Keluarga Alamanda

Icon

. cerita bunda . cerita keluarga mahayattika .

Hati-hati Bicara Saat Hamil!

ilustrasi dari achmatim.net

“Aku sedih. Aku merasa kesepian ketika itu, tidak ada yang mengajakku bicara. Ayahku tinggal di luar kota ketika aku berusia 8 bulan dalam kandungan ibuku…”

Percaya atau tidak, itulah yang dikatakan Bpk. X saat sedang menjalani Hynoterapi dengan metode regresi. Metode hypnosis ini biasanya dipakai dalam terapi untuk menggali informasi dari kejadian-kejadian di masa lampau yang mungkin menjadi sebab dari perilaku kita saat ini. Read the rest of this entry »

Filed under: Parenthink, , , , ,

Over the Due Time

Pekan-40 + 4 Hari

Kelahiran Gaza yang awalnya diprediksi Bidan akan lebih cepat, ternyata sampai H+4 dari HPLnya belum ada tanda-tanda mo keluar. Setelah kontrol mingguan di Bidan Juju, beliau kaget juga dan nyaranin untuk USG lagi melihat kondisi air ketubannya.

HPL+5

Hari ini, Jum’at 16 Oktober 2009, supaya Gaza cepet keluar, aku ngajakin Aa jalan-jalan lebih giat. Kali ini, “nyari kupat sayur” ke depan komplek. Lumayan, bolak-balik 1 KM-an, bikin kupat sayur yang tadi terbakar habis jadi energi, dan laper lagi :D.

Sorenya, kami cek lagi ke Dr. Garini di RS. Hermina. Melihat kondisi air ketuban yang indeksnya sudah menurun jadi 8,8 (normalnya 10), dan sudah ada tanda-tanda pengapuran, Dr. Garini menyarankan untuk segera induksi, dengan syarat CTG (monitor jantung) Gaza baik. Awalnya ragu juga untuk induksi yang kabarnya 2x lipet sakitnya dari mules biasa. Pengennya nunggu mules alami aja. Tapi mengingat kondisi air ketuban yang akan semakin buruk dari waktu ke waktu, yang artinya suplai oksigen dan nutrisi untuk Gaza tidak sesempurna sebelumnya, aku pun menyetujui untuk di-induksi.

Observasi CTG

observasiPk. 19.00-an mulai CTG pertama. Setelah dikonsultasikan lagi di Dr. Garini, hasilnya ga terlalu bagus. Artinya, ada kemungkinan harus operasi. Whatt??! Operasi?? dengernya aja aku ngeri.. Cukup deh kata-kata “operasi”. Jujur aja, aku ga siap untuk operasi. Apalagi, aku ke RS niat awalnya kan cuma buat USG, bukan buat melahirkan. Operasi pula! Masih berharap bisa normal. Pliss…

Alhamdulillahnya Dr. G ga langsung vonis harus operasi, masih mau observasi ulang. Ya, mungkin kondisiku saat di CTG ga terlalu bagus. Akhirnya, setelah makan malam (masih di kamar tindakan/observasi) dan di-oksigen selama 2 jam, aku kembali di CTG. Hasilnya lumayan lebih baik. Gaza cukup mampu untuk di induksi. Aku langsung menginap di RS, ditemani Aa, juga Mama Yani dan Papah yang juga sudah datang. Mama Ani pulang untuk istirahat.

Induksi kateter

Pk. 09.30 mulai dilakukan induksi kateter, atau induksi balon. Ya.. mudah-mudahan kalo dikasih balon, Gaza mau keluar :p Sebuah selang panjang diselipkan ke bawah kepala Gaza, dan diisi air. Ini untuk “memaksa” terjadinya pembukaan. Rasanya? jangan ditanya.. Luar Binasa!! Masya Allah.. dan sejak itulah, aku mulai merasakan yang namanya MULES tiap 3 menit sekali! Allahu Akbar.. Aku coba untuk berjalan-jalan seperti tadi pagi, untuk membantu percepat pembukaan, tapi baru melangkah sedikit, mules terasa lagi.. ga sanggup! akhirnya aku pasrah aja di tempat tidur..

