Keluarga Alamanda

Icon

. cerita bunda . cerita keluarga mahayattika .

Peran Peradaban

Setelah beberapa kali ikutan kelasnya Pak Harry Sentosa, lalu Talent Mappingnya Abah Rama, aku yakin, setiap diri ini sudah punya “peran peradaban”nya masing-masing. Terkait dengan potensi karakter dan bakat yang khas darinya, yang Allah ciptakan untuk menunjang peran tersebut.

Lalu aku berfikir, sebenernya apa peran peradabanku?

Sesuatu yang membuatku berarti, bermakna, dan bermanfaat bukan hanya untuk diriku sendiri, tapi untuk orang lain.

Kalau melihat latar belakang pendidikan formalku, Teknik Elektro, lalu perjalananku sampai akhirnya jadi ditakdirkan mencicipi profesi sebagai peneliti bidang Komputer. Tentunya gak ada yang salah dengan itu. Meskipun akhirnya dengan berani dan mantap aku tinggalkan jabatan itu karena memang hati ini gak bisa dibohongin, aku tidak suka elektro, aku tidak suka programming. Tapi pasti ada sesuatu yang membuat Allah menuliskan aku harus mampir dulu disitu.

Perjalananku menemukan teman sejati, ayahnya anak-anak. Lalu perkenalanku dengan dunia parenting dan pendidikan, sampai akhirnya mendalami dunia laktasi, ini adalah jalan berliku (banget) untuk sampai ke track-ku, bila memang benar ini jalannya.

Dan sampai saat ini, aku pun masih belum 100% mantap. DUNIA LAKTASI, inikah jalan dakwahku?

Kalau kompetensi ini diukur dengan diakuinya diriku sebagai konsultan internasional IBCLC, tentu aku tidak akan sampai. Apalah aku, dengan background teknik yang jauh dari dunia kesehatan. Persyaratan dasarnya saja tidak terpenuhi.

Kalau kebermanfaatan ini diukur dengan jumlah ibu yang terbantu. Waduuh.. ini lebih jauh lagi. Dengan kendalaku yang tidak bisa terlalu mobile, karena terikat jam kerja dan anak-anak yang masih kecil, jam terbang konselingku masih sangat minim untuk dikatakan sudah memberi manfaat.

Kalau pengakuan ini diukur dari jumlah karya yang dibuat, buku yang diterbitkan, artikel yang dibuat.. heuh.. maluu.. aku belum berbuat apa-apa. Banyak sekali diluaran sana yang dengan produktif menulis, mengedukASI, dan menginspirASI banyak orang. Sedangkan aku, karya yang kutulis baru sebatas saran untuk ibu yang konsultasi via Whatsapp atau FB messengger. Artikel yang ada barulah artikel pendahuluan untuk kelas online di whatsapp.

Tapi aku menikmatinya.

Aku antusias untuk belajar lebih dalam lagi tentang dunia laktasi. Menemukan fakta-fakta luar biasa tentang kehebatan ASI dan menyusui yang terus berkembang. Mengetahui bahwa proses natural ibu yang menyusui anaknya ini bukan hanya proses transfer nutrisi. Tapi juga membentuk ketahanan tubuh, optimalisasi kecerdasan kognitif dan emosional. Tak heran bila menyusui adalah anjuran yang tertulis dalam Al Qur’an karena memang ternyata sangat amazing. Menyusui adalah proses alami yang menjadi dasar kuat bagi seorang insan manusia untuk bisa tumbuh paripurna dalam seluruh aspeknya. Sayangnya, banyak dari kita belum mengetahuinya. Atau tahu, tapi pada prakteknya menemukan tantangan dan akhirnya gagal.

Yup. Dunia laktasi.

