Keluarga Alamanda

Icon

. cerita bunda . cerita keluarga mahayattika .

KM 0, perjalanan itu dimulai dari sini

One bite at a time

Banyak ilmu yang ingin dipelajari dalam universitas kehidupan ini. Sering rasanya diri ini ingin tau semua hal, ingin mempelajari semua hal, merasa kurang, merasa takut ketinggalan yang lagi update. Ada rasa bila ikut tau tentang sesuatu tersebut, maka akan jadi emak-emak kudet yang gak bisa ngikutin tantangan jaman. Euuh… berat banget pressurenya. Ini yang akhirnya membuat saya panik, dan bingung. Ikut seminar ini, ikut pelatihan itu, cari tau tentang metode nganu, ngikut-ngikut pendekatan nginu dan kepanikan lain. Dan benar saja. Pada akhirnya hanya tau kulit -bahkan baunya saja-, tidak sampai ke daging. Dan sedikiit pengetahuan dari banyak cabang itu bukannya membuat tambah bijak selayaknya ilmu padi, tapi makin membuat kepanikan.

Maka benarlah, satu hal yang harus saya lakukan lebih dahulu adalah menetapkan ilmu yang ingin saya pelajari di universitas kehidupan ini. Yang tentunya seiring dengan misi keluarga kami.

Jika Keluarga Cahaya adalah yang kami sepakati sebagai gen keluarga kami, yang harapannya keluarga kami dapat memberikan cahaya manfaat untuk lingkungannya dengan kesamaan potensi saya dan suami sebagai edukator dan orang yang senang berbagi manfaat. Namun tentunya, kita dapat berbagi bila kita memiliki sesuatu untuk dibagi. Kami meyakini, untuk berbagi dengan apa yang kami punya, dalam artian, tidak menunggu sempurna atau menunggu berlebih untuk bisa berbagi. Berbagi sesuai dengan kemampuan yang dimiliki. Dan berbagi itu tidak selalu bicara tentang materiil. Dan untuk mencapai hal tersebut, tentu kami harus punya karakter dan skill yang dapat mendukung kami untuk berbagi, sesuai bidang dan kepakaran masing-masing. Maka kami harus menguatkan dulu di dalam keluarga kami. Ibarat ember yang penuh bisa memberi kucuran ke sekitarnya.

Mempelajari ilmu satu persatu, melakukannya satu persatu.

Kalau gak fokus pada misi, maka akan kemana-mana, gak jelas, gak ada yang bener. Maka ‘mencapai tujuan’ hanya akan menjadi mimpi di siang bolong.

Memantapkan kembali jurusan dalam  Universitas Kehidupan

Mereview lagi NHW#1, ketika ditanya apa jurusan yang ingin diambil di universitas kehidupan, dan saya jawab saya ingin mempelajari Dunia Laktasi. Hmm.. tidak sepenuhnya melenceng. Tapi melalui NHW berikutnya, sepertinya ada hal urgent lain yang seharusnya saya kuasai sebelum itu. Ada hal yang disebut prioritas amal. Karena saya tipe orang yang “ingin menyelesaikan sesuatu dengan sempurna, mumtaz, dan sulit untuk move-on bila masih ada hal yang tertinggal”. Jadi ketika saya memaksakan untuk terus berjalan -mengabaikan pekerjaan yang belum tuntas- hati, fikiran dan perasaan bersalah saya akan terus menghantui dan mempengaruhi mood saya. Dan ujung-ujungnya saya tidak akan maksimal melanjutkan pekerjaan lainnya sebelum melangkah mundur dan menuntaskan yang tersisa.

Dan saya berubah fikiran. Saya mantap untuk menuntaskan dulu urusan “ke dalam”. Sebelum bisa optimal memberi manfaat. Saya harus perkuat diri saya untuk bisa menuntaskan amanah saya sebagai ibu terutama di masa-masa emas pre akil baligh anak-anak yang tidak akan terulang. Maka jurusan yang ingin saya pelajari di universitas kehidupan ini adalah mata kuliah : Ibu Profesional.

