Keluarga Alamanda

Icon

. cerita bunda . cerita keluarga mahayattika .

Dongeng di Rumah Senyum

Akhirnya, Rumah Senyum “hidup” kembali! 🙂

Sandal adik-adik yang diguyur hujan

Hujan deras di jum’at sore kemarin tidak menghalangi adik-adik untuk hadir ke Rumah Senyum Bandung, mendengarkan dongeng dari Kak Fita yang imut (dalam arti sebenarnya) dan lucu 😀 Ternyata kehadiran adik-adik tidak sia-sia, karena Kak Fita benar-benar menghibur mereka. Diawali dengan tepuk-tepuk yang membuat semangat dan ceria, Kak Fita kemudian membawakan dongeng “3 putri” andalannya dengan penuh ekspresi yang pasti membuat adik-adik terpana (dengan ke-hebohan nya) 🙂

Setelah itu, Kak Fita juga mengajak adik-adik menghafalkan 10 nama surat dalam al-Qur’an berikut artinya. Menghafalkan menggunakan metode peer-teaching dan gerakan yang melibatkan otak kanan untuk memudahkan menghafal. Suasana jadi makin meriah, ketika Kak Fita memberikan “cerdas cermat” adik-adik perempuan lawan laki-laki untuk menebak nama surat-surat tersebut.

Kak Fita yang membuat suasana meriah

Tak terasa, waktu magrib pun sudah hampir menjelang. Pertemuan yang sangat heboh dan meriah itu pun ditutup dengan woro-woro dari Kak Idzma, bahwa adik-adik bisa main ke Rumah Senyum kapanpun! kecuali di waktu dzuhur, ashar, dan lepas magrib. Mereka bisa membaca buku, bermain komputer, atau sekadar bermain lego-legoan dan puzzle. Dan Insya’Allah, dongeng ini akan diadakan rutin tiap pekannya. Mudah-mudahan dalam waktu dekat, juga akan di-launching kegiatan lain di Rumah Senyum Bandung.

Filed under: Ayah, Bunda, , ,

Earth Hour bersama Gaza

Ini pertama kalinya ikutan Earth Hour, serentak memadamkan listrik selama 1 jam untuk memberi kesempatan bumi sedikit “bernafas” dari beratnya beban polutan. Ini adalah kampanye penghematan listrik yang dimotori oleh WWF.

Awalnya, pengen ngisi Earth Hour ini dengan candle light-an sama Ayah..hehe.. (bukan candle-light dinner sih, karena emang jam segitu pasti udah makan). Eh ternyata sampe jam 20.30 Gaza belum tidur, padahal biasanya dia sudah “mblaksek” dengan pulasnya. Awalnya ragu juga untuk mematikan seluruh lampu. Khawatir Gaza malah jadi rewel. Yaa..dicoba sajalah! Seluruh lampu dimatikan, ayahnya juga menyudahi main game di komputer. Tapi tentunya kulkas harus tetap nyala! Bisa berabe “bank ASI”nya Gaza kalau kulkas mati. Dan kami hanya menyalakan sebuah lilin kecil.

Krik..krik..sepi..suara hujan di luar jadi terdengar lebih jelas. Gaza mulai ga betah! Ribuut..aja…Kami putarkan ringtone-ringtone HP. Seru sebentar, dipegang-pegang HPnya, dia senang dengan sesuatu yang berbunyi. Dan tentunya kemudian berakhir dengan masuk ke mulutnya 😀 Lama-lama bosan juga. Akhirnya ayah mengambil senter. Dan spontan langsung mendongeng tentang binatang-binatang demgan bayangan tangan di dinding. Dari mulai bebek, ular, burung, kelinci, anjing, buaya, sampai T-rex! Ternyata Gaza excited! 🙂

Puas mendongeng dan bermain bayangan, ayah pun memainkan senter yang dipantulkan di dinding, langit-langit, cermin; “Berkejaran” dengan cahaya senternya bunda; ber-“cilukba” dengan wajah yang disinari senter; tak lupa juga membuat efek “diskotik” :p