Inilah (salah satu) jurusan yang ingin kutekuni dalam universitas kehidupan ini.
Aku ingin membantu sesama ibu, mengedukASI mereka tentang pentingnya memberikan ASI pada buah hatinya.  MengedukASI bahwa tiap tetes ASInya adalah miracle yang harus diperjuangkan. Karena ASI adalah hak bayi untuk tumbuh optimal dan menyempurnakan susuan adalah perintah Allah. Karena bayi-bayi muslim yang sehat, pintar dan cerdas secara emosi adalah calon pemimpin kita nantinya.

Maka memang aku harus terus belajar, meningkatkan kapasitas diri, mengupdate selalu dengan penelitian dan ilmu terbaru, bertemu sebanyak ibu sebisa yang aku lakukan, memperbanyak jam terbang konseling dan menemui banyak kasus. Dan aku harus mulai mengikat ilmu ini dengan menulis. Ya, menulis menstrukturkan pemikiran, mengendapkan ilmu dan me-recall pengetahuan, yang jelas dengan menulis, aku bisa menyebarkan informASI dan mengedukASI lebih banyak orang. Inilah jejakku yang mungkin akan tetap ada bahkan ketika aku tidak ada.

Tak perlulah saat ini aku menghitung-hitung apa yang belum aku lakukan. Tapi mulai menghargai apa hal kecil yang sudah aku mulai. Menghargai setiap effortku. Bukan, bukan untuk ujub, tapi untuk meyakinkan diri, aku sudah berjalan sejauh ini dan aku berada di jalur yang tepat. Dan suatu saat, bila aku memang layak, kompetensiku mumpuni, aku akan lantang berkata “Ya, dunia laktasi ini memang jalanku. Dan aku terlahir untuk membantu ibu memberikan ASI pada anak-anaknya”.konseling-di-bansel

Tulisan ini dibuat untuk memenuhi tugas Matrikulasi Institut Ibu Profesional – NHW#1

Advertisements

Filed under: Bunda, , , , , , ,

Ikutan Menyusui Serentak yuuu…

Halo para moms,dads juga calon moms&dads di Bandung & sekitarnya.. .

Sebagian anggota milis AsiForBaby (AFB) Bandung dengan dukungan dari AIMI Pusat dan pemerintah daerah tingkat I Jawa Barat bersepakat untuk membentuk AIMI Cabang Jawa Barat. Tujuan dari pendirian AIMI Cabang Jawa Barat ini adalah untuk lebih menggiatkan kampanye dan pendidikan tentang pentingnya ASI di Kota Bandung dan kota-kota lainnya di Jawa Barat, sehingga lebih banyak lagi ibu-ibu di wilayah Jawa Barat yang dapat memberikan ASI serta mendapatkan dukungan yang dibutuhkan.

Read the rest of this entry »

Filed under: Uncategorized, , , , , ,

Jeruk minum jeruk

Beberapa hari ini malees banget buat pumping. Jadi kalau pulang pas istirahat, gak bawain Gaza “oleh-oleh” ASIP lagi. Katanya sih, emang ada masanya rasa males itu datang. Soalnya, sekarang PD-ku sudah bisa diajak “kompromi”. Bisa tahan 4 jam++! Padahal waktu Gaza masih 3-5 bulan, tiap 2 jam kudu harus pumping, kalo ga, badan udah keringat dingin, ga tenang, ga konsen ngapa-ngapain, dan yang pasti banjiiiir…Kalau di awal, sebulan aku bisa ngabisin 2 kotak breast pad isi 60. Bulan ke-5 cuma 1 kotak. Dan bulan ini, cuma 1 kotak isi 30! Apakah produksi ASI-ku berkurang? Gak juga. Tadi pagi masih “mau gak mau” buang 13 botol ASIP, karena udah lewat masa expired 😦 Ini dia yang bikin aku jadi malas pumping di kantor. Karena akhirnya kebuang juga. Dan suka serba salah, karena ga ada botol kosong lagi buat nyimpan ASIP yang fresh.