Pk. 14.00-an suster memeriksa dalam.. alhamdulillah.. sudah ada bukaan, walau baru bukaan 1.

Pk. 16.00 kembali cek dalam, dan alhamdulillah, bukaan 3-4. Aku langsung dibawa ke kamar tindakan.

Induksi Infus

Setelah melepaskan balon, suster menggantinya dengan infus. Ini untuk merangsang percepatan pembukaan. Dan rasanya lebih hebat dari sebelumnya.. kayaknya ga berdaya banget. Ga bisa ngapa-ngapain, karena menahan rasa mules yang datang dan pergi begitu cepat! hanya menyisakan 2 menit bagiku untuk bisa bernafas rilex, sebelum mules itu datang lagi. Sepanjang proses induksi, aku biarkan lantunan al-ma’tsurat berputar berulang-ulang dari HPku. Berharap bisa mengalihkan rasa sakit ketika aku mengikuti hafalannya..

Alhamdulillah, ada Aa, Mama Ani dan Mama Yani yang selalu nemenin aku, gosokkin punggungku, membuatku sedikit lebih rilex, nyaman, dan kuat untuk menghadapi ini.

Bukaan 4, 5 berjalan lambat. Bahkan untuk masuk bukaan 6, terasa begitu lamaaa. Dan kata suster yang memeriksaku, kepala Gaza tidak juga turun mendekat ke jalan lahir.. Ya Allah..

Pk. 20.00-an Mang Uus beserta pasukan dateng jengukin. Tante Ria yang udah pengalaman 3x induksi ngasih tips berharga. Katanya, kalo mules, jangan ditahan. Tapi “diikutin”, supaya kepala bayinya bisa turun. Kuikuti lah sarannya, dan emang sih, lebih sakiiit.. tapi kalo mbayangin, saat sakit itu, kepala Gaza turun sedikit-sedikit, rasa sakitnya jadi berkurang.

Kira-kira satu setengah jam kemudian, bukaan ku dah hampir lengkap. Rasa mules semakin hebat! Suster meriksa bukaan, sudah bukaan 9 dan kepalanya sudah mulai turun. Alhamdulillah.. Aku merasa ada air yang tumpah di bawah. Ketuban pecah (atau dipecahkan??). Suster segera menghubungi dr. Garini yang saat itu masih di rumah.. Well it’s the time.. Semoga dokter Garini ga terlambat..

Ntah jam berapa, aku merasa ga bisa lagi nahan untuk ga ngeden. Ngeden dengan sendirinya. Dan kayaknya, aku ga sengaja BAB deh.. maap ya suster 🙂 Berkali-kali aku coba nahan ‘edenan’nya. Kayaknya bukaan udah lengkap deh! ini mah nungguin dokternya.. “Dokternya mana sih??”.

Partus

Setelah dr. G datang, proses langsung dimulai. Mama-mama diminta tunggu di luar, hanya 1 orang yang boleh ikut di dalam. Aa yang niyat awalnya mo mendokumentasikan prosesnya batal karena harus bantuin megang kepalaku. Nyesel juga ga ikutan senam hamil. Jadi ga tau gimana ngeden yang bener.

Trial ngeden pertamaku : kata suster, tarik nafas yang kuat

Trial ngeden keduaku : kata suster, jangan ke mulut!

Trial ngeden ketigaku : kata suster, jangan ke leher!

Trial ngeden keempatku : kata suster, jangan keliatan gigi!

Trial ngeden kelimaku : kata suster nafasnya jangan dibuang..

waaah.. aku sudah kehabisan tenaga. Narik nafas panjang susah banget. Sementara itu, pikiran-pikiran mulai berkelibat, mana Gaza? kenapa dia ga mau keluar? harus sekuat apa lagi??

Akhirnya.. dr. Garini mengambil keputusan untuk membantuku dengan vakum..

