Keluarga Alamanda

Icon

. cerita bunda . cerita keluarga mahayattika .

Hukum Khitan Perempuan

Mengenai Khitan perempuan, telah jelas hukumnya seperti yang disampaikan dalam Fatwa MUI, 2008i bahwa :

  • Khitan terhadap perempuan adalah makrumah (kemuliaan), pelaksanaannya sebagai salah satu bentuk ibadah yang dianjurkan.
  • Pelarangan khitan terhadap perempuan adalah bertentangan dengan ketentuan syari’ah karena khitan, baik bagi laki-laki maupun perempuan, termasuk fitrah (aturan) dan syiar Islam.
  • Dalam pelaksanaannya, khitan terhadap perempuan harus memperhatikan hal-hal sebagai berikut:
    • Khitan perempuan dilakukan cukup dengan hanya menghilangkan selaput (jaldah/colum/praeputium) yang menutupi klitoris.
    • Khitan perempuan tidak boleh dilakukan secara berlebihan, seperti memotong atau melukai klitoris (insisi dan eksisi) yang mengakibatkan dlarar .

iKumpulan Fatwa MUI, “Fatwa Tentang Hukum Pelarangan Khitan Terhadap Perempuan”, 2008.

Salinan Fatwa MUI tersebut dapat di download di sini

Filed under: Reviews, , , ,

Eit.. itu korupsi juga lho..

Semula aku kira itu adalah pamflet promosi jualan pulsa yang ditempel di depan salah satu ruangan kantorku. wikwiw…ternyata sebuah kritikan yang padat, pedas dan pas! Njero.. 😀 Ya, mungkin ini “curahan hati” dari seseorang yang sudah jengkel dengan rekan-rekan lain yang dengan enaknya menggunakan telepon kantor –yang notebene tagihannya dibayar “patungan”– untuk kepentingan pribadi. Apalagi bila dilakukan oleh pegawai instansi pemerintah, yang sumber dananya adalah dari pajak, yang tak lain adalah uang ummat. Mungkin orang-orang itu tidak sadar, bahwa apa yang dilakukannya adalah salah satu bentuk korupsi juga lho.. Ya! walaupun dalam skup dan nominal yang kecil.

Kalau kita mengingat kembali kisah Amiril Mukminin Umar Bin Abdul Azis. Ketika itu beliau menerima tamu untuk urusan pemerintahan. Saat berdiskusi tentang keadaan rakyatnya, Umar menyalakan lilin sebagai penerang. Namun, ketika si tamu merubah topik pembicaraan, bertanya tentang keadaan dirinya, keluarganya, serta merta sang khalifah mematikan lilin dan menyalakan lampu rumahnya.

Umar berkata, “Wahai hamba Allah, lilin yang kumatikan itu adalah harta Allah, harta kaum muslimin. Ketika aku bertanya kepadamu tentang urusan mereka maka lilin itu dinyalakan demi kemaslahatan mereka. Begitu kamu memmebelokkan pembicaraan tentang keluarga dan keadaanku, maka aku pun mematikan lilin milik kaum muslimin.”

Subhanallah.. begitu wara’nya Umar dalam menggunakan fasilitas negara. Rasanya jauuuh sekali dari diri ini yang masih suka nge-print pamflet untuk kegiatan ekstrakantor, fotokopi KTP untuk persyaratan buka rekening, termasuk menggunakan fasilitas internet untuk hal-hal di luar urusan kantor, seperti yang kulakukan saat ini :p Memang tidak perlu nyatut uang triliyunan untuk korupsi. Bila kita mau jujur, bisa jadi sebenarnya kita sering sekali melakukan korupsi-korupsi “kecil” tadi.

Astagfirullah aladzim..

Filed under: Reviews,

Mitos Seputar ASI

Banyak ilmu yang masih “abu-abu” seputar ASI. Sehingga mempengaruh ibu akan kebaikan ASI. Bahkan memilih untuk tidak memberikan ASI pada bayinya. Apakah memang demikian faktanya ataukah sekadar mitos belaka??

* Jika ibu mengalami kesundulan (hamil lagi dalam jarak dekat), apakah pemberian ASI harus dihentikan?