Di saat banyak ibu lain yang kejar tayang menuhin stok ASIP, bahkan tidak sedikit juga yang akhirnya menyerah pada susu formula, aku malah “buang-buang” ASI. Itu juga sudah didonorkan secara rutin.

Alhamdulillah, ini salah satu nikmat terbesar untukku sebenarnya. Harusnya bisa kujaga ya! dengan rajin pumping, supaya stok tetap terjaga. Karena perjuangan masih panjang… masih 3/4 jalan lagi menuju S-3 ASI. Hoho..semoga istiqomah!

Akhirnya, hari ini aku mulai pumping lagi di kantor. Seperti biasa, di ruangan kosong yang ku-alihfungsikan jadi pumping room. Lumayan, walau berantakan, at least aku bisa tenang pumping di situ 🙂 Dan teman-teman kantor yang mostly bapak-bapak juga sudah mahfum, kalau itu “Ruangannya Lintang”. Ah…mengosongkan PD memang saat-saat yang nikmat. Plong. Lega. Puas! 🙂

Alhamdulillah, ternyata memang produksiku tidak/belum berubah. Dapat 2 gelas belimbing full! Sayangnya, aku cuma bawa 2 botol kaca kosong untuk nampung. Dan masih ada 40cc-an lagi di gelas. Dikemanain ya?? dibuang keluar lewat jendela? ga ahsan banget sih.. apa dibuang ke KM? ah, masa’ aku tenteng2 gelas isi ASIP keluar? ga ahsan juga ah..Pikir-pikir biar ga mubazir.. akhirnya “Glek..glek” aku minum habis ASIP yang tersisa! ahahay..jeruk minum jeruk nih! 😀 Ya..ASI kan bagus kandungannya. Bagus buat Gaza, bagus juga buat bundanya doong.. 🙂 Tapi jangan tanya rasanya..asli ga enak! kayak susu basi. Rada asem-asem gitu.. :p  Gapapa lah..yang penting Gaza sukaaaa…. 😀

Filed under: ASI, Bunda, , ,

Mitos Seputar ASI

Banyak ilmu yang masih “abu-abu” seputar ASI. Sehingga mempengaruh ibu akan kebaikan ASI. Bahkan memilih untuk tidak memberikan ASI pada bayinya. Apakah memang demikian faktanya ataukah sekadar mitos belaka??

* Jika ibu mengalami kesundulan (hamil lagi dalam jarak dekat), apakah pemberian ASI harus dihentikan?

Fakta: Hal ini masih kontroversial. Ada dokter kandungan yang melarang ibu hamil menyusui karena khawatir terjadi kontraksi rahim yang bisa menyebabkan keguguran. Namun ada juga yang tidak melarang. Belum ada penelitian yang betul-betul membuktikan hal tersebut. Juga tak ada anjuran yang pasti dalam keadaan bagaimana seorang ibu hamil harus ekstra hati-hati. Kalau memang merasa nyeri perut dan memiliki riwayat keguguran, bermasalah dengan kandungan, atau malah pernah mengalami perdarahan, sebaiknya hentikan. Akan tetapi kalau kehamilannya sehat-sehat saja alias tidak ada masalah, pemberian ASI bisa diteruskan.

* Sebelum menyusui, ASI yang keluar pertama harus dibuang dulu?

Fakta: Tidak perlu. ASI pertama yang keluar adalah kolostrum yang mengandung banyak zat antibodi untuk kekebalan tubuh. Anggapan ASI yang keluar pertama adalah basi juga tidak benar karena ASI selalu terlindungi dalam payudara ibu. Dengan tujuan membunuh kuman, tiap tetes ASI yang keluar sebelum menyusui boleh saja dioleskan di seputar puting susu ibu.

* Benarkah ASI bisa anyep/dingin/basi?

Fakta: ASI selalu dalam keadaan terlindungi dalam payudara, sehingga tak mungkin basi atau dingin karena selalu sesuai dengan suhu tubuh, kecuali kalau ASI sudah dikeluarkan. Dalam suhu ruang ASI bisa bertahan sekitar 6 jam, dan 2 minggu hari bila ditaruh di kulkas serta 3 bulan di suhu freezer, asalkan tidak sering dibuka-tutup.

