Keluarga Alamanda

Icon

. cerita bunda . cerita keluarga mahayattika .

Ikutan Menyusui Serentak yuuu…

Halo para moms,dads juga calon moms&dads di Bandung & sekitarnya.. .

Sebagian anggota milis AsiForBaby (AFB) Bandung dengan dukungan dari AIMI Pusat dan pemerintah daerah tingkat I Jawa Barat bersepakat untuk membentuk AIMI Cabang Jawa Barat. Tujuan dari pendirian AIMI Cabang Jawa Barat ini adalah untuk lebih menggiatkan kampanye dan pendidikan tentang pentingnya ASI di Kota Bandung dan kota-kota lainnya di Jawa Barat, sehingga lebih banyak lagi ibu-ibu di wilayah Jawa Barat yang dapat memberikan ASI serta mendapatkan dukungan yang dibutuhkan.

Read the rest of this entry »

Advertisements

Filed under: Uncategorized, , , , , ,

Mommy I Love U

Mommy I love your milk so sweet and yummy,
It’s very best stuff for my little tummy.
Mommy when your patience is running low
at best, sit down, take a few deep breaths and
bring me to your breast.
Mommy hold me close to your soft warm chest
Because being in your arms is where
I like being best.
Mommy do not listen to those who say
I am spoiled.
It’s just that you’re my favorite person in the
whole wide world.
Mommy when their negative comments put you to the test.
Don’t worry, trust your self
Because mommy you know me best.
Mommy ignore them when they ask,
“Isn’t it time to wean?”
Because when to stop is up to only you and me.
Mommy continue rocking me, sing another song.
I am still a baby, but not for very long.

[dari sebuah milis..]

Kalo baca tulisan-tulisan seperti ini, juga kisah-kisah penyapihan, pasti membuat mataku berkaca-kaca ;’)

Kayaknya belum tega “pisah” sama Gaza. (menyapih.red)

Kehilangan momen-momen “intim” saat menyusuinya..

Bahkan aku pun kadang “gak rela” ketika saat ini Gaza berkurang frekuensi menyusuinya lantaran sudah mulai makan

Selalu saja membuatku tersenyum kalau ingat bagaimana tidak sabarnya dia kalau lagi haus, sampe narik-narik baju, menggerak-gerakkan kakinya kesana kemari, dan bibirnya monyong-monyong mencari-cari.. 😀

Dan begitu dapat, hap! tangannya tak berhenti bergerak. Memainkan bajuku. Matanya yang selalu langsung jadi ngantuk…

Tapi begitu ada suara ayahnya…oops, langsung menengok, sekadar “absen”. Setelah dia “menyakinkan diri” ada ayah di sekitarnya, dia pun kembali meneruskan hajatnya.. 😀 tinggal aku yang seringkali kesakitan karena kalo nengok langsung nengok aja gak pake dilepas 😦

-baru benar-benar merasakan nikmatnya menyusui, setelah 5 bulan melalui perjuangan yang “MasyaAllah…”

Filed under: ASI, Bunda, Gaza,

Mitos Seputar ASI

Banyak ilmu yang masih “abu-abu” seputar ASI. Sehingga mempengaruh ibu akan kebaikan ASI. Bahkan memilih untuk tidak memberikan ASI pada bayinya. Apakah memang demikian faktanya ataukah sekadar mitos belaka??

* Jika ibu mengalami kesundulan (hamil lagi dalam jarak dekat), apakah pemberian ASI harus dihentikan?

Fakta: Hal ini masih kontroversial. Ada dokter kandungan yang melarang ibu hamil menyusui karena khawatir terjadi kontraksi rahim yang bisa menyebabkan keguguran. Namun ada juga yang tidak melarang. Belum ada penelitian yang betul-betul membuktikan hal tersebut. Juga tak ada anjuran yang pasti dalam keadaan bagaimana seorang ibu hamil harus ekstra hati-hati. Kalau memang merasa nyeri perut dan memiliki riwayat keguguran, bermasalah dengan kandungan, atau malah pernah mengalami perdarahan, sebaiknya hentikan. Akan tetapi kalau kehamilannya sehat-sehat saja alias tidak ada masalah, pemberian ASI bisa diteruskan.

* Sebelum menyusui, ASI yang keluar pertama harus dibuang dulu?

Fakta: Tidak perlu. ASI pertama yang keluar adalah kolostrum yang mengandung banyak zat antibodi untuk kekebalan tubuh. Anggapan ASI yang keluar pertama adalah basi juga tidak benar karena ASI selalu terlindungi dalam payudara ibu. Dengan tujuan membunuh kuman, tiap tetes ASI yang keluar sebelum menyusui boleh saja dioleskan di seputar puting susu ibu.

* Benarkah ASI bisa anyep/dingin/basi?