Fakta: Hal ini masih kontroversial. Ada dokter kandungan yang melarang ibu hamil menyusui karena khawatir terjadi kontraksi rahim yang bisa menyebabkan keguguran. Namun ada juga yang tidak melarang. Belum ada penelitian yang betul-betul membuktikan hal tersebut. Juga tak ada anjuran yang pasti dalam keadaan bagaimana seorang ibu hamil harus ekstra hati-hati. Kalau memang merasa nyeri perut dan memiliki riwayat keguguran, bermasalah dengan kandungan, atau malah pernah mengalami perdarahan, sebaiknya hentikan. Akan tetapi kalau kehamilannya sehat-sehat saja alias tidak ada masalah, pemberian ASI bisa diteruskan.

* Sebelum menyusui, ASI yang keluar pertama harus dibuang dulu?

Fakta: Tidak perlu. ASI pertama yang keluar adalah kolostrum yang mengandung banyak zat antibodi untuk kekebalan tubuh. Anggapan ASI yang keluar pertama adalah basi juga tidak benar karena ASI selalu terlindungi dalam payudara ibu. Dengan tujuan membunuh kuman, tiap tetes ASI yang keluar sebelum menyusui boleh saja dioleskan di seputar puting susu ibu.

* Benarkah ASI bisa anyep/dingin/basi?

Fakta: ASI selalu dalam keadaan terlindungi dalam payudara, sehingga tak mungkin basi atau dingin karena selalu sesuai dengan suhu tubuh, kecuali kalau ASI sudah dikeluarkan. Dalam suhu ruang ASI bisa bertahan sekitar 6 jam, dan 2 minggu hari bila ditaruh di kulkas serta 3 bulan di suhu freezer, asalkan tidak sering dibuka-tutup.

* ASI bisa berubah rasa dan warna?

Fakta: Rasa ASI memang bisa berubah dan lebih variatif sesuai dengan makanan yang dikonsumsi ibu. Komposisinya pun tergantung usia anak. Warna ASI juga bisa berubah sesuai kebutuhan zat gizi yang diperlukan bayi. Inilah urutannya:

  • Kolostrum ASI yang pertama keluar adalah kolostrum yang warnanya agak kekuning-kuningan. Kolostrum banyak mengandung zat antibodi yang bermanfaat bagi tubuh.
  • Mature milk Setelah beberapa hari, tubuh ibu memproduksi susu matang (mature milk) dengan komposisi:
  1. Foremilk Selama 5 menit pertama ASI yang keluar berwarna kebiru-biruan dan tampak encer, dinamakan foremilk. Di dalamnya terkandung protein, laktosa dan nutrisi lainnya.
  2. Hindmilk Selanjutnya, ASI yang diproduksi tubuh disebut hindmilk. Warnanya putih dan mengandung banyak lemak.

* Benarkah payudara kanan mengandung makanan dan yang kiri minuman?

Fakta: Biasanya payudara mana yang disusukan pada bayi tergantung pada kenyamanan posisi ibu. ASI yang dikeluarkan, baik dari payudara kanan maupun kiri, sama-sama mengandung foremilk dan hindmilk atau dengan kata lain memiliki komposisi yang sama. Puaskan bayi pada satu payudara selama kira-kira 15 menit. Bila masih belum puas, barulah pindah ke payudara lainnya. Biasanya ASI yang keluar adalah bagian yang encernya dulu (foremilk), kemudian baru hindmilk.

* Makanan pedas dan bersantan yang dikonsumsi ibu bisa membuat bayi mencret?

Fakta: Tak pernah terjadi bayi mencret hanya gara-gara makanan yang dikonsumsi ibunya. Meski demikian, sebaiknya jangan mengonsumsi makanan yang terlalu merangsang karena ada juga bayi yang menjadi kembung karenanya.

* Ibu menyusui sebaiknya tidak minum es karena membuat bayinya pilek?

Read the rest of this entry »

Filed under: Reviews, , , ,

Pandangan Islam tentang Bank ASI

Assalamu’alaikum Wr. Wb

Pak ustad yang saya hormati, saya ingin menanyakan tentang hukum bank susu dalam perspektif Islam. Bagaimana pandangan Islam terhadap praktek bank susu ini?