* ASI bisa berubah rasa dan warna?

Fakta: Rasa ASI memang bisa berubah dan lebih variatif sesuai dengan makanan yang dikonsumsi ibu. Komposisinya pun tergantung usia anak. Warna ASI juga bisa berubah sesuai kebutuhan zat gizi yang diperlukan bayi. Inilah urutannya:

  • Kolostrum ASI yang pertama keluar adalah kolostrum yang warnanya agak kekuning-kuningan. Kolostrum banyak mengandung zat antibodi yang bermanfaat bagi tubuh.
  • Mature milk Setelah beberapa hari, tubuh ibu memproduksi susu matang (mature milk) dengan komposisi:
  1. Foremilk Selama 5 menit pertama ASI yang keluar berwarna kebiru-biruan dan tampak encer, dinamakan foremilk. Di dalamnya terkandung protein, laktosa dan nutrisi lainnya.
  2. Hindmilk Selanjutnya, ASI yang diproduksi tubuh disebut hindmilk. Warnanya putih dan mengandung banyak lemak.

* Benarkah payudara kanan mengandung makanan dan yang kiri minuman?

Fakta: Biasanya payudara mana yang disusukan pada bayi tergantung pada kenyamanan posisi ibu. ASI yang dikeluarkan, baik dari payudara kanan maupun kiri, sama-sama mengandung foremilk dan hindmilk atau dengan kata lain memiliki komposisi yang sama. Puaskan bayi pada satu payudara selama kira-kira 15 menit. Bila masih belum puas, barulah pindah ke payudara lainnya. Biasanya ASI yang keluar adalah bagian yang encernya dulu (foremilk), kemudian baru hindmilk.

* Makanan pedas dan bersantan yang dikonsumsi ibu bisa membuat bayi mencret?

Fakta: Tak pernah terjadi bayi mencret hanya gara-gara makanan yang dikonsumsi ibunya. Meski demikian, sebaiknya jangan mengonsumsi makanan yang terlalu merangsang karena ada juga bayi yang menjadi kembung karenanya.

* Ibu menyusui sebaiknya tidak minum es karena membuat bayinya pilek?

Read the rest of this entry »

Filed under: Reviews, , , ,

Kenapa Pilih ASIX

Kenapa ya Bunda ngotot banget pengen ngasih Gaza ASIX?

 

Pertama, kualitasnya

Ga diragukan lagi, ASI is the best for baby! Komposisi dan kandungannya pas sesuai dengan perkembangan kebutuhan Gaza. Apalagi kalo selama 6 bulan full, Gaza hanya mimik ASI tanpa tambahan apapun–bahkan air putih. ASI punya zat hidup berupa enzim dan antibodi yang ga dimiliki susu formula merk termahal sekalipun yang bisa meningkatkan imunitas bayi, terutama di awal-awal kehidupannya, di mana pencernaannya belum berfungsi sempurna.

Allah maha kaya, maha pemurah yang menciptakan wanita bisa mengandung, bisa melahirkan dan bisa memberi makan anaknya yang belum berdaya itu melalui dirinya, dan itu C-U-K-U-P, tanpa perlu tambahan makanan lainnya. Allah keren kaaan…

Kedua, efek psikologis

Menyusui, adalah moment intim ibu dan bayinya. Its a treasure time! Kehangatan dada ibu memberikan rasa aman dan nyaman bagi bayi. Sentuhan kulit dengan kulit ibu membuat bayi merasa tenang. Di situ pula bayi bisa mendengar irama degup jantung ibu yang selama 9 bulan menjadi harmoni yang sangat dikenalnya. Semua itu juga dapat memperkuat bonding antara mereka.

