Keluarga Alamanda

Icon

. cerita bunda . cerita keluarga mahayattika .

Book Review : Matahari Odi Bersinar Karena Maghfi

Sejak 2 tahun lalu aku mencari buku ini, rekomendasi teman kecilku. Dan akhirnya nemu kemarin di Bandung BookFair! Buku ini berisi pengalaman Bunda Neno Warisman ketika mendidik ketiga anaknya, beserta keajaiban-keajaiban yang dialaminya. Dan seperti yang kita tau, Bunda Neno adalah seorang aktifis, seniman, dan Ibu yang amat peduli dengan nilai-nilai pendidikan. Bunda Neno yang memberikan kita teladan bagaimana menempatkan dengan benar peran Ibu sebagai pendidik utama dan pertama dari seorang anak, dari sebuah generasi.

Satu kisah dalam buku ini (yang kupilih random waktu pertama kali baca) adalah Memecahkan Batu Karang. Menceritakan tentang kekhawatiran Bunda Neno yang amat sangat terhadap masa depan putra sulungnya, Ghiffar. Dipicu dari ketidakpedulian si sulung, Giffar terhadap ibunya yang sedang sakit terkapar lemas tak berdaya (asa lebay…)

Hal pertama yang membuatku kagum adalah, kesensitifan Bunda Neno, seorang ibu yang mampu membaca situasi, dan melihat potensi implikasinya di masa yang akan datang, jauuh ke depan. Walau “hanya” dipicu oleh perilaku yang memang sudah lumrah sekali dilakukan oleh anak usia 8 tahun. Ketika Ghiffar malah asyik main basket, padahal ibunya sakit, Bunda neno khawatir dan cemas, di masa yang akan datang Ghiffar akan menjadi laki-laki yang tidak peduli dengan keadaan sekitar. Padahal Ghiffar adalah calon pemimpin, calon suami dan calon ayah. Lalu apa yang akan terjadi jika nanti Ghiffar tetap seperti ini?? Akan jadi laki-laki seperti apa, yang tidak peduli dengan orang-orang yang lemah di sekitarnya?

Akhirnya Bunda Neno bertekad untuk meluruskan sikap Ghiffar. Dan bagi Bunda Neno, menghadapi anaknya sendiri sama sekali bukanlah suatu hal yang sepele! Inilah kekagumanku yang kedua terhadapnya. Ketika beliau melihat ini sebagai medan perang yang penuh ranjau. Maka beliau bertindak sangaat hati-hati, layaknya seorang prajurit yang hendak mengalahkan musuh. Beliau menyiapkan betul mental, setelah malam sebelumnya membekali diri dengan tahajjud dan munajat, mengambil moment yang tepat, memilih kata-kata yang mudah dicerna dan mengena, menggunakan body language dan sentuhan fisik yang pas, sambil terus menyertakan Allah dalam hatinya, memohon, agar setiap kata yang keluar dari lisannya mampu mengena di hati anaknya..

Subhanallah..sebegitunya ya..

Dan membaca pengalaman Bunda Neno tersebut membuatku sesunggrukan, sampai-sampai Ibu kostku datang ke kamar dan memastikan aku baik-baik saja. Kenapa ya? Ya dari dulu memang aku paling sensitif soal kejadian-kejadian seputar hubungan keluarga, cinta ortu kepada anaknya, pengorbanan ayah-ibu, dll. Sedikit saja menyentuh, lumer deh..

Bisakah nanti aku menjadi Ibu yang sedemikian sensitif atas setiap pola laku anak-anakku, yang bisa menanamkan kecintaan mereka pada Allah dengan porsi yang tepat, membimbing mereka hingga akhirnya mereka menjadi pejuang Allah yang siap mengorbankan dirinya untuk Islam, dan mempertanggungjawabkan amanah itu kelak dihadapan sang Khaliq??

Filed under: Parenthink, Reviews, , , , , ,

When Your Children Are Sick

jepreth174.jpgYesterday, I visited my 9-years-old cousin, Arrasy, which was opnamed because of dengue (demam berdarah). What a pity to show a little boy, with a pale face, weak body, just sleep on his bed in a strange room away from his home. And his smile suddenly rise when he saw my little brother, Guruh came in..His mother said that Arrasy couldn’t sleep since noon to wait Guruh come. And we just arrived at late evening.. Guruh gave Arrasy his little presents, a book of “Magician’s Tricks” and some packs of biscuits.. It’s so touching!

[Arrasy, with the blue T-shirt, next to Guruh]

I learn view things from this visit.. Some lesson when our child is sick..

  • This is our chance to introduce our child, that “healthy” is Allah’s gift. A priceless grace that often miss from our thankfull to HIM. Show them to ask Allah for their recovery, so that they can play freely as before..”Allahumma rabbannas adzhibil ba’sa asyfi, antasy syaafii, laa syifaa’a illa syifaa’uka, syifaa’an laa yughaadiru saqaman” (Ya Allah, The God of men, keep us away from difficulties and cure us (because) You are the Cureness, and there’s no other cure but You, the cure which doesn’t left any harm)
  • It is a right time to introduce them with their own body. Eg : how does the dengue come? what part of their body which attacked by the disease? How come infuss works thru their body? what is trombosit? why it is important to keep it up 150.000 in amount? etc..
  • Let them know, that people who visit them want to make them happy by cheers them, take some fruits and toys, thus they not longer to feel upset with their illness. So they have to be thankfull, coz they are being loved. It also relevant with our Prophet’s Sunnah, to give our brother’s right when they ill : look them out.
  • Ask them to keep doing Salat, with their limitation. By stand (if they can), sit, or even just with a sign. Here, they can learn that Salat is very important to do, even in a limit condition. Thus, they shouldn’t leave their salat in vacant time.
  • If we have another children at home, it is also important to make them understand that at that time, we need to give more attention to the sick-child, without reducing our careness and love to them. Ask them to make a good cooporation with us. Eg, more responsibility in doing homemaid works, fullfill our needs in hospital, etc.

Treasure every moment for them to learn more about this world and know more about their Creator..

Filed under: Parenthink, ,

Bunda Gaza

Lilypie Breastfeeding tickers

Archives

my read shelf:
Lintang Dwi's book recommendations, favorite quotes, book clubs, book trivia, book lists (read shelf)

Aku dan dia

Kidzsmile Foundation

AIMI Jabar

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 9 other followers

Yang silaturahim

  • 72,203 hits