Fakta: ASI selalu dalam keadaan terlindungi dalam payudara, sehingga tak mungkin basi atau dingin karena selalu sesuai dengan suhu tubuh, kecuali kalau ASI sudah dikeluarkan. Dalam suhu ruang ASI bisa bertahan sekitar 6 jam, dan 2 minggu hari bila ditaruh di kulkas serta 3 bulan di suhu freezer, asalkan tidak sering dibuka-tutup.

* ASI bisa berubah rasa dan warna?

Fakta: Rasa ASI memang bisa berubah dan lebih variatif sesuai dengan makanan yang dikonsumsi ibu. Komposisinya pun tergantung usia anak. Warna ASI juga bisa berubah sesuai kebutuhan zat gizi yang diperlukan bayi. Inilah urutannya:

  • Kolostrum ASI yang pertama keluar adalah kolostrum yang warnanya agak kekuning-kuningan. Kolostrum banyak mengandung zat antibodi yang bermanfaat bagi tubuh.
  • Mature milk Setelah beberapa hari, tubuh ibu memproduksi susu matang (mature milk) dengan komposisi:
  1. Foremilk Selama 5 menit pertama ASI yang keluar berwarna kebiru-biruan dan tampak encer, dinamakan foremilk. Di dalamnya terkandung protein, laktosa dan nutrisi lainnya.
  2. Hindmilk Selanjutnya, ASI yang diproduksi tubuh disebut hindmilk. Warnanya putih dan mengandung banyak lemak.

* Benarkah payudara kanan mengandung makanan dan yang kiri minuman?

Fakta: Biasanya payudara mana yang disusukan pada bayi tergantung pada kenyamanan posisi ibu. ASI yang dikeluarkan, baik dari payudara kanan maupun kiri, sama-sama mengandung foremilk dan hindmilk atau dengan kata lain memiliki komposisi yang sama. Puaskan bayi pada satu payudara selama kira-kira 15 menit. Bila masih belum puas, barulah pindah ke payudara lainnya. Biasanya ASI yang keluar adalah bagian yang encernya dulu (foremilk), kemudian baru hindmilk.

* Makanan pedas dan bersantan yang dikonsumsi ibu bisa membuat bayi mencret?

Fakta: Tak pernah terjadi bayi mencret hanya gara-gara makanan yang dikonsumsi ibunya. Meski demikian, sebaiknya jangan mengonsumsi makanan yang terlalu merangsang karena ada juga bayi yang menjadi kembung karenanya.

* Ibu menyusui sebaiknya tidak minum es karena membuat bayinya pilek?

Read the rest of this entry »

Filed under: Reviews, , , ,

Hukum Shaum bagi Ibu Hamil dan Menyusui

Alhamdulillah.. Akhirnya Ramadhan datang juga. Udah rindu dengan suasana-suasana khas Ramadhan, bangun pagi dan makan saur bareng keluarga, acara-acara buka puasa sekaligus reunian bareng temen-temen, ramenya anak-anak berlarian saat tarawih, stasiun TV yang berlomba-lomba bikin acara islami,  ramenya masjid di 10 hari terakhir.. indahnya.. 🙂

Dan Ramadhanku kali ini, tentunya akan sangat berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya (yang 7 tahun belakangan kuhabiskan di “perantauan”), karena ini Ramadhan pertamaku setelah nikah 🙂  berarti sekarang ada seorang suami yang harus disiapin makan saur dan buka..

Dan ini juga menjadi Ramadhan pertamaku dengan kondisi berbadan-dua ^.^ ..Insya’Allah, kali ini aku juga berkesempatan untuk bisa puasa dan ibadah tanpa bolong! Tapi akhirnya, malah jadi ragu sendiri.. karena beberapa teman kantor men-judge ku sebagai ibu yang “jahat”, “egois” karena masih puasa di usia kandungan 8 bulan, saat janin butuh banyak nutrisi untuk persiapan kelahirannya ke bumi.. 😥 jadi merasa bersalah.. Sebenernya gimana hukumnya puasa buat ibu hamil ya?

Sesungguhnya Allah ‘azza wa jalla menghilangkan pada musafir separuh shalat. Allah pun menghilangkan puasa pada musafir, wanita hamil dan wanita menyusui.” (HR. Ahmad. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa hadits ini hasan)

Jadi, sudah jelas, Bumil dan Busui boleh berbuka puasa. Tapi, apakah kemudian dia wajib mengqodho’ atau bisa fidyah saja? atau harus kedua-duanya? Berikut beberapa pendapat berkaitan tentang itu.

Tulisan ini di sarikan dari sini.

Pendapat pertama: wajib mengqodho’ puasa dan memberi makan kepada orang miskin bagi setiap hari yang ditinggalkan. Inilah pendapat Imam Syafi’i, Imam Malik dan Imam Ahmad. Namun menurut Syafi’iyah dan Hanabilah, jika wanita hamil dan menyusui takut sesuatu membahayakan dirinya (bukan anaknya), maka wajib baginya mengqodho’ puasa saja karena keduanya disamakan seperti orang sakit.