Terima kasih

Wassalamu’alaikum Wr. Wb
Jawaban

Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wababarakatuh,

Di masa sekarang ini kita memang dikejutkan dengan berita telah berdirinya bank khsusus untuk menampung air susu ibu. Para ulama kontemporer memandangkan dari beberapa sudut pandang yang berlainan, sehingga yang kita temui dari fatwa mereka pun saling berbeda. Sebagian mendukung adanya bank air susu tapi yang lainnya malah tidak setuju.

1. Pendapat Yang Membolehkan

Ulama besar semacam Dr. Yusuf Al-Qaradawi tidak menjumpai alasan untuk melarang diadakannya semacam “bank susu.” Asalkan bertujuan untuk mewujudkan maslahat syar’iyah yang kuat dan untuk memenuhi keperluan yang wajib dipenuhi.

Beliau cenderung mengatakan bahwa bank air susu ibu bertujuan baik dan mulia, didukung oleh Islam untuk memberikan pertolongan kepada semua yang lemah, apa pun sebab kelemahannya. Lebih-lebih bila yang bersangkutan adalah bayi yang baru dilahirkan yang tidak mempunyai daya dan kekuatan.

Beliau juga mengatakan bahwa para wanita yang menyumbangkan sebagian air susunya untuk makanan golongan anak-anak lemah ini akan mendapatkan pahala dari Allah, dan terpuji di sisi manusia. Bahkan sebenarnya wanita itu boleh menjual air susunya, bukan sekedar menyumbangkannya. Sebab di masa nabi, para wanita yang menyusui bayi melakukannya karena faktor mata pencaharian. Sehingga hukumnya memang diperbolehkan untuk menjual air susu.

Bahkan Al-Qaradawi memandang bahwa institusiyang bergerak dalam bidang pengumpulan ‘air susu’ itu yang mensterilkan serta memeliharanya agar dapat dinikmati oleh bayi-bayi atau anak-anak patut mendapatkan ucapan terima kasih dan mudah-mudahan memperoleh pahala.

Selain Al-Qaradawi, yang menghalalkan bank susu adalah Al-Ustadz Asy-Syeikh Ahmad Ash-Shirbasi, ulama besar Al-Azhar Mesir. Beliau menyatakan bahwa hubungan mahram yang diakibatkan karena penyusuan itu harus melibatkan saksi dua orang laki-laki. Atau satu orang laki-laki dan dua orang saksi wanita sebagai ganti dari satu saksi laki-laki.

Bila tidak ada saksi atas penyusuan tersebut, maka penyusuan itu tidak mengakibatkan hubungan kemahraman antara ibu yang menyusui dengan anak bayi tersebut.

2. Yang Tidak Membenarkan Bank Susu

Di antara ulama kontemporer yang tidak membenarkan adanya bank air susu adalah Dr. Wahbah Az-Zuhayli dan juga Majma’ Fiqih Islami. Dalam kitab Fatawa Mua`sirah, beliau menyebutkan bahwa mewujudkan institusi bank susu tidak dibolehkan dari segi syariah.

Demikian juga dengan Majma’ Fiqih Al-Islamimelalui Badan Muktamar Islam yang diadakan di Jeddah pada tanggal 22 – 28 Disember 1985/ 10 – 16 Rabiul Akhir 1406. Lembaga inidalam keputusannya (qarar) menentang keberadaan bank air susu ibu di seluruh negara Islam serta mengharamkan pengambilan susu dari bank tersebut.

Perdebatan Dari Segi Dalil

Ternyata perbedaan pendapat dari dua kelompok ulama ini terjadi di seputar syarat dari penyusuan yang mengakibatkan kemahraman. Setidaknya ada dua syarat penyusuan yang diperdebatkan. Pertama, apakah disyaratkan terjadinya penghisapan atas puting susu ibu? Kedua, apakah harus ada saksi penyusuan?

1. Haruskah Lewat Menghisap Puting Susu?

Kalangan yang membolehkan bank susu mengatakan bahwa bayi yang diberi minum air susu dari bank susu, tidak akan menjadi mahram bagi para wanita yang air susunya ada di bank itu. Sebab kalau sekedar hanya minum air susu, tidak terjadi penyusuan. Sebab yang namanya penyusuan harus lewat penghisapan puting susu ibu.