Bosan bermain senter, kami pun bernyanyi. Lagu “Tik-tik bunyi hujan”, “Allah turunkan Hujan”-nya VAS, “Bintang”-nya Sherina, “Bintang kecil”, “Ambilkan Bulan Bu”, “Pesawatku terbang ke Bulan”-nya Memes, “Pematang”-nya Gradasi dan banyaak lagi. Tentunya dengan melodi yang tidak taat asas pervokalan -alias jaminan Fals- ditambah tidak hafal liriknya, pokoknya amburadul lah! ^.^

Tak terasa, satu jam berlalu. Horee…kita berhasil menjalani 1 jam tanpa lampu! Prikitiwww.. ^.^ Hikmah lain dari Earth Hour ini, kami jadi bisa menghabiskan waktu bersama. Karena kalau lampu nyala, serunya aksi main bayangan dan bodor-bodoran itu tentu tidak akan ada. So pasti ayah sudah sibuk dengan TV atau komputer 😀

Setelah itu, Gaza semakin rewel dan tidak mempan lagi dialihkan perhatiannya untuk tidak memasukkan tangan ke mulutnya. Well it is the time! Memang waktunya Gaza bobo. Udah ngantuk banget.. tapi sebelum bobo, nenen bunda dulu pastinyaaa 🙂

Filed under: Ayah, Bunda, Gaza, , ,

Pesan Ayah untuk Gaza

Beginilah nasib kalo Long Distance Relationship, sering ditinggal-tinggal. Sebenernya dari awal juga udah tau itu konsekuensi nikah sama Ayah. Karena kerjaan Ayah yang project-based, jadi suka keluar kota. Apalagi sekarang Ayah kuliah, walaupun cuma 2 hari seminggu, tapi ya sedih juga kalo ditinggal. Untung sekarang ada Gaza, jadi ga sepi-sepi amat. Padahal waktu masih single dulu, Bunda termasuk perempuan yang tangguh dan independent lho..jieeh.. 😀 Tapi kenapa ya sekarang jadi ketergantungan banget? Karena udah ada yang di-‘gantungin’ kali ya.. Masih inget waktu awal-awal nikah, Bunda pasti nangis tiap ditinggal Ayah. Padahal cuma Jakarta-Bandung 😀 yaa, kalo sekarang ga sampe segitunya sih..

Jagain Bunda ya..

Seperti pagi itu, ayah harus balik ke Jakarta karena ada kuliah pagi. Habis nenenin Gaza, Bunda siap-siap nganterin Ayah ke travel. Seperti biasa, sebelum berangkat Ayah pesen ke Gaza, pesan yang Bunda suka 😀

“Gaza, Ayah berangkat ke Jakarta, Gaza jagain Bunda ya..”..

ooo..to tuiittt.. 🙂

Heart-heart on the street ya Ayah.. X-O-X-O :-*

Filed under: Ayah

Breastfeeding Father

Mimik sama Ayah pake cup-feeder

Kayaknya Bunda ga akan bisa kuat berjuang memberikan Gaza ASI tanpa dukungan penuh dari ayah.

Walaupun Ayah jarang sekali ikut bangun malam dan menemani menyusui (ayah dengan asyiknya tetep pules tertidur 😦 ), tapi hal-hal ‘kecil’ yang Ayah lakukan, seperti ikut mengganti celana Gaza, menggendong dan mengajaknya bermain, mengobrol, bercanda, mendongeng, sampai ikut hunting cup feeder dan cooler bag di ITC, sangat menguatkan bunda.

Ayah seringkali menggendong dan menenangkan Gaza yang sudah ga sabar mau minum, dan kemudian meletakkannya di pangkuan bunda saat bunda sudah siap untuk menyusui.

Ayah juga suka jadi duta ASI. “Gaza kan ASI eksklusif” katanya ketika ada kerabat yang menanyakan apakah Gaza minumnya campur sufor.

Ayah juga yang menyuapi ASIP untuk Gaza saat Bunda ngantor atau sedang butuh mengistirahatkan PD.