Sekali ngeden.. dua kali.. keputus, sambung lagi.. dan… Gaza keluar! :’)

Aku dengar tangisnya.. legaaa…

Kemudian aku melihat ari-ari Gaza dilahirkan. Sebuah gumpalan merah sebesar lambung dikeluarkan. Perutku terasa ringan sekali. Sementara itu, dr. G tetap bekerja menjahit.. eh meng-obras bekas jalan lahirnya. Saking banyaknya sobekan 🙂

Gaza terlihat kebiruan.. Setelah suster membersihkan lubang hidung dan mulutnya, mereka menaruhnya di dadaku. Inisiasi Menyusu Dini, Skin-to-skin contact. Ayahnya segera membacakan adzan dan iqamat di telinganya. Mengharukan.. :’)

Kemudian Gaza di”kenalkan” dengan supply makanannya. Sayang, kami ga bisa IMD terlalu lama seperti yang kuinginkan, karena Gaza harus segera diobservasi pasca vakum.

Alhamdulillah ya Allah.. kau berikan keajaiban padaku.. pada Aa..

Seorang anak laki-laki yang insyaAllah menjadi Qurata a’yun bagi kami 🙂

Filed under: Journal,

Positive Thinking

Gimana perasaannya mo melahirkan?

Gimana ya? Ga gimana-gimana.. biasa aja kok! 🙂 Emang sih.. di awal, aku merasa takut, khawatir menjelang hari persalinan.. Tapi alhamdulillah, sudah bisa berpositif thinking untuk meredam semua kekhawatiran tersebut, termasuk antisipasi menghadapi segala hal yang terburuk. Suka self-discussion dalam hati untuk membangun pikiran yang positif, yang emang diperlukan untuk membuat kondisi tetap tenang, aman terkendali 🙂

Sebenarnya, apa sih yang membuatku takut? Takut sakit? Kalo kata Bidan Juju,  “Melahirkan pasti sakit..dan memang harus sakit. Kalaupun ga sakit, akan dirangsang untuk jadi sakit”. Jadi aku emang harus siap untuk menghadapi rasa sakit itu. Dan melahirkan adalah proses alami, fitrah. Wanita fitrahnya punya rahim, bisa hamil, maka sudah disiapkan juga untuk bisa melahirkan! Sudah jutaan ibu di dunia ini yang selamat melahirkan bayinya, walau katanya, sakitnya antara hidup dan mati! Tapi nyatanya, ga pada kapok melahirkan sampai-sampai anaknya berderet 😀

Tapi sakitnya sakit banget lho!

Iya, pasti sakit banget. Walau belum kebayang seperti apa “sakit banget” itu.. Tapi ada satu hal yang menenangkanku, bahwa Allah akan menggugurkan dosa orang yang sakit jika dia ikhlas menjalaninya, walaupun itu hanya tertusuk duri! Nah, apalagi untuk seorang ibu yang melahirkan. Setiap rasa nyeri dalam proses persalinannya, akan dihapuskan dosa-dosanya yang lalu.. InsyaAllah..

Kalaupun Sang Ibu sakit hingga tak tertahankan, dan dia tak sanggup bertahanpun, Allah telah menjanjikan syurga bagi sang Ibu, dan mencatatkan ikhtiarnya sebagai jihad. Jadi, inilah salah satu jalan Jihadku.. Subhanallah.. Janji Allah itu benar-benar menenangkanku, dan membuatku lebih percaya diri untuk menghadapi persalinan.

Trus, gimana jika terjadi apa-apa pada Gaza? Gimana kalo ada anggota badannya yang ga sempurna, gimana kalo ada apa-apa dengan kesehatannya? gimana kalo ada komplikasi?

InsyaAllah Gaza sehat! Harus yakin, Allah sesuai persangkaan hambanya; Law of attraction; the secret; quantum ikhlas, dll. Pemeriksaan USG terakhir, semuanya normal, insyaAllah sehat.

Tapi… seandainya pun ada sesuatu yang kurang, maka itu adalah ketetapanNYa, yang merupakan ujian/tantangan bagi kami. Soal penyakit, pasti ada obatnya. Soal biaya, insyaAllah ada jalannya, rejekinya si anak. Dan anak sebenarnya adalah titipan DIA. Apapun yang Dia kehendaki terhadap anak kita, adalah kuasaNYA. Tinggal bagaimana kita ikhlas dan sabar menjalaninya, right?