Saya tidak ingin melewatkan kesempatan emas amanah mendidik anak-anak dan bekerja keras untuk membangun peradaban dari dalam rumah. Bila suami sebagai nahkoda, pemimpin perjalanan kami yang membuat keputusan rute yang akan kami lalui, maka saya adalah machine engineer-nya yang memastikan kendaraan yang kami pakai ini senantiasa dalam keadaan laik jalan. Memastikan mesin tidak panas, tidak jumud dan bosan dengan memberi aktifitas-aktifitas yang menyegarkan . Mengontrol oli dan bensin selalu tersedia, memastikan supply makanan halal toyyiban. Saya memastikan kendaraan kami ini menjadi kendaraan yang nyaman, tempat pulang setelah aktifitas. Baik nyaman secara suasana, anggota keluarganya, maupun secara fisiknya. Saya akan mendeteksi bila ada gangguan mesin dan segera menelurusi penyebab dan mendiskusikan solusinya bersama sang nahkoda.

Namun saya juga menyadari. Peran publik saya tidak bisa dilepas begitu saja. Saya bekerja di kantoran, dan juga memegang amanah di yayasan dan komunitas. Maka yang akan saya lakukan adalah menyesuai porsi berdasarkan prioritas saya.

Disiplin untuk Memantaskan diri

Sebelumnya di NHW#2 saya sudah membuat Indikator Ibu Profesional versi saya. Yang ternyata setelah saya baca ulang.. sangat tidak sistematis.. hahaha. Sedikit banyak, indikator itu sudah mewakili keinginan saya untuk memperbaiki peran saya sebagai ibu dan istri sebelum akhirnya menjadi orang yang bisa memberi manfaat untuk orang lain. Tapi ya itu.. masih lompat-lompat. Akhirnya saya revisi kembali indikator tersebut, saya kelompokkan berdasarkan waktu. Mana yang target bulan tertentu, mana yang mingguan dan mana yang harian. Dan saya turunkan target-target itu ke dalam aktifitas harian, jam per jam.

Namun, sepertinya masih harus direvisi sedikit lagi. Agar bisa lebih terukur, produktif dan sesuai dengan prioritas ilmu yang ingin saya pelajari.

Mendeskripsikan Peran Hidup

Setelah merenung kembali tentang kekuatan dan potensi diri, peran asasi sebagai ibu dan juga misi keluarga, bismillah saya coba untuk meraba peran hidup yang telah Allah gariskan melalui berbagai pengalaman, pertemuan, peristiwa yang saling terkait dan menyusun suatu gambaran utuh

Misi Hidup : meningkatkan kualitas hidup generasi muslim dengan ASI
Bidang : laktasi
Peran : Educator

Tahapan belajar

Untuk mencapai peran hidup saya, dimana ada 10.000 jam yang harus dijalani untuk mencapai tingkat mahir, tentunya saya harus atur betul tahapan ilmu yang akan saya pelajari. Dan tentunya harus dibagi porsinya untuk belajar bagaimana menjadi ibu profesional. Sehingga saya tidak menjadi ibu yang kuat keluar, tapi kosong di dalam. Maka saya akan memulai untuk memfokuskan pembelajaran saya sesuai porsi dan prioritas yang sudah saya tetapkan dan memulainya mulai saat ini, ya ini KM 0 saya. Di mana saat ini saya melangkahkan langkah pertama saya untuk mengawali perjalanan ribuan KM berikutnya. Inilah titik balik saya.

Bila saat ini usia saya menuju 33 tahun, saya punya waktu 7 tahun lagi hingga usia saya mencapai 40 tahun. Ya, “Life’s begin at fourthy” dalam Islam pun, angka 40 disebut dalam al Qur’an dan beberapa hadist. Mengisyaratkan, pada usia itulah biasanya manusia bisa fokus mempersiapkan bekal untuk kembali ke akhirat. Di usia 40 tahun nanti insyaAllah aku sudah siap menjadi seorang edukator laktasi dengan pengalaman matang dan pengetahuan mendalam di bidang ini.