Bunda merasa nyaman ketika ayah berhenti sejenak dari kegiatannya, sekadar untuk menengok kami di kamar yang sedang menyusui. Gangguin Gaza sambil mencium-ciumnya.

Dan jika bunda meringis kesakitan, dia mengecup bunda sambil berkata “sabar ya Bunda” atau “wah Bunda pahalanya banyak nih nyusuin Gaza”. Benar-benar membesarkan hati bunda 🙂

Tetaplah jadi Breastfeeding Father #1 ya..

Luv u, Ayah.. 🙂

Filed under: Ayah, Gaza,

Aa Ngepel??

Pulang kerja kemarin masih dijemput Aa (alhamdulillah, Aa masih di Bandung 2 pekan ini). Capek banget rasanya, badan lemes, perut sebah, mual, pokoknya ga enak banget bawaannya. Tambah males lagi waktu ingat rumah pasti berantakan. Barang-barang berserakan, cucian piring menumpuk.. huuh..aku paling risih kalo rumah berantakan! Begitu sampai di rumah, waktu kubuka pintu depan,hmm…wangiii…

“wah, Aa jadi ngepel ya?”

“Iya dong.. “, ujarnya bangga.

Dan begitu kulihat di kamar, sudah tertumpuk pakaian-pakaian kami selama seminggu ini yang baru diangkat dari jemuran.

“Waah.. jadi nyuci juga??” tanyaku kagum.

“Iya lah..”

Alhamdulillah.. Aa nu bageur pisan.. Capeknya jadi ilang deh..

Terbayang olehku tadi siang Aa, yang dikenal sebagai orang yang berantakan-cuek-garang itu, beberes, nyapu, ngepel-nyuci baju-jemur di depan rumah. Apalagi waktu itu dia lagi pake celana pendekar thifun merah-ijonya dan kaos trainer yang makin membuat “jomplang” tampilan dengan aktifitasnya..hehe…soo suit…**apa kata tetangga ya  **

Memang sejak awal pernikahan kami aku selalu menekankan tentang pembagian pekerjaan domestik. Bahwa, pekerjaan seperti mencuci piring, baju, menyapu, ngepel dan setumpuk pekerjaan lain yang berkaitan dengan manajemen dan maintenance rumah bukan hanya tanggung jawabku sebagai katanya “ibu rumah tangga”, tapi tanggung jawab kita berdua. Ya, bagi-bagi tugas lah. Saling membantu.

Karena menurut teori (ga tau teorinya siapa), salah satu usaha untuk membina rumah tangga yang harmonis adalah dengan berbagi tugas domestik, para suami tidak sungkan untuk ikut terlibat dalam mengurus rumah. Karena memang urusan rumah bukan tugas para istri saja tho?? lagipula, mencuci, beberes rumah, menyapu tidak akan menurunkan wibawa seorang sumai kan? Malah sebaliknya, akan timbul rasa simpatik, karena sang suami mau membantu istrinya. Karena Rosulullah pun mencontohkan dalam kehidupan rumah tangganya. Beliau memasak, menjahit pakaiannya, membersihkan tempat tidurnya sendiri. Nah tuh kan..ga malu sama Rasul?

Selain itu, para istri pun akan merasa dihargai dengan keterlibatan suami dalam pekerjaan rumah tangga, walaupun sedikit dan mungkin tidak sesempurna yang diharapkan :p Otomatis, istri akan makin sayang sama suami. So, untuk para suami..ayo dong, turunkan sedikit egomu, singsihkan lengan bajumu, ikutlah bersama istrimu menjaga istanamu..

Filed under: Ayah, Bunda, Coretan Iseng, , ,

Bunda Gaza

Lilypie Breastfeeding tickers

Archives

my read shelf:
Lintang Dwi's book recommendations, favorite quotes, book clubs, book trivia, book lists (read shelf)

Aku dan dia

Kidzsmile Foundation

AIMI Jabar

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 9 other followers

Yang silaturahim

  • 73,516 hits