Jadi kenapa harus takut?

InsyaAllah, aku akan berusaha sebaik mungkin. Untuk hasilnya, biar Allah yang tentukan. InsyaAllah aku ridho dengan segala ketetapanNYA..Ikhlas dengan segala kebaikan dan keburukannya..

Bismillah…

Filed under: Journal, ,

Belum lahiran juga?

Alhamdulillah.. masuk pekan ke 40 and everything is on the track!

Walaupun Bu Bidan Juju bilang ada kemungkinan lahirannya maju dari HPL (12 Oktober), ternyata hari yang ditunggu-tunggu belum juga dateng. Bikin H2C aja. Keluarga, temen-temen, udah pada nanyain : “Kapan lahirannya?” yaa, tandanya banyak yang sayang ma kami nih.. Tapi ayahnya jadi serba salah. Mo ninggalin, ngurusin gempa Padang, kerjaan, kuliah jadi ga tenang. Mau standby 24 jam juga ga betah, mati gaya di Bilabong 🙂 Kalo udah gitu, bawaannya misuh-misuh aja, bolak-balik ga jelas. Palingan ngajakin jalan-jalan ke Botani Square, biar aku mau banyak-banyak jalan kaki sembari windows shopping (soalnya kalo keliling halaman, baru 2-3 puteran udah berasa banget ngos-ngosan :p )

Abis libur lebaran, langsung ambil hak cuti.. Seneng dan lega banget bisa “kabur” dari kantor. Dan dengan teganya ninggalin proyek penelitian yang ga maju-maju :p  Ya, berfikir “profesioanal” aja. Karena aku ga dapet hak honor penelitian, ya artinya ga ada kewajiban juga atas penelitian yang tadinya jadi tanggung jawabku. Harus “bodo amat”! biar sekarang fokusku adalah melahirkan Gaza dengan sehat, selamat, sentosa dan sejahtera! 😀

Gaza 40 minggu

Terakhir cek waktu Gaza 34w ke dr.Wid (tapi waktu itu diganti sama dokter Yanti), alhamdulillah semuanya normal. Kepala Gaza udah “on position”, beratnya 2,7 -2,8 kg, air ketubannya baik, panggul bundanya cukup, tensi seperti biasa 110/70. InsyaAllah bisa lahiran normal lah.

Kepala Gaza udah mantep banget di panggul kata Bu Juju, mangkanya tadinya diperkirakan lahir lebih cepet. Ternyata masih betah di rahim bunda ya Nak? 🙂 Gaza semakin nyambung kalo distimulus. Pas lagi diem, trus diajak ngobrol, tau-tau Gaza bergerak. I know that you can understand me 🙂 Gaza masih suka gerak-gerak (pegel dan sempit ya di dalem sini?) yang bikin nyeri perut bawahku, apalagi kalo sambil jalan, bawaannya jadi pengen pee terus.

Sejak pekan-37, semakin sering kontraksi. Mengencang. Tapi belum mules-mules. Sebenernya mulesnya tuh kayak gimana sih?? Jangan-jangan sebenernya udah mules, tapi ga nyadar? :p

Makan..makan..makaaaan…!

Cek mingguan di bidan Juju. Beratku udah nambah 3 kg  sejak 1 , 5 bulan dari USG terakhir, sekarang berat Gaza pasti udah lebih dari 3 kg. Ga usah gede-gede banget ya nak.. ntar susah keluarnya 😀 Tapi emang nafsu makan jadi nambah banget sebulan terakhir ini. Karena ga ada kerjaan di rumah selain nonton, tidur dan internetan. Kondisi di rumah juga mendukung, karena mama senantiasa menyediakan makanan-makanan bergizi yang siap santap tanpa aku harus repot nyari dan beli.. hehe, sedaaap..

