Keluarga Alamanda

Icon

. cerita bunda . cerita keluarga mahayattika .

Aa Ngepel??

Pulang kerja kemarin masih dijemput Aa (alhamdulillah, Aa masih di Bandung 2 pekan ini). Capek banget rasanya, badan lemes, perut sebah, mual, pokoknya ga enak banget bawaannya. Tambah males lagi waktu ingat rumah pasti berantakan. Barang-barang berserakan, cucian piring menumpuk.. huuh..aku paling risih kalo rumah berantakan! Begitu sampai di rumah, waktu kubuka pintu depan,hmm…wangiii…

“wah, Aa jadi ngepel ya?”

“Iya dong.. “, ujarnya bangga.

Dan begitu kulihat di kamar, sudah tertumpuk pakaian-pakaian kami selama seminggu ini yang baru diangkat dari jemuran.

“Waah.. jadi nyuci juga??” tanyaku kagum.

“Iya lah..”

Alhamdulillah.. Aa nu bageur pisan.. Capeknya jadi ilang deh..

Terbayang olehku tadi siang Aa, yang dikenal sebagai orang yang berantakan-cuek-garang itu, beberes, nyapu, ngepel-nyuci baju-jemur di depan rumah. Apalagi waktu itu dia lagi pake celana pendekar thifun merah-ijonya dan kaos trainer yang makin membuat “jomplang” tampilan dengan aktifitasnya..hehe…soo suit…**apa kata tetangga ya  **

Memang sejak awal pernikahan kami aku selalu menekankan tentang pembagian pekerjaan domestik. Bahwa, pekerjaan seperti mencuci piring, baju, menyapu, ngepel dan setumpuk pekerjaan lain yang berkaitan dengan manajemen dan maintenance rumah bukan hanya tanggung jawabku sebagai katanya “ibu rumah tangga”, tapi tanggung jawab kita berdua. Ya, bagi-bagi tugas lah. Saling membantu.

Karena menurut teori (ga tau teorinya siapa), salah satu usaha untuk membina rumah tangga yang harmonis adalah dengan berbagi tugas domestik, para suami tidak sungkan untuk ikut terlibat dalam mengurus rumah. Karena memang urusan rumah bukan tugas para istri saja tho?? lagipula, mencuci, beberes rumah, menyapu tidak akan menurunkan wibawa seorang sumai kan? Malah sebaliknya, akan timbul rasa simpatik, karena sang suami mau membantu istrinya. Karena Rosulullah pun mencontohkan dalam kehidupan rumah tangganya. Beliau memasak, menjahit pakaiannya, membersihkan tempat tidurnya sendiri. Nah tuh kan..ga malu sama Rasul?

Selain itu, para istri pun akan merasa dihargai dengan keterlibatan suami dalam pekerjaan rumah tangga, walaupun sedikit dan mungkin tidak sesempurna yang diharapkan :p Otomatis, istri akan makin sayang sama suami. So, untuk para suami..ayo dong, turunkan sedikit egomu, singsihkan lengan bajumu, ikutlah bersama istrimu menjaga istanamu..

Advertisements

Filed under: Ayah, Bunda, Coretan Iseng, , ,

Book Review : Antara Aisyah dan Maisyah

Pengarang : Ahmad Ghozali

Penerbit GIP, 150 hal

Pada awalnya, aku pikir buku yang berisi tentang “persiapan financial menuju pelaminan” ini didedikasikan khusus untuk para ikhwan, yang nyatanya banyak yang ga PD dengan “kantongnya” untuk meminang seorang akhwat. [Deu..emamg meminang akhwat butuh duit berapa sih?]. Ternyata, buku ini seharusnya juga dibaca oleh para akhwat lho!

Buku ini meluruskan standar kesiapan seorang ikhwan untuk menikah, dan besar materi yang harus disiapkan. Ternyata, memang tidak muluk-muluk. Intinya, sebesar apa kemampuan seorang ikhwan untuk dapat menafkahi keluarganya nanti. Dan itu tidak sama dengan harus bekerja tetap (jadi pegawai kantoran) ataupun memiliki tabungan yang jumlahnya sekian. Prinsipnya, tetap berpenghasilan, dan bukan bekerja tetap.

Yang menarik adalah, (karena saya seorang wanita) ternyata mempersiapkan masalah keuangan itu tidak hanya menjadi PR para ikhwan. Karena akhwat pun harus menyiapkan dirinya.

Bagaimana?

Apakah akhwat juga harus punya penghasilan sendiri untuk membantu kehidupan rumah tangga mereka nanti?
Atau sang akhwat harus punya minimal sekian rupiah tabungan?

Bukan..ternyata bukan itu..karena syari’atnya pun mengajarkan, bahwa mencukupi kebutuhan sandang-pangan-papan seorang istri menjadi tanggung jawab penuh sang suami.

Lalu apa?

Ada 2 hal yang harus disiapkan para akhwat berkaitan dengan persiapan financial, pertama, adalah persiapan untuk mengelola keuangannya sendiri. Istri adalah manager of finance, yang akan mengatur pengeluaran-pengeluaran rumah tangganya. Bukan sekadar masalah berapa besarnya uang belanja, tapi juga bagaimana kita menyikapinya. Kalo penghasilan pas-pasan, tapi kita bisa mengalokasikannya secara tepat, gaya hidup bersahaja, maka tidak akan masalah. Percuma saja, jika uang belanja besar, tapi kita tidak cermat mengelolanya, dan gaya hidup konsumtif, maka sebesar apapun uang belanja dari sang suami, tidak akan pernah merasa cukup. Trus berantem deh.. “Papa sih, ngasihnya dikit bener..”; “Mama sih yang boros..” :p

Kedua, adalah kesiapan untuk menghadapi perubahan gaya hidup. Ya, tidak semua akhwat akan menikah dengan ikhwan yang memiliki “standar hidup” yang sama dengan keluarganya dulu. Kalau ikhwan tersebut memiliki “standar hidup” yang lebih tinggi, tentunya akan lebih mudah bagi akhwat untuk menyesuaikan. Yang kerap jadi masalah adalah, ketika akhwat menikah dengan ikhwan yang memiliki “standar hidup” yang lebih rendah, artinya akhwat harus siap dengan perubahan gaya hidupnya. Kalau dulu sebelum menikah ia terbiasa dengan segala fasilitas, makanan enak bergizi, rumah hangat dan nyaman, ga ada tanggung jawab untuk membersihkan rumah, pulsa HP auto-reload, mobil-motor tinggal pakai (ehm..). Ketika menikah nanti harus serba seadanya atau bahkan ga ada apa-apanya.. Siap ga?
Siap ga ya? 🙂

Satu kutipan yang aku suka, yang intinya, saat berkeluarga nanti, bila kenyataan tak sesuai dengan impian, maka sang Suami hendaklah semakin giat untuk ikhtiar menjemput rizki, dan sang Istri pun harus qana’ah (merasa cukup dan bersyukur) dengan berapapun ‘uang belanja’ yang diberikan suami.

Jadi, apakah benar sudah siap menikah?

Hmm..Aisyah dan Maisyah, lalu bagaimana dengan Ijasah?? ^_^

Filed under: Keuangan, Reviews, , , , ,

Bunda Gaza

Lilypie Breastfeeding tickers

Archives

my read shelf:
Lintang Dwi's book recommendations, favorite quotes, book clubs, book trivia, book lists (read shelf)

Aku dan dia

Kidzsmile Foundation

AIMI Jabar

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 9 other followers

Yang silaturahim

  • 75,291 hits