Mereka berdalil dengan fatwaIbnu Hazm, di mana beliau mengatakan bahwa sifat penyusuan haruslah dengan cara menghisap puting susu wanita yang menyusui dengan mulutnya.

Dalam fatwanya, Ibnu Hazm mengatakan bahwa bayi yang diberi minum susu seorang wanita dengan menggunakan botol atau dituangkan ke dalam mulutnya lantas ditelannya, atau dimakan bersama roti atau dicampur dengan makanan lain, dituangkan ke dalam mulut, hidung, atau telinganya, atau dengan suntikan, maka yang demikian itu sama sekali tidak mengakibatkan kemahraman

Dalilnya adalah firman Allah SWT:

‘Dan ibu-ibumu yang menyusui kamu dan saudara perempuanmu sepersusuan…‘ (QS An-Nisa’:23)

Menurut Ibnu Hazm, proses memasukkan puting susu wanita di dalam mulut bayi harus terjadi sebagai syarat dari penyusuan.

Sedangkan bagi mereka yang mengharamkan bank susu, tidak ada kriteria menyusu harus dengan proses bayi menghisap puting susu. Justru yang menjadi kriteria adalah meminumnya, bukan cara meminumnya.

Dalil yang mereka kemukakan juga tidak kalah kuatnya, yaitu hadits yang menyebutkan bahwa kemahraman itu terjadi ketika bayi merasa kenyang.

Dari Aisyah ra berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Perhatikan saudara laki-laki kalian, karena saudara persusuan itu akibat kenyangnya menyusu. (HR Bukhari dan Muslim)

2. Haruskah Ada Saksi?

Hal lain yang menyebabkan perbedaan pendapat adalah masalah saksi. Sebagian ulama mengatakan bahwa untuk terjadinya persusuan yang mengakibatkan kemahraman, maka harus ada saksi. Seperti pendapat Ash-Sharabshi, ulama Azhar. Namun ulama lainnya mengatakan tidak perlu ada saksi. Cukup keterangan dari wanita yang menyusui saja.

Bagi kalangan yang mewajibkan ada saksi, hubungan mahram yang diakibatkan karena penyusuan itu harus melibatkan saksi dua orang laki-laki. Atau satu orang laki-laki dan dua orang saksi wanita sebagai ganti dari satu saksi laki-laki.

Bila tidak ada saksi atas penyusuan tersebut, maka penyusuan itu tidak mengakibatkan hubungan kemahraman antara ibu yang menyusui dengan anak bayi tersebut.Sehingga tidak perlu ada yang dikhawatirkan dari bank susu ibu. Karena susu yang diminum oleh para bayi menjadi tidak jelas susu siapa dari ibu yang mana. Dan ketidak-jelasan itu malah membuat tidak akan terjadi hubungan kemahraman.

Dalilnya adalah bahwa sesuatu yang bersifat syak (tidak jelas, ragu-ragu, tidak ada saksi), maka tidak mungkin ditetapkan di atasnya suatu hukum. Pendeknya, bila tidak ada saksinya, maka tidak akan mengakibatkan kemahraman.

Sedangkan menurut ulama lainnnya, tidak perlu ada saksi dalam masalah penyusuan. Yang penting cukuplah wanita yang menyusui bayi mengatakannya. Maka siapa pun bayi yang minum susu dari bank susu, maka bayi itu menjadi mahram buat semua wanita yang menyumbangkan air susunya. Dan ini akan mengacaukan hubungan kemahraman dalam tingkat yang sangat luas.

Dari pada kacau balau, maka mereka memfatwakan bahwa bank air susu menjadi haram.

Dan kesimpulan akhirnya, masalah ini tetap menjadi titik perbedaan pendapat dari dua kalangan yang berbeda pandangan. Wajar terjadi perbedaan ini, karena ketiadaan nash yang secara langsung membolehkan atau mengharamkan bank susu. Nash yang ada hanya bicara tentang hukum penyusuan, sedangkan syarat-syaratnya masih berbeda. Dan karena berbeda dalam menetapkan syarat itulah makanya para ulama berbeda dalam menetapkan hukumnya.