Liat aja menu-list ku sebulan terakhir ini :

  • Sarapan : segelas klorofil, omega-3, susu bumil, sari kacang hijau.. ditambah “breakfast-appetizer” seperti roti, kue kering lebaran ato makanan sisa semalem.. baru deh ke “main-breakfast”nya : nasi goreng/bubur ayam.
  • Dhuha-break : Jam 10-11 biasanya udah laper lagiii.. nyari-nyari sasaran ke dapur. Masih ada sisa sarapan, sikaat! makan siang udah mateng, hajaar! ato nemu es buah/jus di kulkas, tebasss!! 😀
  • Lunch : ini baru makan siang beneran, dengan porsi 1,5 kali lebih banyak dari biasanya!
  • Ashar : Mulai gelisah lagi karena laper. Buka-bukain lemari dapur, memonopoli topless-topless kue kering, atau jus buah dan air kelapa yang segeer..
  • Makan malem : sama seperti makan siangnya, 1,5 porsi lebih banyak dari biasa 😀

Ditambah lagi aktifitas fisik yang minim, no wonder beratku nambah 1kg tiap pekannya.. ^.^

Filed under: Journal, ,

Hukum Shaum bagi Ibu Hamil dan Menyusui

Alhamdulillah.. Akhirnya Ramadhan datang juga. Udah rindu dengan suasana-suasana khas Ramadhan, bangun pagi dan makan saur bareng keluarga, acara-acara buka puasa sekaligus reunian bareng temen-temen, ramenya anak-anak berlarian saat tarawih, stasiun TV yang berlomba-lomba bikin acara islami,  ramenya masjid di 10 hari terakhir.. indahnya.. 🙂

Dan Ramadhanku kali ini, tentunya akan sangat berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya (yang 7 tahun belakangan kuhabiskan di “perantauan”), karena ini Ramadhan pertamaku setelah nikah 🙂  berarti sekarang ada seorang suami yang harus disiapin makan saur dan buka..

Dan ini juga menjadi Ramadhan pertamaku dengan kondisi berbadan-dua ^.^ ..Insya’Allah, kali ini aku juga berkesempatan untuk bisa puasa dan ibadah tanpa bolong! Tapi akhirnya, malah jadi ragu sendiri.. karena beberapa teman kantor men-judge ku sebagai ibu yang “jahat”, “egois” karena masih puasa di usia kandungan 8 bulan, saat janin butuh banyak nutrisi untuk persiapan kelahirannya ke bumi.. 😥 jadi merasa bersalah.. Sebenernya gimana hukumnya puasa buat ibu hamil ya?

Sesungguhnya Allah ‘azza wa jalla menghilangkan pada musafir separuh shalat. Allah pun menghilangkan puasa pada musafir, wanita hamil dan wanita menyusui.” (HR. Ahmad. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa hadits ini hasan)

Jadi, sudah jelas, Bumil dan Busui boleh berbuka puasa. Tapi, apakah kemudian dia wajib mengqodho’ atau bisa fidyah saja? atau harus kedua-duanya? Berikut beberapa pendapat berkaitan tentang itu.

Tulisan ini di sarikan dari sini.

Pendapat pertama: wajib mengqodho’ puasa dan memberi makan kepada orang miskin bagi setiap hari yang ditinggalkan. Inilah pendapat Imam Syafi’i, Imam Malik dan Imam Ahmad. Namun menurut Syafi’iyah dan Hanabilah, jika wanita hamil dan menyusui takut sesuatu membahayakan dirinya (bukan anaknya), maka wajib baginya mengqodho’ puasa saja karena keduanya disamakan seperti orang sakit.

Pendapat kedua: cukup mengqodho’ saja. Inilah pendapat Al Auza’i, Ats Tsauriy, Abu Hanifah dan murid-muridnya, Abu Tsaur dan Abu ‘Ubaid.

Pendapat ketiga: cukup memberi makan kepada orang miskin tanpa mengqodho’. Inilah pendapat Ibnu Abbas, Ibnu ‘Umar, Ishaq, dan Syaikh Al Albani.