Pendapat kedua: cukup mengqodho’ saja. Inilah pendapat Al Auza’i, Ats Tsauriy, Abu Hanifah dan murid-muridnya, Abu Tsaur dan Abu ‘Ubaid.

Pendapat ketiga: cukup memberi makan kepada orang miskin tanpa mengqodho’. Inilah pendapat Ibnu Abbas, Ibnu ‘Umar, Ishaq, dan Syaikh Al Albani.

Pendapat keempat: mengqodho’ bagi yang hamil sedangkan bagi wanita menyusui adalah dengan mengqodho’ dan memberi makan kepada orang miskin bagi setiap hari yang ditinggalkan. Inilah pendapat Imam Malik dan ulama Syafi’iyah.

Pendapat kelima: tidak mengqodho’ dan tidak pula memberi makan kepada orang miskin. Inilah pendapat Ibnu Hazm.

Dari Ibnu ‘Abbas, beliau berkata,

“Keringanan dalam hal ini adalah bagi orang yang tua renta dan wanita tua renta dan mereka mampu berpuasa. Mereka berdua berbuka jika mereka mau dan memberi makan kepada orang miskin setiap hari yang ditinggalkan, pada saat ini tidak ada qodho’ bagi mereka. Kemudian hal ini dihapus dengan ayat (yang artinya): “Karena itu, barang siapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu”. Namun hukum fidyah ini masih tetap ada bagi orang yang tua renta dan wanita tua renta jika mereka tidak mampu berpuasa. Kemudian bagi wanita hamil dan menyusui jika khawatir mendapat bahaya, maka dia boleh berbuka (tidak berpuasa) dan memberi makan orang miskin bagi setiap hari yang ditinggalkan.”  (Dikeluarkan oleh Ibnul Jarud dalam Al Muntaqho dan Al Baihaqi. Lihat Irwa’ul Gholil 4/18)

Dalam perkataan lainnya, Ibnu ‘Abbas menyamakan wanita hamil dan menyusui dengan tua renta yaitu sama dalam membayar fidyah. Dari Ibnu ‘Abbas, beliau dulu pernah menyuruh wanita hamil untuk tidak berpuasa di bulan Ramadhan. Beliau mengatakan

“Engkau seperti orang tua yang tidak mampu berpuasa, maka berbukalah dan berilah makan kepada orang miskin setengah sho’ gandum untuk setiap hari yang ditinggalkan.” (Diriwayatkan oleh ‘Abdur Razaq dengan sanad yang shahih)

Begitu pula hal yang sama dilakukan oleh Ibnu ‘Umar. Dari Nafi’, dia berkata,

“Putri Ibnu Umar yang menikah dengan orang Quraisy sedang hamil. Ketika berpuasa di bulan Ramadhan, dia merasa  kehausan. Kemudian Ibnu ‘Umar memerintahkan putrinya tersebut untuk berbuka dan memberi makan orang miskin bagi setiap hari yang ditinggalkan.” (Lihat Irwa’ul Gholil, 4/20. Sanadnya shahih)

Tidak diketahui ada sahabat lain yang menyelisihi pendapat Ibnu ‘Abbas dan Ibnu ‘Umar ini. Juga dapat kita katakan bahwa hadits Ibnu ‘Abbas yang membicarakan surat Al Baqarah ayat 185 dihukumi marfu’ (sebagai sabda Nabi shallallallahu ‘alaihi wa sallam). Alasannya, karena ini adalah perkataan sahabat tentang tafsir yang berkaitan dengan sababun nuzul (sebab turunnya surat Al Baqarah ayat 185). Maka hadits ini dihukumi sebagai sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana sudah dikenal dalam ilmu mustholah.

Sedangkan menurut Yusuf Al Qardhawi, wanita hamil/menyusui boleh berbuka dan membayar fidyah saja (tidak perlu mengqodho’) jika wanita tersebut frekuensi hamilnya berdekatan, sehingga tidak memungkinkan baginya untuk mengqodho’. Ini sebagai bukti kasih sayang Allah kepada kami para bumil dan busui. Tetapi bagi wanita yang jarak kelahiran nya berjauhan (4-5 tahun misalnya), maka tetep wajib mengqodho’ puasanya di lain waktu
sesuai dengan hari yang ditinggalkan seperti dari madzhab imam malik dan syafii.

Hmm.. sepertinya pendapat Yusuf Al Qardhawi ini lebih jelas kondisinya, dan lebih “fair” menurutku.  Tapi aku tetep akan minta pendapat dr.Wid dan Bidan Juju dulu. Supaya lebih adil untuk ku dan untuk Gaza..

Wallahu a’lam..

Filed under: Reviews, , , , ,

Bunda Gaza

Lilypie Breastfeeding tickers

Archives

my read shelf:
Lintang Dwi's book recommendations, favorite quotes, book clubs, book trivia, book lists (read shelf)

Aku dan dia

Kidzsmile Foundation

AIMI Jabar

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 9 other followers

Yang silaturahim

  • 76,946 hits