Keluarga Alamanda

Icon

. cerita bunda . cerita keluarga mahayattika .

Eit.. itu korupsi juga lho..

Semula aku kira itu adalah pamflet promosi jualan pulsa yang ditempel di depan salah satu ruangan kantorku. wikwiw…ternyata sebuah kritikan yang padat, pedas dan pas! Njero.. 😀 Ya, mungkin ini “curahan hati” dari seseorang yang sudah jengkel dengan rekan-rekan lain yang dengan enaknya menggunakan telepon kantor –yang notebene tagihannya dibayar “patungan”– untuk kepentingan pribadi. Apalagi bila dilakukan oleh pegawai instansi pemerintah, yang sumber dananya adalah dari pajak, yang tak lain adalah uang ummat. Mungkin orang-orang itu tidak sadar, bahwa apa yang dilakukannya adalah salah satu bentuk korupsi juga lho.. Ya! walaupun dalam skup dan nominal yang kecil.

Kalau kita mengingat kembali kisah Amiril Mukminin Umar Bin Abdul Azis. Ketika itu beliau menerima tamu untuk urusan pemerintahan. Saat berdiskusi tentang keadaan rakyatnya, Umar menyalakan lilin sebagai penerang. Namun, ketika si tamu merubah topik pembicaraan, bertanya tentang keadaan dirinya, keluarganya, serta merta sang khalifah mematikan lilin dan menyalakan lampu rumahnya.

Umar berkata, “Wahai hamba Allah, lilin yang kumatikan itu adalah harta Allah, harta kaum muslimin. Ketika aku bertanya kepadamu tentang urusan mereka maka lilin itu dinyalakan demi kemaslahatan mereka. Begitu kamu memmebelokkan pembicaraan tentang keluarga dan keadaanku, maka aku pun mematikan lilin milik kaum muslimin.”

Subhanallah.. begitu wara’nya Umar dalam menggunakan fasilitas negara. Rasanya jauuuh sekali dari diri ini yang masih suka nge-print pamflet untuk kegiatan ekstrakantor, fotokopi KTP untuk persyaratan buka rekening, termasuk menggunakan fasilitas internet untuk hal-hal di luar urusan kantor, seperti yang kulakukan saat ini :p Memang tidak perlu nyatut uang triliyunan untuk korupsi. Bila kita mau jujur, bisa jadi sebenarnya kita sering sekali melakukan korupsi-korupsi “kecil” tadi.

Astagfirullah aladzim..

Filed under: Reviews,

Third Dilemma

First of all, allow me to express my dilemma in Bahasa. I need to express it freely ..

Beberapa pekan lalu, di rapat bidang Komputer, akhirnya diputuskan bahwa aku dan salah satu rekan CPNS juga, diamanahkan menjadi Koordinator penelitian untuk anggaran 2009. Whuih..ga pernah terbayang, sebagai anak baru yang belum juga resmi sebagai Peneliti, harus mengkoordinir peneliti lain. Karena memang Ka.Puslit menghendaki demikian, supaya yang baru bisa belajar. Idealnya, Kord.Peneleliti (aka. KaTU) adalah orang yang memiliki ide penelitian tersebut. Tapi berhubung, kami yang baru ini belum ngeh, dan tetap “dipaksa” untuk jadi kordinator, maka jadilah kami berdua meng-akuisisi ide penelitian peneliti senior.

Topik penelitian yang akhirnya diamanahkan padaku :

Rancang Bangun dan Rekayasa Prosesor untuk Komputasi Nano Berbasis “Open Core Field Programmable Gate Arrays(FPGA)

Ups..! apa itu??!

Aku coba mengartikan sendiri dengan terjemahan bebas :

Rancang bangun dan Rekayasa = membuat model

Prosesor untuk komputasi nano = prosesor dengan komputasi yang sangat kecil dan rumit (nano)

Open core FPGA = FPGA yang main programnya bisa didapatkan secara bebas

Haha..ngawur maneh.. Yah..intinya, aku tidak punya pengetahuan mendalam tentang tema itu, dan diminta untuk mengkordinir penelitiannya??

Dan sebagai tugas pertamanya, aku diminta untuk membuat ICP (Idea Concept Proposal), semacam Proposal Penelitian, yang akan diajukan ke kedeputian Teknik. Nanti ICP ini akan diseleksi, apakah sesuai dengan Renstra LIPI, apakah feasible, apakah ada kebermanfaatan yang strategis, dst. Dan dari awal memang topikku ini sudah dijagokan akan lolos seleksi. Karena bidang nano teknologi memang sedang menjadi fokus penelitian LIPI.

Lalu dimana dilemanya??

Ya, pertama, soal mengurus sesuatu yang bukan keahliannya. Masih blank banget. Di baca teorinya juga ga nyampe nalarnya. Sedangkan akulah nanti yang akan bertanggung jawab terhadap pencapaian hasilnya.. Huhuhu.. khawatir banget ga bisa memenuhi.. Dan hanya menghambur-hamburkan uang negara..tapi memang inilah momentnya. Moment aku untuk dipaksa belajar dan mendalami sesuatu. Cuma, kekhawatiran itu begitu besarnya..

Kedua, soal jobdesc KaTU, yang memang akan lebih banyak secara administrasi. Membuat proposal, mempresentasikan, mempertanggungjawabkan di hadapan tim PME (pengawas, monitoring dan evaluasi), dan yang paling “bermasalah” adalah KaTU bertanggungjawab terhadap dana penelitian yang jumlahnya bisa 9 digit! Ini masalah! kenapa? karena sudah bisa dipastikan, bahwa dana penelitian nanti akan memiliki 2 pembukuan, pembukuan keluar yang akan dilaporkan ke negara, dan pembukuan di Puslit. Kenapa bisa begitu? Karena memang tidak semua dana penelitian digunakan untuk penelitian. Melainkan juga digunakan untuk operasional Puslit, seperti Listrik, perbaikan, kegiatan-kegiatan, dll. Sudah menjadi “kesepakatan bersama” bahwa operasional Puslit memang didanai dari dana penelitian. Yaa, mau bagaimana lagi?? Negara tidak memberikan dana khusus untuk pengelolaan puslit. Lalu dana operasional didapat dari mana? Mau tidak mau, ya dari dana penelitian, karena memang itulah yang Puslit bisa “jual”..

Aku ngeri mendengar bahwa kedepannya, aku akan di”paksa” untuk menandatangani kuitansi-kuitansi fiktif, perjalanan-perjalanan yang sama sekali tidak kulakukan, pembelian alat penelitian yang nilainya bisa 10x lebih besar dari nilai sebenarnya, dll. Dan itu semua memang “dilegalkan” sebagai jalan yang bisa dilakukan untuk menghidupi Puslit kami. Memang tidak digunakan untuk keperluan pribadi, memang tetap ada transparansinya dan pembukuan yang “benar” di tingkat Puslit. Dan itu semua memang terpaksa Puslit lakukan. Tapi benarkah itu???

Apa tidak ada cara lain?

Benarkah ini??

Ya Allah, tunjukkan yang haq itu haq, dan beri ku kekuatan untuk melaksanakannya..

Tunjukkan yang bathil itu bathil dan beri ku kekuatan untuk menjauhinya..

Filed under: Uncategorized, ,

Dilema Kedua

Jika seseorang diberikan sebuah kewajiban, maka sudah sewajarnyalah dia mendapatkan haknya. Dan sebaliknya, bila seseorang mendapatkan suatu hak, maka sudah sepatutnya jika ia dimintai pertanggungjawaban atas haknya tersebut berupa kewajiban yang dibebankan kepadanya. Sama saja ya?? Menurutku ini berbeda. Jika dilihat dari segi motivasi beramal. Tapi aku tidak mau membahasnya disini.

Kalau di lingkup kerjaan, kita berhak menerima gaji karena kita telah mengerjakan tugas sesuai dengan deskripsi kerja kita. Dengan sudut pandang lain, kita seharusnya menerima gaji atas karya, waktu, tenaga dan pemikiran yang telah kita berikan kepada perusahaan atau instansi tempat kita bekerja.

Nah, inilah yang menjadi dilema(kedua)ku saat ini. (Bukan masalah besar sih sebenarnya, terutama jika motivasi bekerja karena memang mau beramal, dan secara otomatis kita akan mendapatkan kompensasi karena amal tersebut). Yang jadi masalah adalah, saat ini aku belum diberikan “hak”ku (dan kemungkinan tidak dalam bulan Februari ini 😥 huhuhu).

BadGirl thinking- Puslit sudah mewajibkan kami untuk hadir setiap hari ke kampus (kami menyebut kantor kami dengan sebutan ini :p Hmm, terdengar lebih bersahabat kan?). Selama sebulan ini, kami hadir sesuai ketentuan karyawan, hadir dari Senin-Jumat jam 07.30, istirahat jam 12.00-13.00, dan pulang jam 16.00. Dan hal ini terpantau dari kewajiban untuk njeglok absen pagi dan petang. Termasuk juga kewajiban untuk menghadiri rapat.

Setelah di-briefing oleh ka.Puslit, pada awal kami masuk, kemudian kami diberitahukan tentang perubahan kebijakan (hff..birokrasi lagi), bahwa tidak seperti tahun-tahun sebelumnya, tahun ini Puslit tidak diperkenankan untuk menalangi sementara gaji CPNS yang belum turun. Artinya, CPNS akan menerima gaji setelah SK diterima di tangan. Dan ada kabar lagi bahwa SK tersebut berlaku terhitung saat SK diterima (tidak berlaku surut). Maka waktu itu kaBid membebaskan kami dari kewajiban hadir di kampus (dan tugas-tugas lain) sampai kami menerima SK. Kalaupun kami ingin ke kampus untuk orientasi kerja, pengenalan lingkungan, ya bebas-bebas saja.. Tapi entah kenapa, 2 hari setelah kami “libur”, kami kembali dihubungi untuk meminta hadir sesuai dengan peraturan. “Memang SKnya sudah turun Pak?”,  “Ya..kalian datang saja dulu.”

Memang sih, kemudian kami tidak diberikan beban kerja yang berat. Hanya kewajiban untuk HADIR dan belajar hal-hal dasar saja. Lalu apa yang kami lakukan di kantor? Ya kami tetap sibuk! Sibuk browsing, blogging dan chatting..hehe..Karena bosen juga baca belajar, tapi tidak ada targetan yang jelas..apalagi turunnya SK juga belum jelas :p kan lebih baik aku di rumah saja, tidak keluar biaya makan, kost, dan masih bisa melakukan hal lain..

GoodGirl Thinking – Tapi.. memang aku melakukan semua ini untuk apa?? Hanya untuk beberapa lembaran rupiah panyambung hidup? Rendah sekali! Seharusnya aku bisa memanfaatkan masa-masa “dorman” ini, ketika belum ada tugas yang dibebankan, untuk sebanyak-banyaknya belajar!!

Tugasku saat ini memang hanya BELAJAR! Terutama untuk pengetahuan dan skill dasar yang seharusnya dimiliki oleh seorang sarjana Elektro-ST lulusan Universitas terbaik di negeri mu! “Mensejajarkan kapabilitas dengan title yang disandangnya” inilah wejangan yang diberikan oleh Pak Harry, orang ter-senior di Puslit Inkom- yang dengan sabarnya memberikan kuliah privat orientasi dan motivasi peneliti khusus untukku selama 2 jam berdiri di depan meja resepsionis!

Jadi, siapa yang rugi jika waktuku hanya kuhabiskan untuk chatting, email, blogging?? Padahal ketika SK ku turun nanti, dana DIPA keluar, saat itulah aku akan dituntut habis untuk bisa berkontribusi dalam penelitian. Dan seharusnya tidak ada toleransi lagi atas ketidakpahaman diriku atas sesuatu yang seharusnya merupakan kapasitasku. Sudah siapkah diriku??

 

“Bekerjalah kamu, maka Allah akan melihat pekerjaanmu, begitu juga Rasul dan orang-orang mukmin, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu diberitakanNYA kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan”

QS. At Taubah : 105

Ayo Ndu’.. SEMANGAT BELAJAR!!!

Filed under: Journal, ,

Cuti bersama dihapuskan!

Penghapusan Cuti Bersama Secara Mendadak Tuai Kritik (Detik.com) http://www.detiknews.com/indexfr.php?url=http://www.detiknews.com/index.php/detik.read/tahun/2008/bulan/02/tgl/05/time/151312/idnews/889522/idkanal/10Jakarta

Jakarta – Pemerintah secara mendadak menghapus kebijakan cuti bersama, kecuali cuti bersama Lebaran dan Natal 2008. Cuti bersama jumat 8 Februari juga ikut dihapuskan. Hal ini pun menuai banyak kritik, terutama mereka yang telah memiliki rencana untuk memanfaatkan cuti bersama tersebut…

—-

Aneh memang..

Seharusnya yang ada di dalam benak masing pegawai pemerintahan, yang sejatinya adalah abdi negara, adalah bagaimana bisa sebaik mungkin memberikan pelayanan untuk masyarakat. Ya, minimal sekali (tidak perlu muluk-muluk) adalah dengan menjalankan tugas sesuai dengan deskripsi kerja atau kewajibannya.

Aku sendiri -tidak menafikkan- menyambut gembira adanya cuti bersama 🙂 Toh kan memang udah aturannya begitu. Dan bukan berarti, para abdi negara tersebut jadi “magabut”. Karena kan memang mereka punya hak cuti 12 hari selama setahun. Dan dengan adanya Cuti Bersama, jatah cuti tahunan mereka berkurang. Yang berbeda adalah, mengambil hak cuti tersebut secara bersama-sama. Secara hak tidak melanggar bukan? Jadi jangan di-judge ke perorangan kalau mereka magabut. Yang seharusnya dipertanyakan adalah pembuat kebijakannya, sudah dipertimbangkan belum semua dampaknya?

Tapi ya, memang sebaiknya tidak perlu ada cuti bersama. Karena memang sangat mengganggu bila dikaitkan dengan kewajiban pelayanan publik. Repot juga kalau kebanyakan liburnya, mau ke Puskesmas tutup, perpanjang KTP ga bisa, buat visa ga bisa, dll. Jadi kalau memang berencana akan berlibur ke luar kota dengan memanfaatkan hari “kejepit”, monggo, ambil cuti sendiri. Banyak juga kan yang tidak punya rencana untuk memperpanjang libur, atau mau mengumpulkan cuti untuk pulang kampung ketika lebaran nanti.

Tapi, mbok yao..Ojo ndadak tho..Masa’ H-2 dari cuti bersama baru diputuskan kalau kebijakan cuti bersama dihapus. Kan kasian bagi mereka yang sudah berencana untuk berlibur, bahkan sudah beli tiket seperti aku ini..hiks 😥

Tapi barusan aja aku menghadap kepala Bidangku, beliau sendiri baru tahu kalau ada kebijakan MenPan tentang penghapusan cuti bersama. Alhamdulillah, beliau mengijinkan kami bertiga (semua CPNS di bidang Komputer) untuk tidak masuk hari Jum’at besok. Yippie .. hehe.. (“,)v

 

-cantWaitToDoMyNextJourney..

 

Filed under: Journal, ,

Bunda Gaza

Lilypie Breastfeeding tickers

Archives

my read shelf:
Lintang Dwi's book recommendations, favorite quotes, book clubs, book trivia, book lists (read shelf)

Aku dan dia

Kidzsmile Foundation

AIMI Jabar

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 9 other followers

Yang silaturahim

  • 72,203 hits