Ekspresi Gaza yang paling Bunda suka, ya itu, ekspresi ‘larut’nya Gaza dalam dekapan Bunda saat menyusui. Pengennya bisa eye-to-eye contact, tapi entah kenapa –mungkin terlalu nyaman didekap, atau karena “pelor”??– Gaza selalu merem kalo lagi nenen :p.

Ketiga, simply

Ya ga perlu repot-repot nakar-nakar susu, cari air panas, cuci-steril botol tiap kali mau nyusuin. Cukup cari tempat yang aman, tutupin pake apron atau baby blanket dan zleph! ^.^

Keempat, tidak takut najis

Bayi laki-laki selama ia minum ASI SAJA maka pipisnya tidak perlu dicuci, cukup dipercikkan air saja.

“Pakaian yang terkena air kencing bayi perempuan harus dicuci, sedangkan pakaian yang terkena air kencing bayi laki-laki maka diperciki dengan air jika belum mengkonsumsi makanan.”(HR. Abu Dawud)

Jadi Bunda tenang-tenang aja, walau Gaza pipis sana-sini.. yaa, tinggal tahan pesingnya aja 😀

Kelima, irit

Jelas, Bunda ga perlu beli susu formula yang mahalnya selangit itu.. Lumayan, duitnya kan bisa dipake buat Ayah dan Bunda nonton bioskop, lho??! Sometimes, something best is FREE!

Kelima hal itu cukup kan untuk membuat Bunda memperjuangkan ASIX buat Gaza..

Bismillah, semoga istiqomah

Filed under: Uncategorized, ,

Pandangan Islam tentang Bank ASI

Assalamu’alaikum Wr. Wb

Pak ustad yang saya hormati, saya ingin menanyakan tentang hukum bank susu dalam perspektif Islam. Bagaimana pandangan Islam terhadap praktek bank susu ini?

Terima kasih

Wassalamu’alaikum Wr. Wb
Jawaban

Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wababarakatuh,

Di masa sekarang ini kita memang dikejutkan dengan berita telah berdirinya bank khsusus untuk menampung air susu ibu. Para ulama kontemporer memandangkan dari beberapa sudut pandang yang berlainan, sehingga yang kita temui dari fatwa mereka pun saling berbeda. Sebagian mendukung adanya bank air susu tapi yang lainnya malah tidak setuju.

1. Pendapat Yang Membolehkan

Ulama besar semacam Dr. Yusuf Al-Qaradawi tidak menjumpai alasan untuk melarang diadakannya semacam “bank susu.” Asalkan bertujuan untuk mewujudkan maslahat syar’iyah yang kuat dan untuk memenuhi keperluan yang wajib dipenuhi.

Beliau cenderung mengatakan bahwa bank air susu ibu bertujuan baik dan mulia, didukung oleh Islam untuk memberikan pertolongan kepada semua yang lemah, apa pun sebab kelemahannya. Lebih-lebih bila yang bersangkutan adalah bayi yang baru dilahirkan yang tidak mempunyai daya dan kekuatan.

Beliau juga mengatakan bahwa para wanita yang menyumbangkan sebagian air susunya untuk makanan golongan anak-anak lemah ini akan mendapatkan pahala dari Allah, dan terpuji di sisi manusia. Bahkan sebenarnya wanita itu boleh menjual air susunya, bukan sekedar menyumbangkannya. Sebab di masa nabi, para wanita yang menyusui bayi melakukannya karena faktor mata pencaharian. Sehingga hukumnya memang diperbolehkan untuk menjual air susu.

Bahkan Al-Qaradawi memandang bahwa institusiyang bergerak dalam bidang pengumpulan ‘air susu’ itu yang mensterilkan serta memeliharanya agar dapat dinikmati oleh bayi-bayi atau anak-anak patut mendapatkan ucapan terima kasih dan mudah-mudahan memperoleh pahala.