Karena itu sebelum usia 40 tahun itu aku harus sudah selesai dengan fokus jurusanku saat ini, yaitu menjadi Ibu Profesional, yang kutargetkan selesai di usia 36 tahun, yaitu 3 tahun lagi. Kenapa kugegas, karena pada usia itu pun Bagas si bungsu memasuki usia 7 tahun, tahapan baru dalam milestone pengasuhan dan perkembangannya. Di 3 tahun pertama itu, aku akan mengutamakan prioritasku mencapai Ibu Profesional, sehingga untuk pencapaian 10,000 jam, dalam 3 tahun atau sekitar 1150 hari aku perlu mengalokasikan waktu 8-9 jam setiap harinya. Tentunya ini mencakup kegiatan pengembangan pengetahuan, pelatihan dan praktek langsung keseharian sebagai seorang ibu.

Di luar itu, porsi untuk 10,000 jam menjadi edukator di bidang laktasi kualokasikan sekitar 1 jam/hari. Sehingga dalam waktu 3 tahun itu, kurang lebih 1,000 hari, aku sudah mencapai 1,000 jam pengalaman.

Targetku 4 tahun berikutnya aku bisa totalitas menuntaskan 8,850 jam yang dibutuhkan untuk mengembangkan diri dalam menuju peran hidupku mengedukasi masyarakat kembali ke ASI. Sehingga pada periode kedua ini, aku mengalokasikan waktu 6 jam setiap harinya.

Dan inilah targetan milestone periode pertama yang kutetapkan untuk mencapai Ibu Profesional :

KM 0 – KM 1 (tahun 1) : Menguasai dan mengamalkan Ilmu seputar Tazkiatun Nafs, Parenting Nabawiyah, dan Bunda Sayang

KM 1 – KM 2 (tahun 2) : Menguasai Ilmu seputar Bunda Cekatan dan Bunda Produktif

KM 2 – KM 3 (tahun 3) : Menguasai Ilmu seputar Bunda Sholeha

 

Milestone periode kedua untuk mencapai edukator laktasi :

KM 3 – KM 4 (tahun 4) : Menguasai beberapa teknik konseling dan terapi

KM 4 –  KM 5 (tahun 5) : Menguasai teknik grafis dan multimedia untuk membuat konten edukasi

KM 5 – KM 6 (tahun 6) : Menguasai teknik memfasilitasi dan publik speaking

KM 6 – KM 7 (tahun 7) : Menguasai ilmu seputar intervensi sosial dan pengelolaan komunitas

 

Pengejewantahan konkrit

Perencanaan dan mimpi ini tidak akan terwujud bila tidak sampai diturunkan sampai ke aktifitas harian. Dan saya kembali merevisi jadwal harian saya sehingga menu-menu belajar yang sudah ditargetkan tadi mendapat waktu yang sesuai dengan rancangan.

Semoga Allah meridhoi apa-apa yang saya niatkan ini. Semoga tulisan ini menjadi langkah awal saya menjadi The new Me, saya yang lebih terstruktur, saya yang senantiasa bergerak menuju titik yang saya tuju.

 

 

Filed under: Bunda, , , , , , , , , , ,

Membangun Peradaban dari Dalam Rumah

#NHW3 ini yang bikin saya stuck karena sulit menuliskannya. Dan berujung dengan telat mengumpulkan dan merembet ke NHW berikut-berikutnya. Ya karena diminta untuk jatuh cinta kembali ke suami. Bukan karena tak cinta, atau karena tak ada respon. Tapi karena saya sulit menuliskannya dalam kata-kata. Padahal tugas surat cintanya sudah dibuat, sudah diberikan, tapi penulisan NHW nya yang mandeg.

Dan karena saya sudah nunggak 3 buah NHW, baiklah.. Allahummapaksakeun. Bismillah..

a. Jatuh cinta kembali

Jadi begini ceritanya.

Dari awal saya kepo-in Multiply laki-laki yang sekarang jadi bapaknya anak-anak, saya udah yakin , “He’s the one”. Entah kenapa, rasa “klik” itu muncul ketika membaca idenya via tulisannya di blog. Saya tidak kenal dengannya sebelumnya. Saya baru pindah dari ibukota, ke kota kembang karena diterima bekerja di LIPI. Saat itu saya yang terbiasa punya aktifitas, sedang mencari kegiatan lain di luar kerjaan. Dan Allah mempertemukan kami di dunia maya. Berlanjut dengan tawaran dia untuk ikut bergabung dalam lembaga dakwah sekolah, sebutlah LP2I, dan bantu-bantu alumni rohis sebuah SMA di Dago. Kebetulan sebelumnya saya memang terjun di dakwah sekolah, jadi tawaran itu saya terima dengan semangat.