Pendapat keempat: mengqodho’ bagi yang hamil sedangkan bagi wanita menyusui adalah dengan mengqodho’ dan memberi makan kepada orang miskin bagi setiap hari yang ditinggalkan. Inilah pendapat Imam Malik dan ulama Syafi’iyah.

Pendapat kelima: tidak mengqodho’ dan tidak pula memberi makan kepada orang miskin. Inilah pendapat Ibnu Hazm.

Dari Ibnu ‘Abbas, beliau berkata,

“Keringanan dalam hal ini adalah bagi orang yang tua renta dan wanita tua renta dan mereka mampu berpuasa. Mereka berdua berbuka jika mereka mau dan memberi makan kepada orang miskin setiap hari yang ditinggalkan, pada saat ini tidak ada qodho’ bagi mereka. Kemudian hal ini dihapus dengan ayat (yang artinya): “Karena itu, barang siapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu”. Namun hukum fidyah ini masih tetap ada bagi orang yang tua renta dan wanita tua renta jika mereka tidak mampu berpuasa. Kemudian bagi wanita hamil dan menyusui jika khawatir mendapat bahaya, maka dia boleh berbuka (tidak berpuasa) dan memberi makan orang miskin bagi setiap hari yang ditinggalkan.”  (Dikeluarkan oleh Ibnul Jarud dalam Al Muntaqho dan Al Baihaqi. Lihat Irwa’ul Gholil 4/18)

Dalam perkataan lainnya, Ibnu ‘Abbas menyamakan wanita hamil dan menyusui dengan tua renta yaitu sama dalam membayar fidyah. Dari Ibnu ‘Abbas, beliau dulu pernah menyuruh wanita hamil untuk tidak berpuasa di bulan Ramadhan. Beliau mengatakan

“Engkau seperti orang tua yang tidak mampu berpuasa, maka berbukalah dan berilah makan kepada orang miskin setengah sho’ gandum untuk setiap hari yang ditinggalkan.” (Diriwayatkan oleh ‘Abdur Razaq dengan sanad yang shahih)

Begitu pula hal yang sama dilakukan oleh Ibnu ‘Umar. Dari Nafi’, dia berkata,

“Putri Ibnu Umar yang menikah dengan orang Quraisy sedang hamil. Ketika berpuasa di bulan Ramadhan, dia merasa  kehausan. Kemudian Ibnu ‘Umar memerintahkan putrinya tersebut untuk berbuka dan memberi makan orang miskin bagi setiap hari yang ditinggalkan.” (Lihat Irwa’ul Gholil, 4/20. Sanadnya shahih)

Tidak diketahui ada sahabat lain yang menyelisihi pendapat Ibnu ‘Abbas dan Ibnu ‘Umar ini. Juga dapat kita katakan bahwa hadits Ibnu ‘Abbas yang membicarakan surat Al Baqarah ayat 185 dihukumi marfu’ (sebagai sabda Nabi shallallallahu ‘alaihi wa sallam). Alasannya, karena ini adalah perkataan sahabat tentang tafsir yang berkaitan dengan sababun nuzul (sebab turunnya surat Al Baqarah ayat 185). Maka hadits ini dihukumi sebagai sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana sudah dikenal dalam ilmu mustholah.

Sedangkan menurut Yusuf Al Qardhawi, wanita hamil/menyusui boleh berbuka dan membayar fidyah saja (tidak perlu mengqodho’) jika wanita tersebut frekuensi hamilnya berdekatan, sehingga tidak memungkinkan baginya untuk mengqodho’. Ini sebagai bukti kasih sayang Allah kepada kami para bumil dan busui. Tetapi bagi wanita yang jarak kelahiran nya berjauhan (4-5 tahun misalnya), maka tetep wajib mengqodho’ puasanya di lain waktu
sesuai dengan hari yang ditinggalkan seperti dari madzhab imam malik dan syafii.

Hmm.. sepertinya pendapat Yusuf Al Qardhawi ini lebih jelas kondisinya, dan lebih “fair” menurutku.  Tapi aku tetep akan minta pendapat dr.Wid dan Bidan Juju dulu. Supaya lebih adil untuk ku dan untuk Gaza..

