anak didik/binaan saya akhirnya menemukan pencerahan dengan penjelasan saya. Explorer, Saya suka mempelajari sesuatu secara sistematis. Saya akan merasa kebingungan bila hanya menerima ilmu sepotong-sepotong, tidak utuh, tanpa tahu framework besarnya seperti apa. Saya senang bila akhirnya bisa menemukan hubungan antara hal dengan hal lainnya seperti sebab akibat. Mediator, saya tidak suka konflik. Bila tidak sesuai, saya berusaha mempertemukan, atau bila tidak mampu, saya prefer keluar dari konflik itu. Saya seringkali bisa melihat di sebelah mana ketidakcocokan dalam konflik itu berada. Server, saya senang bila bisa bermanfaat bagi orang lain. Saya dengan senang hati akan menjadi relawan yang mengurusi hal-hal yang menyangkut kebermanfaatan untuk banyak orang. Memang sekarang ini saya akhirnya membatasi, untuk mengajukan diri melakukan kerja-kerja ini. Untuk memberi waktu dan tenaga pada aktifitas yang saya prioritaskan. Treasurer, saya senang dengan data-data, angka-angka. Saya senang mengolah data menjadi informasi yang lebih nyaman dibaca dan lebih ‘wow’ tanpa memanipulasi.

Saya juga orang yang (katanya) karismatik. Image positif melekat pada diri saya sehingga orang akan mudah percaya akan perkataan saya (aku berlindung pada syaitan dan memohon ampun pada Allah yang sudah menutup aib-aib ku dihadapan manusia). Saya orang yang tidak tegaan, dan ingin membuat orang lain merasa nyaman.

Bila potensi ini dikaitkan dengan potensi anak-anak, maka saya adalah orang yang akan mengeluarkan potensi anak-anak, memberi mereka teladan, mendorong mereka untuk terus mencoba.

Sedikit banyak saya bisa memahami terusiknya Gaza yang sangat kompetitif, saya pun seperti itu. Dan merasakan betapa jiwa kompetitif ini bila tidak dimanage dengan baik akan membuat kita down, atau malah berhenti belajar karena putus asa tidak bisa menjadi yang terbaik. Saya yang suka crafting, suka printil-printil, senang mengorganize sesuatu, akan jadi cocok bekerjasama dengan Filan yang tekun. Dan saya yang suka menganalisa, akan jadi pendengar yang baik untuk Bagas yang suka bercerita dan mengekspresikan perasaannya. Semoga potensi-potensi personal ini akan tumbuh berkembang dan menjadi potensi kolektif yang membawa manfaat.

d. Peran Keluarga Kami

Kami tinggal di lingkungan “tua” yang tidak sepantar. Tetangga sekililing kami tinggal adalah orang yang lebih pantas menjadi teman bagi orang tua kami, dan kami menjadi anak mereka. Sampai saat ini kami masih menjadi “anak bawang yang tidak tau apa-apa” di antara para tetangga. Jarang diundang rapat RT, arisan, pengajian. Mungkin karena kesalahan kami juga yang tidak meluangkan waktu secara khusus.

Kondisi lingkungan tempat kami tinggal (bukan tetangga yang menempel rumah) tergolong keluarga menengah, dan ke bawah. Punya pekerjaan, anak-anak sekolah. Namun saya melihat akses pengetahuan terhadap pendidikan anak-anak masih mewarisi pendidikan orangtuanya, old school. Semoga saya salah. Untuk informasi mengenai ASI, makanan bayi, termasuk makanan sehat keluarga pun masih banyak terpengaruh promosi media. Banyak anak-anak kecil seusia Gaza yang sudah mempunyai HP, dan saya tidak yakin mereka memiliki kontrol terhadap penggunaan HP anaknya. Kemudian permasalahan sampah dan kebersihan.

Hal-hal ini yang menjadi fokus (dan insyaAllah kompetensi) saya dan suami : Makanan bayi, pendidikan anak, kekerasan anak, lingkungan, pemberdayaan kekuatan lokal. Meskipun saat ini saya belum tau bagaimana keluarga kami bisa masuk dan menggerakkan masyarakat. Tapi ini adalah PR kami untuk bisa menjadi ‘cahaya’ bagi lingkungan tempat kami tinggal, sebelum kami beranjak jauh ke lingkungan yang lebih jauh.

 

Filed under: Bunda, , , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Aku dan dia

Kidzsmile Foundation

AIMI Jabar

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 7 other followers

Yang silaturahim

  • 66,921 hits
%d bloggers like this: