Keluarga Alamanda

Icon

. cerita bunda . cerita keluarga mahayattika .

KM 0, perjalanan itu dimulai dari sini

One bite at a time

Banyak ilmu yang ingin dipelajari dalam universitas kehidupan ini. Sering rasanya diri ini ingin tau semua hal, ingin mempelajari semua hal, merasa kurang, merasa takut ketinggalan yang lagi update. Ada rasa bila ikut tau tentang sesuatu tersebut, maka akan jadi emak-emak kudet yang gak bisa ngikutin tantangan jaman. Euuh… berat banget pressurenya. Ini yang akhirnya membuat saya panik, dan bingung. Ikut seminar ini, ikut pelatihan itu, cari tau tentang metode nganu, ngikut-ngikut pendekatan nginu dan kepanikan lain. Dan benar saja. Pada akhirnya hanya tau kulit -bahkan baunya saja-, tidak sampai ke daging. Dan sedikiit pengetahuan dari banyak cabang itu bukannya membuat tambah bijak selayaknya ilmu padi, tapi makin membuat kepanikan.

Maka benarlah, satu hal yang harus saya lakukan lebih dahulu adalah menetapkan ilmu yang ingin saya pelajari di universitas kehidupan ini. Yang tentunya seiring dengan misi keluarga kami.

Jika Keluarga Cahaya adalah yang kami sepakati sebagai gen keluarga kami, yang harapannya keluarga kami dapat memberikan cahaya manfaat untuk lingkungannya dengan kesamaan potensi saya dan suami sebagai edukator dan orang yang senang berbagi manfaat. Namun tentunya, kita dapat berbagi bila kita memiliki sesuatu untuk dibagi. Kami meyakini, untuk berbagi dengan apa yang kami punya, dalam artian, tidak menunggu sempurna atau menunggu berlebih untuk bisa berbagi. Berbagi sesuai dengan kemampuan yang dimiliki. Dan berbagi itu tidak selalu bicara tentang materiil. Dan untuk mencapai hal tersebut, tentu kami harus punya karakter dan skill yang dapat mendukung kami untuk berbagi, sesuai bidang dan kepakaran masing-masing. Maka kami harus menguatkan dulu di dalam keluarga kami. Ibarat ember yang penuh bisa memberi kucuran ke sekitarnya.

Mempelajari ilmu satu persatu, melakukannya satu persatu.

Kalau gak fokus pada misi, maka akan kemana-mana, gak jelas, gak ada yang bener. Maka ‘mencapai tujuan’ hanya akan menjadi mimpi di siang bolong.

Memantapkan kembali jurusan dalam  Universitas Kehidupan

Mereview lagi NHW#1, ketika ditanya apa jurusan yang ingin diambil di universitas kehidupan, dan saya jawab saya ingin mempelajari Dunia Laktasi. Hmm.. tidak sepenuhnya melenceng. Tapi melalui NHW berikutnya, sepertinya ada hal urgent lain yang seharusnya saya kuasai sebelum itu. Ada hal yang disebut prioritas amal. Karena saya tipe orang yang “ingin menyelesaikan sesuatu dengan sempurna, mumtaz, dan sulit untuk move-on bila masih ada hal yang tertinggal”. Jadi ketika saya memaksakan untuk terus berjalan -mengabaikan pekerjaan yang belum tuntas- hati, fikiran dan perasaan bersalah saya akan terus menghantui dan mempengaruhi mood saya. Dan ujung-ujungnya saya tidak akan maksimal melanjutkan pekerjaan lainnya sebelum melangkah mundur dan menuntaskan yang tersisa.

Dan saya berubah fikiran. Saya mantap untuk menuntaskan dulu urusan “ke dalam”. Sebelum bisa optimal memberi manfaat. Saya harus perkuat diri saya untuk bisa menuntaskan amanah saya sebagai ibu terutama di masa-masa emas pre akil baligh anak-anak yang tidak akan terulang. Maka jurusan yang ingin saya pelajari di universitas kehidupan ini adalah mata kuliah : Ibu Profesional.

Saya tidak ingin melewatkan kesempatan emas amanah mendidik anak-anak dan bekerja keras untuk membangun peradaban dari dalam rumah. Bila suami sebagai nahkoda, pemimpin perjalanan kami yang membuat keputusan rute yang akan kami lalui, maka saya adalah machine engineer-nya yang memastikan kendaraan yang kami pakai ini senantiasa dalam keadaan laik jalan. Memastikan mesin tidak panas, tidak jumud dan bosan dengan memberi aktifitas-aktifitas yang menyegarkan . Mengontrol oli dan bensin selalu tersedia, memastikan supply makanan halal toyyiban. Saya memastikan kendaraan kami ini menjadi kendaraan yang nyaman, tempat pulang setelah aktifitas. Baik nyaman secara suasana, anggota keluarganya, maupun secara fisiknya. Saya akan mendeteksi bila ada gangguan mesin dan segera menelurusi penyebab dan mendiskusikan solusinya bersama sang nahkoda.

Namun saya juga menyadari. Peran publik saya tidak bisa dilepas begitu saja. Saya bekerja di kantoran, dan juga memegang amanah di yayasan dan komunitas. Maka yang akan saya lakukan adalah menyesuai porsi berdasarkan prioritas saya.

Disiplin untuk Memantaskan diri

Sebelumnya di NHW#2 saya sudah membuat Indikator Ibu Profesional versi saya. Yang ternyata setelah saya baca ulang.. sangat tidak sistematis.. hahaha. Sedikit banyak, indikator itu sudah mewakili keinginan saya untuk memperbaiki peran saya sebagai ibu dan istri sebelum akhirnya menjadi orang yang bisa memberi manfaat untuk orang lain. Tapi ya itu.. masih lompat-lompat. Akhirnya saya revisi kembali indikator tersebut, saya kelompokkan berdasarkan waktu. Mana yang target bulan tertentu, mana yang mingguan dan mana yang harian. Dan saya turunkan target-target itu ke dalam aktifitas harian, jam per jam.

Namun, sepertinya masih harus direvisi sedikit lagi. Agar bisa lebih terukur, produktif dan sesuai dengan prioritas ilmu yang ingin saya pelajari.

Mendeskripsikan Peran Hidup

Setelah merenung kembali tentang kekuatan dan potensi diri, peran asasi sebagai ibu dan juga misi keluarga, bismillah saya coba untuk meraba peran hidup yang telah Allah gariskan melalui berbagai pengalaman, pertemuan, peristiwa yang saling terkait dan menyusun suatu gambaran utuh

Misi Hidup : meningkatkan kualitas hidup generasi muslim dengan ASI
Bidang : laktasi
Peran : Educator

Tahapan belajar

Untuk mencapai peran hidup saya, dimana ada 10.000 jam yang harus dijalani untuk mencapai tingkat mahir, tentunya saya harus atur betul tahapan ilmu yang akan saya pelajari. Dan tentunya harus dibagi porsinya untuk belajar bagaimana menjadi ibu profesional. Sehingga saya tidak menjadi ibu yang kuat keluar, tapi kosong di dalam. Maka saya akan memulai untuk memfokuskan pembelajaran saya sesuai porsi dan prioritas yang sudah saya tetapkan dan memulainya mulai saat ini, ya ini KM 0 saya. Di mana saat ini saya melangkahkan langkah pertama saya untuk mengawali perjalanan ribuan KM berikutnya. Inilah titik balik saya.

Bila saat ini usia saya menuju 33 tahun, saya punya waktu 7 tahun lagi hingga usia saya mencapai 40 tahun. Ya, “Life’s begin at fourthy” dalam Islam pun, angka 40 disebut dalam al Qur’an dan beberapa hadist. Mengisyaratkan, pada usia itulah biasanya manusia bisa fokus mempersiapkan bekal untuk kembali ke akhirat. Di usia 40 tahun nanti insyaAllah aku sudah siap menjadi seorang edukator laktasi dengan pengalaman matang dan pengetahuan mendalam di bidang ini.

Karena itu sebelum usia 40 tahun itu aku harus sudah selesai dengan fokus jurusanku saat ini, yaitu menjadi Ibu Profesional, yang kutargetkan selesai di usia 36 tahun, yaitu 3 tahun lagi. Kenapa kugegas, karena pada usia itu pun Bagas si bungsu memasuki usia 7 tahun, tahapan baru dalam milestone pengasuhan dan perkembangannya. Di 3 tahun pertama itu, aku akan mengutamakan prioritasku mencapai Ibu Profesional, sehingga untuk pencapaian 10,000 jam, dalam 3 tahun atau sekitar 1150 hari aku perlu mengalokasikan waktu 8-9 jam setiap harinya. Tentunya ini mencakup kegiatan pengembangan pengetahuan, pelatihan dan praktek langsung keseharian sebagai seorang ibu.

Di luar itu, porsi untuk 10,000 jam menjadi edukator di bidang laktasi kualokasikan sekitar 1 jam/hari. Sehingga dalam waktu 3 tahun itu, kurang lebih 1,000 hari, aku sudah mencapai 1,000 jam pengalaman.

Targetku 4 tahun berikutnya aku bisa totalitas menuntaskan 8,850 jam yang dibutuhkan untuk mengembangkan diri dalam menuju peran hidupku mengedukasi masyarakat kembali ke ASI. Sehingga pada periode kedua ini, aku mengalokasikan waktu 6 jam setiap harinya.

Dan inilah targetan milestone periode pertama yang kutetapkan untuk mencapai Ibu Profesional :

KM 0 – KM 1 (tahun 1) : Menguasai dan mengamalkan Ilmu seputar Tazkiatun Nafs, Parenting Nabawiyah, dan Bunda Sayang

KM 1 – KM 2 (tahun 2) : Menguasai Ilmu seputar Bunda Cekatan dan Bunda Produktif

KM 2 – KM 3 (tahun 3) : Menguasai Ilmu seputar Bunda Sholeha

 

Milestone periode kedua untuk mencapai edukator laktasi :

KM 3 – KM 4 (tahun 4) : Menguasai beberapa teknik konseling dan terapi

KM 4 –  KM 5 (tahun 5) : Menguasai teknik grafis dan multimedia untuk membuat konten edukasi

KM 5 – KM 6 (tahun 6) : Menguasai teknik memfasilitasi dan publik speaking

KM 6 – KM 7 (tahun 7) : Menguasai ilmu seputar intervensi sosial dan pengelolaan komunitas

 

Pengejewantahan konkrit

Perencanaan dan mimpi ini tidak akan terwujud bila tidak sampai diturunkan sampai ke aktifitas harian. Dan saya kembali merevisi jadwal harian saya sehingga menu-menu belajar yang sudah ditargetkan tadi mendapat waktu yang sesuai dengan rancangan.

Semoga Allah meridhoi apa-apa yang saya niatkan ini. Semoga tulisan ini menjadi langkah awal saya menjadi The new Me, saya yang lebih terstruktur, saya yang senantiasa bergerak menuju titik yang saya tuju.

 

 

Advertisements

Filed under: Bunda, , , , , , , , , , ,

Peran Peradaban

Setelah beberapa kali ikutan kelasnya Pak Harry Sentosa, lalu Talent Mappingnya Abah Rama, aku yakin, setiap diri ini sudah punya “peran peradaban”nya masing-masing. Terkait dengan potensi karakter dan bakat yang khas darinya, yang Allah ciptakan untuk menunjang peran tersebut.

Lalu aku berfikir, sebenernya apa peran peradabanku?

Sesuatu yang membuatku berarti, bermakna, dan bermanfaat bukan hanya untuk diriku sendiri, tapi untuk orang lain.

Kalau melihat latar belakang pendidikan formalku, Teknik Elektro, lalu perjalananku sampai akhirnya jadi ditakdirkan mencicipi profesi sebagai peneliti bidang Komputer. Tentunya gak ada yang salah dengan itu. Meskipun akhirnya dengan berani dan mantap aku tinggalkan jabatan itu karena memang hati ini gak bisa dibohongin, aku tidak suka elektro, aku tidak suka programming. Tapi pasti ada sesuatu yang membuat Allah menuliskan aku harus mampir dulu disitu.

Perjalananku menemukan teman sejati, ayahnya anak-anak. Lalu perkenalanku dengan dunia parenting dan pendidikan, sampai akhirnya mendalami dunia laktasi, ini adalah jalan berliku (banget) untuk sampai ke track-ku, bila memang benar ini jalannya.

Dan sampai saat ini, aku pun masih belum 100% mantap. DUNIA LAKTASI, inikah jalan dakwahku?