Beberapa bulan setelah itu, Lelaki ini menyatakan ingin mengkhitbah, menemui orang tua saya. Singkat cerita, kami akhirnya menikah. Ternyata firasat saya memang benar sejak 9 bulan sebelumnya kami “bertemu” pertama kali di multiply. Ternyata memang kami berjodoh :p Saya memang pernah membuat proposal pernikahan, yang di dalamnya ada kriteria-kriteria calon pendamping yang saya harapkan. Proposal itu dibuat jauh sebelum bertemu dengan si calon suami. Tapi ketika lelaki ini menyatakan niatnya, saya tidak terlalu kenal dia, dan sayapun tidak membaca lagi kriteria tersebut. Rasa itu saja yang membimbing saya mantap menerima pinangannya.

lelakiku

Dan alhamdulillah.. ternyata memang yang namanya jodoh itu saling melengkapi. Saya merasakan sekali bagaimana lelaki ini bisa menambal kekurangan saya. Saya yang terlalu riweuh bin paciweh untuk membuat keputusan kecil sekalipun, selalu bisa mengandalkan dirinya yang tegas dan berani mengambil resiko. Saya yang ternyata kuper banget, sangat terbantu dengan dirinya yang tau segala hal dari mulai pendidikan anak sampai kegiatan intelijen. Saya yang suka disorientasi arah, sangat terbantu dengan dirinya yang emang tukang jalan. Yang hafal jalan-jalan tikus, peristiwa yang pernah dialami di daerah situ, sampai sejarah dan kisahnya.

Dia yang tidak pernah protes, meskipun skill masak saya begitu-begini aja. Gak pernah komplen saat rumah berantakan luar biasa, karen saya yang “asalnya” rada perfeksionis ini udah stress dan merasa ga enak banget dengan kondisi berantakan, kebayang kalo ditambah tuntutan suami yang ingin rumah rapi dan bersih selalu.

Dia yang menjalankan peran “kepala sekolah”nya dengan baik, memberi arahan pendidikan anak-anak dan mengejewantahkan visi keluarga pada mereka. Tidak sungkan untuk berbagi peran mengasuh dan mendidik anak, dari mulai menceboki anak, sampai bersusah payah demi anak-anak dapat pengalaman baru dalam hidupnya. Yang sangat terlibat dan peduli dengan tumbuhkembang anak-anak, bahkan sejak mereka masih dalam kandungan, masa-masa perjuangan ASI dan MPASI, hingga saat ini. Bahkan dia juga ikut mengajak ayah dan suami-suami lain untuk ikut terlibat dalam pengasuhan anak dengan AyahASI dan #ayahMain -nya. Makin terlihat “sexi” dia di mata saya 😀

Dia yang selalu mendukung semua rencanaku untuk mengembangkan diri. Mau jualan baju anak online, dia nyariin softloan untuk modal, nganterin kulakan baju, promosiin toko, ngirim paket, dll dan ternyata mangkrak gitu aja karena aku akhirnya sadar kalo jualan baju itu ga cocok buatku :p selalu mensupportku sepenuh hati, untuk belajar hal baru. Mau jadi babysitter anak-anak saat saya ikutan pelatihan atau ngajar kelas. Dan hal-hal lain yang membuat saya merasa sangat didukung untuk mengembangkan diri.

Ya, mengingat moment-moment pertemuan saya dan suami, mengingat hal-hal “kecil” yang ternyata sangat berarti buat saya, juga betapa kami saaangat saling melengkapi, membuat getar-getar cinta ini kembali bersemi. Dialah memang orang yang Allah ciptakan untuk mendampingi saya. Orang yang menjadi teman perjuangan untuk menjalani peran peradaban saya.