Selain Al-Qaradawi, yang menghalalkan bank susu adalah Al-Ustadz Asy-Syeikh Ahmad Ash-Shirbasi, ulama besar Al-Azhar Mesir. Beliau menyatakan bahwa hubungan mahram yang diakibatkan karena penyusuan itu harus melibatkan saksi dua orang laki-laki. Atau satu orang laki-laki dan dua orang saksi wanita sebagai ganti dari satu saksi laki-laki.

Bila tidak ada saksi atas penyusuan tersebut, maka penyusuan itu tidak mengakibatkan hubungan kemahraman antara ibu yang menyusui dengan anak bayi tersebut.

2. Yang Tidak Membenarkan Bank Susu

Di antara ulama kontemporer yang tidak membenarkan adanya bank air susu adalah Dr. Wahbah Az-Zuhayli dan juga Majma’ Fiqih Islami. Dalam kitab Fatawa Mua`sirah, beliau menyebutkan bahwa mewujudkan institusi bank susu tidak dibolehkan dari segi syariah.

Demikian juga dengan Majma’ Fiqih Al-Islamimelalui Badan Muktamar Islam yang diadakan di Jeddah pada tanggal 22 – 28 Disember 1985/ 10 – 16 Rabiul Akhir 1406. Lembaga inidalam keputusannya (qarar) menentang keberadaan bank air susu ibu di seluruh negara Islam serta mengharamkan pengambilan susu dari bank tersebut.

Perdebatan Dari Segi Dalil

Ternyata perbedaan pendapat dari dua kelompok ulama ini terjadi di seputar syarat dari penyusuan yang mengakibatkan kemahraman. Setidaknya ada dua syarat penyusuan yang diperdebatkan. Pertama, apakah disyaratkan terjadinya penghisapan atas puting susu ibu? Kedua, apakah harus ada saksi penyusuan?

1. Haruskah Lewat Menghisap Puting Susu?

Kalangan yang membolehkan bank susu mengatakan bahwa bayi yang diberi minum air susu dari bank susu, tidak akan menjadi mahram bagi para wanita yang air susunya ada di bank itu. Sebab kalau sekedar hanya minum air susu, tidak terjadi penyusuan. Sebab yang namanya penyusuan harus lewat penghisapan puting susu ibu.

Mereka berdalil dengan fatwaIbnu Hazm, di mana beliau mengatakan bahwa sifat penyusuan haruslah dengan cara menghisap puting susu wanita yang menyusui dengan mulutnya.

Dalam fatwanya, Ibnu Hazm mengatakan bahwa bayi yang diberi minum susu seorang wanita dengan menggunakan botol atau dituangkan ke dalam mulutnya lantas ditelannya, atau dimakan bersama roti atau dicampur dengan makanan lain, dituangkan ke dalam mulut, hidung, atau telinganya, atau dengan suntikan, maka yang demikian itu sama sekali tidak mengakibatkan kemahraman

Dalilnya adalah firman Allah SWT:

‘Dan ibu-ibumu yang menyusui kamu dan saudara perempuanmu sepersusuan…‘ (QS An-Nisa’:23)

Menurut Ibnu Hazm, proses memasukkan puting susu wanita di dalam mulut bayi harus terjadi sebagai syarat dari penyusuan.

Sedangkan bagi mereka yang mengharamkan bank susu, tidak ada kriteria menyusu harus dengan proses bayi menghisap puting susu. Justru yang menjadi kriteria adalah meminumnya, bukan cara meminumnya.

Dalil yang mereka kemukakan juga tidak kalah kuatnya, yaitu hadits yang menyebutkan bahwa kemahraman itu terjadi ketika bayi merasa kenyang.

Dari Aisyah ra berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Perhatikan saudara laki-laki kalian, karena saudara persusuan itu akibat kenyangnya menyusu. (HR Bukhari dan Muslim)

2. Haruskah Ada Saksi?

Hal lain yang menyebabkan perbedaan pendapat adalah masalah saksi. Sebagian ulama mengatakan bahwa untuk terjadinya persusuan yang mengakibatkan kemahraman, maka harus ada saksi. Seperti pendapat Ash-Sharabshi, ulama Azhar. Namun ulama lainnya mengatakan tidak perlu ada saksi. Cukup keterangan dari wanita yang menyusui saja.