Wallahu a’lam bishshawab, wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wababarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc (wi)

Dalam Fiqh Kontemporer Hasan Albanna, donor ASI dikenakan hukum saudara sepersusuan jika syarat-sayart ini dipenuhi :

  • Air susu diberikan langsung dari panyudara Ibu pendonor, bukan diperah kemudian disuapi kepada bayi
  • Air susu pendonor secara dominan diminum bayi, dibandingkan minuman lainnya. Jadi kalo campur-campur, atau cuma sedikit, maka air susu donor tersebut tidak mempengaruhi pembentukan tulang dan daging
  • Kita yakin betul bahwa air susu pendonor diminum bayi. Kalo bayi mengisap, tapi tidak yakin air susunya keluar dan tertelan, maka tidak dapat dikatakan menyusu
  • Bayi minum air susu sampai 5x kenyang

Kalo menurut Yusuf Qardhawi, maka Gaza belum sepersusuan dengan bayi itu. Karena syarat pertama tidak terpenuhi. Tapi untuk amannya, Bunda dan ayah sepakat kalau kita tetap akan menaganggapnya saudara sepersusuan. Wah..Jadi ga sabar pengen ketemuan ^.^

Filed under: Reviews, , , ,

Hukum Shaum bagi Ibu Hamil dan Menyusui

Alhamdulillah.. Akhirnya Ramadhan datang juga. Udah rindu dengan suasana-suasana khas Ramadhan, bangun pagi dan makan saur bareng keluarga, acara-acara buka puasa sekaligus reunian bareng temen-temen, ramenya anak-anak berlarian saat tarawih, stasiun TV yang berlomba-lomba bikin acara islami,  ramenya masjid di 10 hari terakhir.. indahnya.. 🙂

Dan Ramadhanku kali ini, tentunya akan sangat berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya (yang 7 tahun belakangan kuhabiskan di “perantauan”), karena ini Ramadhan pertamaku setelah nikah 🙂  berarti sekarang ada seorang suami yang harus disiapin makan saur dan buka..

Dan ini juga menjadi Ramadhan pertamaku dengan kondisi berbadan-dua ^.^ ..Insya’Allah, kali ini aku juga berkesempatan untuk bisa puasa dan ibadah tanpa bolong! Tapi akhirnya, malah jadi ragu sendiri.. karena beberapa teman kantor men-judge ku sebagai ibu yang “jahat”, “egois” karena masih puasa di usia kandungan 8 bulan, saat janin butuh banyak nutrisi untuk persiapan kelahirannya ke bumi.. 😥 jadi merasa bersalah.. Sebenernya gimana hukumnya puasa buat ibu hamil ya?

Sesungguhnya Allah ‘azza wa jalla menghilangkan pada musafir separuh shalat. Allah pun menghilangkan puasa pada musafir, wanita hamil dan wanita menyusui.” (HR. Ahmad. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa hadits ini hasan)

Jadi, sudah jelas, Bumil dan Busui boleh berbuka puasa. Tapi, apakah kemudian dia wajib mengqodho’ atau bisa fidyah saja? atau harus kedua-duanya? Berikut beberapa pendapat berkaitan tentang itu.

Tulisan ini di sarikan dari sini.

Pendapat pertama: wajib mengqodho’ puasa dan memberi makan kepada orang miskin bagi setiap hari yang ditinggalkan. Inilah pendapat Imam Syafi’i, Imam Malik dan Imam Ahmad. Namun menurut Syafi’iyah dan Hanabilah, jika wanita hamil dan menyusui takut sesuatu membahayakan dirinya (bukan anaknya), maka wajib baginya mengqodho’ puasa saja karena keduanya disamakan seperti orang sakit.

Pendapat kedua: cukup mengqodho’ saja. Inilah pendapat Al Auza’i, Ats Tsauriy, Abu Hanifah dan murid-muridnya, Abu Tsaur dan Abu ‘Ubaid.

Pendapat ketiga: cukup memberi makan kepada orang miskin tanpa mengqodho’. Inilah pendapat Ibnu Abbas, Ibnu ‘Umar, Ishaq, dan Syaikh Al Albani.

Pendapat keempat: mengqodho’ bagi yang hamil sedangkan bagi wanita menyusui adalah dengan mengqodho’ dan memberi makan kepada orang miskin bagi setiap hari yang ditinggalkan. Inilah pendapat Imam Malik dan ulama Syafi’iyah.