Wallahu a’lam..

Filed under: Reviews, , , , ,

Bulan-5

Pekan 20 : Setengah perjalanan

Alhamdulillah, kau sudah berada di setengah jalan menuju kelahiran itu anakku.. Ga berasa ya, waktu berlalu begitu cepat. Mudah-mudahan terus lancar sampai lahiran nanti.

Pekan 21 : Mengajar Gaza

Dari berbagai literatur, katanya Gaza udah mulai punya “jam tidur”. Ku coba ah, membiasakan Gaza untuk tidur di saat kami tidur, dan bangun di saat kami terjaga. Biar ga nyusahin gitu kalo udah lahir.. 😀 Malam itu jam 21.00an, Gaza lagi aktif-aktifnya gerak, muter-muter, tendang-tendang.. Trus aku coba ngomong ke Gaza, “Gaza, udah dulu ya maennya, sekarang kan waktunya istirahat, Bunda dan Ayahnya juga mo istirahat. Gaza tidur ya, besok pagi kita main lagi.. Bismika Allahumma ahya wabismika amuut..”. Dan ajaib!! maksutku, subhanallah..!! Setelah itu Gaza betul-betul diam! Begitu juga tadi pagi, waktu ku bangun, ga lupa bangunin Gaza, kutepuk-tepuk lembut perutku..”Gaza bangun… shubuh dulu yuk, sama Bunda sama Ayah..alhamdulillahiladzi ahyana ba’dama amatana wa ilaihinnusur.. Gaza..udah bangun belum..”, dan kemudian, aku merasakan Gaza rolling-rolling di dalam.. hoho..anak yang pintar dan sholeh. Amiin 😀

Pekan 23 : Kenalan ama bidan Juju

Dapet juga rekomendasi Bidan di Bogor, dari guru ngajinya Mama yang abis lahiran di situ. Katanya sih, bidan senior. Bayangannya, dia itu bakal keibuan, sabar, sayang pasien.. Siang itu, pergi sama Aa untuk kenalan ama Bu bidan, setelah muter-muter dan tanya-tanya di sekitar Jl. Johar, dan harus menunggu beliau pulang sekitar 1 jam-an, ketemu juga lah kita sama Bu Bidan. Dan ternyata, beliau bukan orang yang sabar seperti yang kubayangkan, tapi sabaaar bangeeet.. tutur katanya lemah lembut, kalo dia meminta, pasti diakhiri dengan “bageur” atau “yang”. Padahal untuk hal-hal sepele, kayak “Coba tiduran dulu ya sayang..” atau “Aa nya mau ikutan masuk, bageur?” waah.. jadi simpatik pada pandangan pertama..

Aku bilang, rencana melahirkan memang di Bidan, tetapi udah punya record juga di RSB terdekat, in case butuh penanganan intensif, bisa langsung dirujuk ke sana. Dan emang ya, bidan itu sakti! Bisa tau kondisi bayi hanya dengan indra perabanya. Karena mungkin emang terbiasa tidak pake USG atau alat-alat canggih lainnya. Dan bidan Juju pun yang kemudian ngasih tau kalo ternyata posisi Gaza melintang. Padahal dari hasil USG bulan lalu sebenernya udah ketauan. Cuma mungkin dr. G gak mau bilang, takut bikin khawatir, dan karena posisinya memang belum harus di posisi lahir. Akhirnya aku diajarin cara nungging yang benar dan diminta untuk nungging minimal 8x sehari. Kemudian balik 3 hari lagi, untuk ngecek apakah posisi Gaza sudah benar atau belum..

TD 100/60, BB ku 59 kg.

Filed under: Journal, Parenthink,

Bunda Gaza

Lilypie Breastfeeding tickers

Archives

my read shelf:
Lintang Dwi's book recommendations, favorite quotes, book clubs, book trivia, book lists (read shelf)

Aku dan dia

Kidzsmile Foundation

AIMI Jabar

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 9 other followers

Yang silaturahim

  • 72,203 hits