Dan meskipun “surat cinta”, yang ditulis dengan susah payah menata hati karena pada saat itu saya lagi pundung berat sama suami, tidak dibalas dengan sesuatu yang romantis dalam kaca mata telenovela, tapi senyuman dan sorot matanya begitu romantis bagi saya. Cuitcuitt…

b. Berlian dalam diri mereka

Sejak tercerahkan dengan konsep Fitrah-Based Education, saya meyakini bahwa setiap anak itu bukan kertas kosong. Mereka adalah berlian yang menanti untuk digali keluar, digosok, ditempa. Mereka adalah tokoh peradaban dengan perannya masing-masing, yang perlu dikenali, ditemukan, diasah, difasilitasi untuk dikembangkan. Tugas kitalah para orang tua, untuk membantu anak menemukan berlian-nya.

Ketiga anak kami, masing-masing unik dan spesial dengan karakter, minat dan bakatnya. Masih menjadi PR kami untuk menemukembangkan potensi unik mereka itu dan memfasilitasi mereka agar potensinya itu dapat menjadi kekuatannya.

Muhammad Argaza Mahayattika

img_20140208_150043

Gaza (7 th) adalah anak kinestetis. Dia kuat di motorik kasar, seperti lari, lompat, ataupun melakukan aktifitas fisik lainnya. Terutama aktifitas fisik yang menantang, seperti panjat tebing, motorcross, skateboarding, dll. Matanya akan berbinar-binar bila diberi kesempatan untuk mencoba dan membuktikan betapa dia bisa menguasai aktifitas tersebut.

Gaza juga sangat suka tantangan dan kompetisi. Dia bisa mengerahkan seluruh kekuatan dan kemampuannya agar bisa jadi yang no.1. Ya, nomor SATU, bukan nomor dua apalagi lainnya. Saat ini, sifat kompetitif ini yang masih menjadi PR kami agar bisa berimbang dan fair. Bahwa juara 1 bukan segalanya. Kami mempersiapkan Gaza untuk melakukan yang terbaik tapi juga siap menerima kekalahan dan tidak down saat dia tidak menjadi yang terbaik.

Gaza juga kuat dalam mengingat. Apa yang pernah disampaikan, atau dia dengar, dia lihat, meskipun sekilas, terekam jelas dalam ingatannya. Gaza cerdas, dia mampu menghubungkan suatu peristiwa, dengan peristiwa lain yang menurutnya memiliki persamaan. Gaza juga bagus dalam kemampuan linguistiknya. Bila kita tidak pintar, dia bisa ‘memelintir’ ucapan kita untuk ‘menyerang’ kita :p. Atau dia gunakan bahasa negosiasi untuk mendapatkan apa yang dia mau. Saat ini kami sedang membiasakannya sholat 5 waktu, karena usianya sudah masuk tahap pendidikan itu. Dan alhamdulillah, setiap adzan terdengar, dia spontan meninggalkan aktifitasnya dan bergegas ke mesjid. Semoga fitrah ini terus dapat kami pupuk dan tumbuhkan, diiringi dengan pemahamannya akan makna ibadah itu sendiri. Gaza cukup perasa. Tapi dia tidak mengungkapkannya.

Cita-cita Gaza saat ini adalah ingin menjadi Arkeolog, setelah akhirnya dia menyadari bahwa The Flash hanyalah tokoh rekaan, dan tidak bisa bercita-cita menjadi seorang The Flash. Bisa dipahami, Arkeolog. Profesi yang cukup menantang. Mencari fosil dan peninggalan purba, meneliti dan ‘membaca’ situasi pada jaman hidupnya.

Maheswari Filandriani Mahayattika

 

berbentoFilan (5) adalah anak yang tekun. Dia menyukai pekerjaan-pekerjaan detil yang membutuhkan ketelitian, kerapihan dan konsistensi. Hampir setiap hari Filan bangun kemudian langsung menuju tempat belajarnya lalu mengerjakan worksheet, mewarnai, bermain puzzle, dll, dan tidur dengan pensil warna (bahkan gunting) masih dalam genggamannya, di meja belajarnya.

Filan suka merapihkan, mengkategorikan (seperti saya). Saat kakak dan adiknya asyik bikin bangunan dari balok, Filan asyik mensorting sesuai warna, bentuk, merapikan di kotaknya kembali.