Bagi kalangan yang mewajibkan ada saksi, hubungan mahram yang diakibatkan karena penyusuan itu harus melibatkan saksi dua orang laki-laki. Atau satu orang laki-laki dan dua orang saksi wanita sebagai ganti dari satu saksi laki-laki.

Bila tidak ada saksi atas penyusuan tersebut, maka penyusuan itu tidak mengakibatkan hubungan kemahraman antara ibu yang menyusui dengan anak bayi tersebut.Sehingga tidak perlu ada yang dikhawatirkan dari bank susu ibu. Karena susu yang diminum oleh para bayi menjadi tidak jelas susu siapa dari ibu yang mana. Dan ketidak-jelasan itu malah membuat tidak akan terjadi hubungan kemahraman.

Dalilnya adalah bahwa sesuatu yang bersifat syak (tidak jelas, ragu-ragu, tidak ada saksi), maka tidak mungkin ditetapkan di atasnya suatu hukum. Pendeknya, bila tidak ada saksinya, maka tidak akan mengakibatkan kemahraman.

Sedangkan menurut ulama lainnnya, tidak perlu ada saksi dalam masalah penyusuan. Yang penting cukuplah wanita yang menyusui bayi mengatakannya. Maka siapa pun bayi yang minum susu dari bank susu, maka bayi itu menjadi mahram buat semua wanita yang menyumbangkan air susunya. Dan ini akan mengacaukan hubungan kemahraman dalam tingkat yang sangat luas.

Dari pada kacau balau, maka mereka memfatwakan bahwa bank air susu menjadi haram.

Dan kesimpulan akhirnya, masalah ini tetap menjadi titik perbedaan pendapat dari dua kalangan yang berbeda pandangan. Wajar terjadi perbedaan ini, karena ketiadaan nash yang secara langsung membolehkan atau mengharamkan bank susu. Nash yang ada hanya bicara tentang hukum penyusuan, sedangkan syarat-syaratnya masih berbeda. Dan karena berbeda dalam menetapkan syarat itulah makanya para ulama berbeda dalam menetapkan hukumnya.

Wallahu a’lam bishshawab, wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wababarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc (wi)

Dalam Fiqh Kontemporer Hasan Albanna, donor ASI dikenakan hukum saudara sepersusuan jika syarat-sayart ini dipenuhi :

  • Air susu diberikan langsung dari panyudara Ibu pendonor, bukan diperah kemudian disuapi kepada bayi
  • Air susu pendonor secara dominan diminum bayi, dibandingkan minuman lainnya. Jadi kalo campur-campur, atau cuma sedikit, maka air susu donor tersebut tidak mempengaruhi pembentukan tulang dan daging
  • Kita yakin betul bahwa air susu pendonor diminum bayi. Kalo bayi mengisap, tapi tidak yakin air susunya keluar dan tertelan, maka tidak dapat dikatakan menyusu
  • Bayi minum air susu sampai 5x kenyang

Kalo menurut Yusuf Qardhawi, maka Gaza belum sepersusuan dengan bayi itu. Karena syarat pertama tidak terpenuhi. Tapi untuk amannya, Bunda dan ayah sepakat kalau kita tetap akan menaganggapnya saudara sepersusuan. Wah..Jadi ga sabar pengen ketemuan ^.^

Filed under: Reviews, , , ,

Bunda Gaza

Lilypie Breastfeeding tickers

Archives

my read shelf:
Lintang Dwi's book recommendations, favorite quotes, book clubs, book trivia, book lists (read shelf)

Aku dan dia

Kidzsmile Foundation

AIMI Jabar

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 9 other followers

Yang silaturahim

  • 75,291 hits