Pendapat kelima: tidak mengqodho’ dan tidak pula memberi makan kepada orang miskin. Inilah pendapat Ibnu Hazm.

Dari Ibnu ‘Abbas, beliau berkata,

“Keringanan dalam hal ini adalah bagi orang yang tua renta dan wanita tua renta dan mereka mampu berpuasa. Mereka berdua berbuka jika mereka mau dan memberi makan kepada orang miskin setiap hari yang ditinggalkan, pada saat ini tidak ada qodho’ bagi mereka. Kemudian hal ini dihapus dengan ayat (yang artinya): “Karena itu, barang siapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu”. Namun hukum fidyah ini masih tetap ada bagi orang yang tua renta dan wanita tua renta jika mereka tidak mampu berpuasa. Kemudian bagi wanita hamil dan menyusui jika khawatir mendapat bahaya, maka dia boleh berbuka (tidak berpuasa) dan memberi makan orang miskin bagi setiap hari yang ditinggalkan.”  (Dikeluarkan oleh Ibnul Jarud dalam Al Muntaqho dan Al Baihaqi. Lihat Irwa’ul Gholil 4/18)

Dalam perkataan lainnya, Ibnu ‘Abbas menyamakan wanita hamil dan menyusui dengan tua renta yaitu sama dalam membayar fidyah. Dari Ibnu ‘Abbas, beliau dulu pernah menyuruh wanita hamil untuk tidak berpuasa di bulan Ramadhan. Beliau mengatakan

“Engkau seperti orang tua yang tidak mampu berpuasa, maka berbukalah dan berilah makan kepada orang miskin setengah sho’ gandum untuk setiap hari yang ditinggalkan.” (Diriwayatkan oleh ‘Abdur Razaq dengan sanad yang shahih)

Begitu pula hal yang sama dilakukan oleh Ibnu ‘Umar. Dari Nafi’, dia berkata,

“Putri Ibnu Umar yang menikah dengan orang Quraisy sedang hamil. Ketika berpuasa di bulan Ramadhan, dia merasa  kehausan. Kemudian Ibnu ‘Umar memerintahkan putrinya tersebut untuk berbuka dan memberi makan orang miskin bagi setiap hari yang ditinggalkan.” (Lihat Irwa’ul Gholil, 4/20. Sanadnya shahih)

Tidak diketahui ada sahabat lain yang menyelisihi pendapat Ibnu ‘Abbas dan Ibnu ‘Umar ini. Juga dapat kita katakan bahwa hadits Ibnu ‘Abbas yang membicarakan surat Al Baqarah ayat 185 dihukumi marfu’ (sebagai sabda Nabi shallallallahu ‘alaihi wa sallam). Alasannya, karena ini adalah perkataan sahabat tentang tafsir yang berkaitan dengan sababun nuzul (sebab turunnya surat Al Baqarah ayat 185). Maka hadits ini dihukumi sebagai sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana sudah dikenal dalam ilmu mustholah.

Sedangkan menurut Yusuf Al Qardhawi, wanita hamil/menyusui boleh berbuka dan membayar fidyah saja (tidak perlu mengqodho’) jika wanita tersebut frekuensi hamilnya berdekatan, sehingga tidak memungkinkan baginya untuk mengqodho’. Ini sebagai bukti kasih sayang Allah kepada kami para bumil dan busui. Tetapi bagi wanita yang jarak kelahiran nya berjauhan (4-5 tahun misalnya), maka tetep wajib mengqodho’ puasanya di lain waktu
sesuai dengan hari yang ditinggalkan seperti dari madzhab imam malik dan syafii.

Hmm.. sepertinya pendapat Yusuf Al Qardhawi ini lebih jelas kondisinya, dan lebih “fair” menurutku.  Tapi aku tetep akan minta pendapat dr.Wid dan Bidan Juju dulu. Supaya lebih adil untuk ku dan untuk Gaza..

Wallahu a’lam..