Filan memiliki hati yang lapang. Padahal sampai umur ke-4 dia masih suka tantrum ketika kenyataan tidak PERSIS sesuai dengan keinginannya. Padahal dia juga tidak bisa mengungkapkan apa keingingan PERSISnya. Hanya bilang ‘begitu.. begini’, dan hanya dia yang bisa menerjemahkannya 😀 Tapi sekarang, Filan-lah yang pertama mengalah, saat adiknya bersikeras mau topi Pinguin pilihan Filan, Filan akan memberikannya. Lalu ketika adiknya berganti pilihan ingin topi kelinci, pilihan Filan yang baru, Filan dengan senang hati mau menukarnya lagi. Dan ketika kakaknya mau topi Kelinci, Filan pun tidak keberatan menukarnya lagi dan menerima topi yang tersisa, topi Gajah.

Filan juga prefeksionis. Meskipun tidak se-sempurna ketika ia masih lebih muda dari ini. Filan akan bicara ketika ada sesuatu yang tidak sesuai dengan aturan yang ada. Pada lingkungan yang sudah dia kenali, dia akan mengatur, menasehati, dan menunjukkan apa yang seharusnya dilakukan.

Filan sangat menyukai crafting, atau dalam bahasanya : “bikin-bikin”. Dia bisa sangat asyik dan serius mengerjakan craftingnya. Juga memasak. Dia bahkan bercita-cita untuk memiliki toko kue sendiri. Saya sempat membuatkan video tentang minat dan cita-citanya ini untuk memotivasi Filan 🙂

Filan akan menerima aturan ketika tau apa maksud aturan itu. Ketika diceritakan tentang manfaat sayuran bagi tubuh, dia akan semangat sekali makan sayuran, agar bisa sehat seperti yang diceritakan.

Arjuna Bagaskara Mayattika

bagas-sepeda

Bagas (3 th) adalah anak ekspresif, sanguinis, yang selalu ceria, ramah, dan someah. WOO nya tinggi, seperti ayahnya. Dia senang tampil dan menjadi bahan perhatian orang.

Seperti kakaknya, Gaza. Bagas juga menonjol dalam linguistiknya. Bagas sangat pintar bercerita. Dia bisa bercerita dengan beberapa tokoh, dengan suara yang berbeda, lengkap dengan ekspresi dan mimik wajahnya. Ketika berbicara dengan Bagas, dia akan memberi tanggapan pada setiap perkataan kita. Bahkan sekadar “ooh”, atau “oh iya”. Sangat menyenangkan berbincang-bincang dengan Bagas.

Bagas pun, sangat menyukai aktifitas motorik kasar. Aktifitas yang menantang. Dia termasuk anak yang berani, tidak ragu-ragu saat melakukan aktifitas fisik yang untuk anak seumurannya cukup menantang. Entah karena memang dia belum mengerti resikonya, atau memang nekat 😀

Bagas senang sekali bila bisa “sama” dengan Gaza, gurunya. Bagas juga konkrit, cepat bertindak, gak banyak mikir. Saat Gaza masih bingung memilih donat atau kue, Bagas mengambil keduanya dan tidak menyisakan untuk kakaknya itu. Bagas termasuk anak yang penyuka segala makanan, seperti bundanya. Tidak pilih-pilih makan dan hobi makan.

c. Potensi Diri

Berdasarkan hasil dari Talent Mapping ST30 yang saya lakukan tahun 2015 lalu, saya memiliki potensi kekuatan sebagai Arranger, Educator, Explorer, Mediator, Server dan Treasurer. Dan memang seperti itulah saya. Arranger, saya kurang tahu seperti apa aplikasi potensi ini pada kehidupan saya secara pastinya. Tapi saya  Educator, saya senang mengajar, menjelaskan tentang suatu hal pada orang lain sehingga dia mengerti, berubah perilaku. Saya senang melihat anak didik/binaan saya akhirnya menemukan pencerahan dengan penjelasan saya. Explorer, Saya suka mempelajari sesuatu secara sistematis. Saya akan merasa kebingungan bila hanya menerima ilmu sepotong-sepotong, tidak utuh, tanpa tahu framework besarnya seperti apa. Saya senang bila akhirnya bisa menemukan hubungan antara hal dengan hal lainnya seperti sebab akibat. Mediator, saya tidak suka konflik. Bila tidak sesuai, saya berusaha mempertemukan, atau bila tidak mampu, saya prefer keluar dari konflik itu. Saya seringkali bisa melihat di sebelah mana ketidakcocokan dalam konflik itu berada. Server, saya senang bila bisa bermanfaat bagi orang lain. Saya dengan senang hati akan menjadi relawan yang mengurusi hal-hal yang menyangkut kebermanfaatan untuk banyak orang. Memang sekarang ini saya akhirnya membatasi, untuk mengajukan diri melakukan kerja-kerja ini. Untuk memberi waktu dan tenaga pada aktifitas yang saya prioritaskan. Treasurer, saya senang dengan data-data, angka-angka. Saya senang mengolah data menjadi informasi yang lebih nyaman dibaca dan lebih ‘wow’ tanpa memanipulasi.