Kalau kompetensi ini diukur dengan diakuinya diriku sebagai konsultan internasional IBCLC, tentu aku tidak akan sampai. Apalah aku, dengan background teknik yang jauh dari dunia kesehatan. Persyaratan dasarnya saja tidak terpenuhi.

Kalau kebermanfaatan ini diukur dengan jumlah ibu yang terbantu. Waduuh.. ini lebih jauh lagi. Dengan kendalaku yang tidak bisa terlalu mobile, karena terikat jam kerja dan anak-anak yang masih kecil, jam terbang konselingku masih sangat minim untuk dikatakan sudah memberi manfaat.

Kalau pengakuan ini diukur dari jumlah karya yang dibuat, buku yang diterbitkan, artikel yang dibuat.. heuh.. maluu.. aku belum berbuat apa-apa. Banyak sekali diluaran sana yang dengan produktif menulis, mengedukASI, dan menginspirASI banyak orang. Sedangkan aku, karya yang kutulis baru sebatas saran untuk ibu yang konsultasi via Whatsapp atau FB messengger. Artikel yang ada barulah artikel pendahuluan untuk kelas online di whatsapp.

Tapi aku menikmatinya.

Aku antusias untuk belajar lebih dalam lagi tentang dunia laktasi. Menemukan fakta-fakta luar biasa tentang kehebatan ASI dan menyusui yang terus berkembang. Mengetahui bahwa proses natural ibu yang menyusui anaknya ini bukan hanya proses transfer nutrisi. Tapi juga membentuk ketahanan tubuh, optimalisasi kecerdasan kognitif dan emosional. Tak heran bila menyusui adalah anjuran yang tertulis dalam Al Qur’an karena memang ternyata sangat amazing. Menyusui adalah proses alami yang menjadi dasar kuat bagi seorang insan manusia untuk bisa tumbuh paripurna dalam seluruh aspeknya. Sayangnya, banyak dari kita belum mengetahuinya. Atau tahu, tapi pada prakteknya menemukan tantangan dan akhirnya gagal.

Yup. Dunia laktasi.

Inilah (salah satu) jurusan yang ingin kutekuni dalam universitas kehidupan ini.
Aku ingin membantu sesama ibu, mengedukASI mereka tentang pentingnya memberikan ASI pada buah hatinya.  MengedukASI bahwa tiap tetes ASInya adalah miracle yang harus diperjuangkan. Karena ASI adalah hak bayi untuk tumbuh optimal dan menyempurnakan susuan adalah perintah Allah. Karena bayi-bayi muslim yang sehat, pintar dan cerdas secara emosi adalah calon pemimpin kita nantinya.

Maka memang aku harus terus belajar, meningkatkan kapasitas diri, mengupdate selalu dengan penelitian dan ilmu terbaru, bertemu sebanyak ibu sebisa yang aku lakukan, memperbanyak jam terbang konseling dan menemui banyak kasus. Dan aku harus mulai mengikat ilmu ini dengan menulis. Ya, menulis menstrukturkan pemikiran, mengendapkan ilmu dan me-recall pengetahuan, yang jelas dengan menulis, aku bisa menyebarkan informASI dan mengedukASI lebih banyak orang. Inilah jejakku yang mungkin akan tetap ada bahkan ketika aku tidak ada.

Tak perlulah saat ini aku menghitung-hitung apa yang belum aku lakukan. Tapi mulai menghargai apa hal kecil yang sudah aku mulai. Menghargai setiap effortku. Bukan, bukan untuk ujub, tapi untuk meyakinkan diri, aku sudah berjalan sejauh ini dan aku berada di jalur yang tepat. Dan suatu saat, bila aku memang layak, kompetensiku mumpuni, aku akan lantang berkata “Ya, dunia laktasi ini memang jalanku. Dan aku terlahir untuk membantu ibu memberikan ASI pada anak-anaknya”.konseling-di-bansel

Tulisan ini dibuat untuk memenuhi tugas Matrikulasi Institut Ibu Profesional – NHW#1

Filed under: Bunda, , , , , , ,

Bunda Gaza

Lilypie Breastfeeding tickers

Archives

my read shelf:
Lintang Dwi's book recommendations, favorite quotes, book clubs, book trivia, book lists (read shelf)

Aku dan dia

Kidzsmile Foundation

AIMI Jabar

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 9 other followers

Yang silaturahim

  • 75,291 hits