Filed under: Reviews, , , , ,

Book Review : Antara Aisyah dan Maisyah

Pengarang : Ahmad Ghozali

Penerbit GIP, 150 hal

Pada awalnya, aku pikir buku yang berisi tentang “persiapan financial menuju pelaminan” ini didedikasikan khusus untuk para ikhwan, yang nyatanya banyak yang ga PD dengan “kantongnya” untuk meminang seorang akhwat. [Deu..emamg meminang akhwat butuh duit berapa sih?]. Ternyata, buku ini seharusnya juga dibaca oleh para akhwat lho!

Buku ini meluruskan standar kesiapan seorang ikhwan untuk menikah, dan besar materi yang harus disiapkan. Ternyata, memang tidak muluk-muluk. Intinya, sebesar apa kemampuan seorang ikhwan untuk dapat menafkahi keluarganya nanti. Dan itu tidak sama dengan harus bekerja tetap (jadi pegawai kantoran) ataupun memiliki tabungan yang jumlahnya sekian. Prinsipnya, tetap berpenghasilan, dan bukan bekerja tetap.

Yang menarik adalah, (karena saya seorang wanita) ternyata mempersiapkan masalah keuangan itu tidak hanya menjadi PR para ikhwan. Karena akhwat pun harus menyiapkan dirinya.

Bagaimana?

Apakah akhwat juga harus punya penghasilan sendiri untuk membantu kehidupan rumah tangga mereka nanti?
Atau sang akhwat harus punya minimal sekian rupiah tabungan?

Bukan..ternyata bukan itu..karena syari’atnya pun mengajarkan, bahwa mencukupi kebutuhan sandang-pangan-papan seorang istri menjadi tanggung jawab penuh sang suami.

Lalu apa?

Ada 2 hal yang harus disiapkan para akhwat berkaitan dengan persiapan financial, pertama, adalah persiapan untuk mengelola keuangannya sendiri. Istri adalah manager of finance, yang akan mengatur pengeluaran-pengeluaran rumah tangganya. Bukan sekadar masalah berapa besarnya uang belanja, tapi juga bagaimana kita menyikapinya. Kalo penghasilan pas-pasan, tapi kita bisa mengalokasikannya secara tepat, gaya hidup bersahaja, maka tidak akan masalah. Percuma saja, jika uang belanja besar, tapi kita tidak cermat mengelolanya, dan gaya hidup konsumtif, maka sebesar apapun uang belanja dari sang suami, tidak akan pernah merasa cukup. Trus berantem deh.. “Papa sih, ngasihnya dikit bener..”; “Mama sih yang boros..” :p

Kedua, adalah kesiapan untuk menghadapi perubahan gaya hidup. Ya, tidak semua akhwat akan menikah dengan ikhwan yang memiliki “standar hidup” yang sama dengan keluarganya dulu. Kalau ikhwan tersebut memiliki “standar hidup” yang lebih tinggi, tentunya akan lebih mudah bagi akhwat untuk menyesuaikan. Yang kerap jadi masalah adalah, ketika akhwat menikah dengan ikhwan yang memiliki “standar hidup” yang lebih rendah, artinya akhwat harus siap dengan perubahan gaya hidupnya. Kalau dulu sebelum menikah ia terbiasa dengan segala fasilitas, makanan enak bergizi, rumah hangat dan nyaman, ga ada tanggung jawab untuk membersihkan rumah, pulsa HP auto-reload, mobil-motor tinggal pakai (ehm..). Ketika menikah nanti harus serba seadanya atau bahkan ga ada apa-apanya.. Siap ga?
Siap ga ya? 🙂

Satu kutipan yang aku suka, yang intinya, saat berkeluarga nanti, bila kenyataan tak sesuai dengan impian, maka sang Suami hendaklah semakin giat untuk ikhtiar menjemput rizki, dan sang Istri pun harus qana’ah (merasa cukup dan bersyukur) dengan berapapun ‘uang belanja’ yang diberikan suami.

Jadi, apakah benar sudah siap menikah?

Hmm..Aisyah dan Maisyah, lalu bagaimana dengan Ijasah?? ^_^

Filed under: Keuangan, Reviews, , , , ,

Bunda Gaza

Lilypie Breastfeeding tickers

Archives

my read shelf:
Lintang Dwi's book recommendations, favorite quotes, book clubs, book trivia, book lists (read shelf)

Aku dan dia

Kidzsmile Foundation

AIMI Jabar

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 9 other followers

Yang silaturahim

  • 72,203 hits