Saya juga orang yang (katanya) karismatik. Image positif melekat pada diri saya sehingga orang akan mudah percaya akan perkataan saya (aku berlindung pada syaitan dan memohon ampun pada Allah yang sudah menutup aib-aib ku dihadapan manusia). Saya orang yang tidak tegaan, dan ingin membuat orang lain merasa nyaman.

Bila potensi ini dikaitkan dengan potensi anak-anak, maka saya adalah orang yang akan mengeluarkan potensi anak-anak, memberi mereka teladan, mendorong mereka untuk terus mencoba.

Sedikit banyak saya bisa memahami terusiknya Gaza yang sangat kompetitif, saya pun seperti itu. Dan merasakan betapa jiwa kompetitif ini bila tidak dimanage dengan baik akan membuat kita down, atau malah berhenti belajar karena putus asa tidak bisa menjadi yang terbaik. Saya yang suka crafting, suka printil-printil, senang mengorganize sesuatu, akan jadi cocok bekerjasama dengan Filan yang tekun. Dan saya yang suka menganalisa, akan jadi pendengar yang baik untuk Bagas yang suka bercerita dan mengekspresikan perasaannya. Semoga potensi-potensi personal ini akan tumbuh berkembang dan menjadi potensi kolektif yang membawa manfaat.

d. Peran Keluarga Kami

Kami tinggal di lingkungan “tua” yang tidak sepantar. Tetangga sekililing kami tinggal adalah orang yang lebih pantas menjadi teman bagi orang tua kami, dan kami menjadi anak mereka. Sampai saat ini kami masih menjadi “anak bawang yang tidak tau apa-apa” di antara para tetangga. Jarang diundang rapat RT, arisan, pengajian. Mungkin karena kesalahan kami juga yang tidak meluangkan waktu secara khusus.

Kondisi lingkungan tempat kami tinggal (bukan tetangga yang menempel rumah) tergolong keluarga menengah, dan ke bawah. Punya pekerjaan, anak-anak sekolah. Namun saya melihat akses pengetahuan terhadap pendidikan anak-anak masih mewarisi pendidikan orangtuanya, old school. Semoga saya salah. Untuk informasi mengenai ASI, makanan bayi, termasuk makanan sehat keluarga pun masih banyak terpengaruh promosi media. Banyak anak-anak kecil seusia Gaza yang sudah mempunyai HP, dan saya tidak yakin mereka memiliki kontrol terhadap penggunaan HP anaknya. Kemudian permasalahan sampah dan kebersihan.

Hal-hal ini yang menjadi fokus (dan insyaAllah kompetensi) saya dan suami : Makanan bayi, pendidikan anak, kekerasan anak, lingkungan, pemberdayaan kekuatan lokal. Meskipun saat ini saya belum tau bagaimana keluarga kami bisa masuk dan menggerakkan masyarakat. Tapi ini adalah PR kami untuk bisa menjadi ‘cahaya’ bagi lingkungan tempat kami tinggal, sebelum kami beranjak jauh ke lingkungan yang lebih jauh.

 

Filed under: Bunda, , , , ,

Bunda Gaza

Lilypie Breastfeeding tickers

Archives

my read shelf:
Lintang Dwi's book recommendations, favorite quotes, book clubs, book trivia, book lists (read shelf)

Aku dan dia

Kidzsmile Foundation

AIMI Jabar

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 9 other followers

Yang silaturahim

  • 73,516 hits